alexametrics
26.2 C
Bojonegoro
Saturday, May 28, 2022

Pendidikan Tinggi Versus Pengalaman

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Persaingan pilkades serentak 16 desa di Kecamatan Kedungadem, ternyata juga ketat. Terdapat 41 calon kepala desa (cakades) dari berbagai background pendidikan. Namun, cakades ternyata didominasi tamatan jenjang SMA sederajat. 

Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Bojonegoro, rincian tamatan pendidikan para cakades di Kedungadem meliputi SMP dua orang, SMA ada 24 cakades. Juga, lulusan diploma tiga (D-3) ada satu, strata satu (S-1) ada 13 cakades, dan S-2 satu orang.

Menanggapi kondisi ini, anggota DPRD Bojonegoro Sutikno mengatakan seorang kepala desa (kades) sedianya harus mumpuni dalam dua aspek. Yakni pendidikan dan pengalaman bermasyarakat.

Terkait pendidikan, umumnya lulusan jenjang SMA masih mendominasi. Meski lulusan sarjana jumlahnya belasan, hal seperti ini diharap bisa bertambah lagi di masa depan. “Karena secara teoritis background pendidikan tetap berpengaruh pada kinerja kades,” kata anggota DPRD asal Kecamatan Kedungadem tersebut.

Menurut dia, hal tersebut erat kaitannya dengan sumber daya manusia (SDM) dan intelektual. Semakin tinggi kualifikasi akademisnya, akan semakin luas pula wawasannya. Sehingga menurutnya cakades dengan pendidikan tinggi perlu diutamakan.

“Tapi jika ada yang tamatan jenjang SMP, juga tidak masalah asalkan tidak melanggar aturan,” ujar pria menjabat sebagai ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Bojonegoro itu.

Baca Juga :  Avanza v Truk Boks, Tujuh Kritis

Menurut dia, peran dan kapasitas kades cukup krusial. Apalagi mengemban gelontoran dana miliaran dan merupakan kepanjangan tangan program dari pemerintah daerah. Tentu kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat.

“Masyarakat di pedesaan menjadi elemen penting yang membuat sebuah daerah bisa dikatakan maju dan makmur,” ujar politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Namun ia tak memungkiri tingginya tamatan pendidikan juga belum menjamin maksimalnya kinerja kades. Pengalaman bermasyarakat juga dibutuhkan. Karena, menurut Sutikno, kades akan memimpin masyarakat dengan berbagai macam karakter dan background pendidikan.

“Kedua aspek tersebut harus bersinergi. Insyaallah kinerja kades akan bagus. Sosok yang terbuka dan mampu meramu kebijakan yang tepat di daerahnya,” jelasnya.

Sementara itu, Camat Kedungadem Arwan belum bisa dikonfirmasi. Saat ditemui di kantornya kemarin siang, tidak ada di kantor kecamatan. Pesan pendek yang dikirim juga belum dibalas. 

Kapolsek Kedungadem AKP Agus El Fauzi mengatakan, tahun ini yang menggelar pilkades cukup banyak. Ada 16 desa. Karena itu pihaknya bakal berupaya ekstra untuk mengawasi agar berjalan tentram, aman, dan damai.

Baca Juga :  Penampilan Nomor Satu Suka Gini-Gini

“Kita sudah persiapkan upaya-upaya preventif. Jika terindikasi ada sedikit gesekan, seketika kita tangani (didamaikan),” tegasnya.

Pemetaan titik rawan juga telah dilakukan. Desa yang rentan telah dikantongi dan ditangani. Seperti yang telah dilakukan di Desa Dayukidul dan Desa Megale. Pihaknya mempertemukan para cakades dan pendukung.

“Kita ajak komunikasi, membuat perjanjian dan pakta intregitas sama-sama menyukseskan pilkades yang aman tentram,” ujarnya.

Selain itu dia juga mencontohkan jalannya kampanye di Desa Tondomulo kemarin (11/2). Terdapat dua cakades. Antara petahana dengan wajah baru. Sama-sama memiliki massa yang banyak dan berlangsung ramai.

Meski berjalan riuh dan ramai, menurut Kapolsek, massa dari dua cakades masih bisa tertib dan menaati imbauan. Sehingga jalannya kampanye terbilang cukup kondusif. Hal yang sama juga terjadi di dua desa lain.

“Selain Desa Tondomulo, hari ini (kemarin) Desa Mlideg dan Desa Kedungrejo juga menggelar kampanye,” imbuh dia.

Semakin mendekati masa pemilihan, ia kembali mengingatkan agar para cakades bisa mengendalikan pendukungnya. Sebab, cakades memegang kemudi. Antara kondusif atau tidaknya pendukung.

“Sebaliknya pendukung juga begitu,” ucapnya.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Persaingan pilkades serentak 16 desa di Kecamatan Kedungadem, ternyata juga ketat. Terdapat 41 calon kepala desa (cakades) dari berbagai background pendidikan. Namun, cakades ternyata didominasi tamatan jenjang SMA sederajat. 

Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Bojonegoro, rincian tamatan pendidikan para cakades di Kedungadem meliputi SMP dua orang, SMA ada 24 cakades. Juga, lulusan diploma tiga (D-3) ada satu, strata satu (S-1) ada 13 cakades, dan S-2 satu orang.

Menanggapi kondisi ini, anggota DPRD Bojonegoro Sutikno mengatakan seorang kepala desa (kades) sedianya harus mumpuni dalam dua aspek. Yakni pendidikan dan pengalaman bermasyarakat.

Terkait pendidikan, umumnya lulusan jenjang SMA masih mendominasi. Meski lulusan sarjana jumlahnya belasan, hal seperti ini diharap bisa bertambah lagi di masa depan. “Karena secara teoritis background pendidikan tetap berpengaruh pada kinerja kades,” kata anggota DPRD asal Kecamatan Kedungadem tersebut.

Menurut dia, hal tersebut erat kaitannya dengan sumber daya manusia (SDM) dan intelektual. Semakin tinggi kualifikasi akademisnya, akan semakin luas pula wawasannya. Sehingga menurutnya cakades dengan pendidikan tinggi perlu diutamakan.

“Tapi jika ada yang tamatan jenjang SMP, juga tidak masalah asalkan tidak melanggar aturan,” ujar pria menjabat sebagai ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Bojonegoro itu.

Baca Juga :  Tryout PBT & CBT Online : Kemenag Siap Kerjasama

Menurut dia, peran dan kapasitas kades cukup krusial. Apalagi mengemban gelontoran dana miliaran dan merupakan kepanjangan tangan program dari pemerintah daerah. Tentu kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat.

“Masyarakat di pedesaan menjadi elemen penting yang membuat sebuah daerah bisa dikatakan maju dan makmur,” ujar politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Namun ia tak memungkiri tingginya tamatan pendidikan juga belum menjamin maksimalnya kinerja kades. Pengalaman bermasyarakat juga dibutuhkan. Karena, menurut Sutikno, kades akan memimpin masyarakat dengan berbagai macam karakter dan background pendidikan.

“Kedua aspek tersebut harus bersinergi. Insyaallah kinerja kades akan bagus. Sosok yang terbuka dan mampu meramu kebijakan yang tepat di daerahnya,” jelasnya.

Sementara itu, Camat Kedungadem Arwan belum bisa dikonfirmasi. Saat ditemui di kantornya kemarin siang, tidak ada di kantor kecamatan. Pesan pendek yang dikirim juga belum dibalas. 

Kapolsek Kedungadem AKP Agus El Fauzi mengatakan, tahun ini yang menggelar pilkades cukup banyak. Ada 16 desa. Karena itu pihaknya bakal berupaya ekstra untuk mengawasi agar berjalan tentram, aman, dan damai.

Baca Juga :  UMM Raih Predikat Kampus Bintang Tiga Dunia

“Kita sudah persiapkan upaya-upaya preventif. Jika terindikasi ada sedikit gesekan, seketika kita tangani (didamaikan),” tegasnya.

Pemetaan titik rawan juga telah dilakukan. Desa yang rentan telah dikantongi dan ditangani. Seperti yang telah dilakukan di Desa Dayukidul dan Desa Megale. Pihaknya mempertemukan para cakades dan pendukung.

“Kita ajak komunikasi, membuat perjanjian dan pakta intregitas sama-sama menyukseskan pilkades yang aman tentram,” ujarnya.

Selain itu dia juga mencontohkan jalannya kampanye di Desa Tondomulo kemarin (11/2). Terdapat dua cakades. Antara petahana dengan wajah baru. Sama-sama memiliki massa yang banyak dan berlangsung ramai.

Meski berjalan riuh dan ramai, menurut Kapolsek, massa dari dua cakades masih bisa tertib dan menaati imbauan. Sehingga jalannya kampanye terbilang cukup kondusif. Hal yang sama juga terjadi di dua desa lain.

“Selain Desa Tondomulo, hari ini (kemarin) Desa Mlideg dan Desa Kedungrejo juga menggelar kampanye,” imbuh dia.

Semakin mendekati masa pemilihan, ia kembali mengingatkan agar para cakades bisa mengendalikan pendukungnya. Sebab, cakades memegang kemudi. Antara kondusif atau tidaknya pendukung.

“Sebaliknya pendukung juga begitu,” ucapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/