alexametrics
23.3 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

72 Tahun Persibo: Semua Pernah Juara, yang Belum Kasta Tertinggi

Radar Bojonegoro – Persibo sudah berdiri sejak 12 Maret 1949. Namun, perjalanannya tim berjuluk the giant killer baru merasakan kasta tertinggi pada musim 2010/2011. Usai berhasil juara divisi utama musim 2009/2010. Namun, titik balik Persibo diperhitungkan pecinta sepak bola dimulai sejak 2001.

Kala itu, lima pemain putra daerah dikumpulkan berkostum Persibo. Yakni Bambang Pramuji, Abdul Choliq, Pujianto, Supardi, dan Didik Ludianto. Ditemui di rumahnya, Bambang Pramuji mengatakan pada 2001 ketika pulang dari Palembang setelah memperkut klub asal Sumatera. Lalu bergabung Persibo berlaga di Divisi II.

Saat itu, Jawa Timur menjadi zona paling berat. Terdapat beberapa klub kuat. Salah satunya Persid Jember dengan pemain berlabel timnas, seperti Erik Ibrahim, Sudirman dan Kas Hartadi. Meski berada di zona neraka, Persibo mampu lolos dan bertemu klub-klub di Pulau Jawa. Digelar di Kabupaten Sragen dan berhasil menjadi juara grup. Hingga menembus babak final di Stadion Sri Wedari Kabupaten Solo.

Persibo juara tiga Divisi II dan naik ke kasta Divisi I. Baru semusim merasakan atmosfer Divisi I, Persibo kembali turun kasta ke Divisi II. Materi pemain masih didominasi pemain lama. Babak baru dilakoni Persibo. Pada 2004 Persibo kembali ke Divisi I sebagai juara Divisi II. “Pelatihnya Sanusi Rahman dengan pemain lokal,’’ ujar Bambang.

Baca Juga :  Tempat Karaoke Ilegal Marak saat Pandemi

Darah jawara ternyata melekat Persibo. Pada 2007, Persibo juara satu Divisi I dan memastikan promosi Divisi Utama. Fanatisme suporter semakin meledak-ledak. Suporter semakin beragam dan membanjiri stadion kala Persibo bertanding. Gen jawara kembali dibuktikan. Persisnya pada 2009-2010 Persibo juara satu Divisi Utama. Dan memastikan promosi ke Liga Super Indonesia.

Aris Tuansyah mantan pemain Persibo mengatakan, juara satu Divisi Utama pada 2009/2010 menjadi momen paling berkesan. Banyak suporter berangkat tret-tettet ke Solo saat laga final. Bojonegoro jadi sepi. Saat itu, mengalahkan Deltras Sidoarjo di laga final melalui babak adu penalti.

Aris menjelaskan Persibo sebenarnya tidak diunggulkan lolos ke Liga Super Indonesia atau bahkan menjadi Juara Satu Divisi Utama. Namun perjuangan skuat dilatih Sartono Anwar ternyata membuahkan hasil. Latihan berat. Sore fisik dilakoni ketika puasa Ramadan. Latihan setelah Salat Tarawih hingga tengah malam. Dilanjut materi kelas malam.

Novan Setya, salah satu pemain Persibo kala itu menceritakan masih cukup ingat momen perjalanan jawara Divisi Utama. Bermula tim tak diunggulkan, berkutat papan tengah hingga bawah. Namun, memasuki putaran kedua, Persibo mulai bangkit. Kerap menorehkan tiga poin. Baik laga kandang maupun tandang.

Baca Juga :  Kredit Fiktif, Mantri Bobol BRI Rp 1,56 M

Babak delapan besar, menurut Novan, Persibo berada satu grup dengan Deltras Sidoarjo, Persidafon, dan Persipasi Bekasi. Persibo menembus semifinal dan mengalahkan Persiram Raja Ampat. Partai final berjumpa kembali dengan Deltras. Dan akhirnya berhasil memenagkan drama adu penalti, juara divisi utama, dan melenggang ke kasta tertinggi liga Indonesia.

‘’Waktu itu suporter banyak yang datang, Semifinal maupun final hampir memenuhi tribun VIP dan melingkar tribun utara hingga ke timur,” tuturnya.

Momen paling menegangkan ketika drama adu penalti berlangsung. Ketika berakhir kemenangan. Persibo sejak awal tidak diunggulkan, namun bisa menjadi juara. Euforianya pun masih berlanjut keesokan harinya. ‘’Kami diarak dan disambut di Bojonegoro,” kenangnya.

Gen juara belum berhenti. Persibo menjuarai Piala Indonesia 2012. Bemain di Stadion Sultan Agung Bantul menaklukkan Semen Padang dengan skor 1-0. Saat itu Persibo dipimpin pelatih Paulo Camargo. Dan diperkuat oleh Samsul Arif dan Makan Nasirof. (irv) 

Radar Bojonegoro – Persibo sudah berdiri sejak 12 Maret 1949. Namun, perjalanannya tim berjuluk the giant killer baru merasakan kasta tertinggi pada musim 2010/2011. Usai berhasil juara divisi utama musim 2009/2010. Namun, titik balik Persibo diperhitungkan pecinta sepak bola dimulai sejak 2001.

Kala itu, lima pemain putra daerah dikumpulkan berkostum Persibo. Yakni Bambang Pramuji, Abdul Choliq, Pujianto, Supardi, dan Didik Ludianto. Ditemui di rumahnya, Bambang Pramuji mengatakan pada 2001 ketika pulang dari Palembang setelah memperkut klub asal Sumatera. Lalu bergabung Persibo berlaga di Divisi II.

Saat itu, Jawa Timur menjadi zona paling berat. Terdapat beberapa klub kuat. Salah satunya Persid Jember dengan pemain berlabel timnas, seperti Erik Ibrahim, Sudirman dan Kas Hartadi. Meski berada di zona neraka, Persibo mampu lolos dan bertemu klub-klub di Pulau Jawa. Digelar di Kabupaten Sragen dan berhasil menjadi juara grup. Hingga menembus babak final di Stadion Sri Wedari Kabupaten Solo.

Persibo juara tiga Divisi II dan naik ke kasta Divisi I. Baru semusim merasakan atmosfer Divisi I, Persibo kembali turun kasta ke Divisi II. Materi pemain masih didominasi pemain lama. Babak baru dilakoni Persibo. Pada 2004 Persibo kembali ke Divisi I sebagai juara Divisi II. “Pelatihnya Sanusi Rahman dengan pemain lokal,’’ ujar Bambang.

Baca Juga :  Sopir Ngantuk, Truk Tangki Tabrak Mobil-Tiga Motor

Darah jawara ternyata melekat Persibo. Pada 2007, Persibo juara satu Divisi I dan memastikan promosi Divisi Utama. Fanatisme suporter semakin meledak-ledak. Suporter semakin beragam dan membanjiri stadion kala Persibo bertanding. Gen jawara kembali dibuktikan. Persisnya pada 2009-2010 Persibo juara satu Divisi Utama. Dan memastikan promosi ke Liga Super Indonesia.

Aris Tuansyah mantan pemain Persibo mengatakan, juara satu Divisi Utama pada 2009/2010 menjadi momen paling berkesan. Banyak suporter berangkat tret-tettet ke Solo saat laga final. Bojonegoro jadi sepi. Saat itu, mengalahkan Deltras Sidoarjo di laga final melalui babak adu penalti.

Aris menjelaskan Persibo sebenarnya tidak diunggulkan lolos ke Liga Super Indonesia atau bahkan menjadi Juara Satu Divisi Utama. Namun perjuangan skuat dilatih Sartono Anwar ternyata membuahkan hasil. Latihan berat. Sore fisik dilakoni ketika puasa Ramadan. Latihan setelah Salat Tarawih hingga tengah malam. Dilanjut materi kelas malam.

Novan Setya, salah satu pemain Persibo kala itu menceritakan masih cukup ingat momen perjalanan jawara Divisi Utama. Bermula tim tak diunggulkan, berkutat papan tengah hingga bawah. Namun, memasuki putaran kedua, Persibo mulai bangkit. Kerap menorehkan tiga poin. Baik laga kandang maupun tandang.

Baca Juga :  12 Petugas KPPS Terdata Sakit

Babak delapan besar, menurut Novan, Persibo berada satu grup dengan Deltras Sidoarjo, Persidafon, dan Persipasi Bekasi. Persibo menembus semifinal dan mengalahkan Persiram Raja Ampat. Partai final berjumpa kembali dengan Deltras. Dan akhirnya berhasil memenagkan drama adu penalti, juara divisi utama, dan melenggang ke kasta tertinggi liga Indonesia.

‘’Waktu itu suporter banyak yang datang, Semifinal maupun final hampir memenuhi tribun VIP dan melingkar tribun utara hingga ke timur,” tuturnya.

Momen paling menegangkan ketika drama adu penalti berlangsung. Ketika berakhir kemenangan. Persibo sejak awal tidak diunggulkan, namun bisa menjadi juara. Euforianya pun masih berlanjut keesokan harinya. ‘’Kami diarak dan disambut di Bojonegoro,” kenangnya.

Gen juara belum berhenti. Persibo menjuarai Piala Indonesia 2012. Bemain di Stadion Sultan Agung Bantul menaklukkan Semen Padang dengan skor 1-0. Saat itu Persibo dipimpin pelatih Paulo Camargo. Dan diperkuat oleh Samsul Arif dan Makan Nasirof. (irv) 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/