alexametrics
24.5 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Bikin Elus Dada, Harga Beras Naik Melebihi HET

KOTA – Harga beras di Lamongan melonjak. Lonjakan harga berlangsung sejak libur natal dan tahun baru tahun lalu. Kenaikan harganya mencapai Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kilogram (kg). ‘’Kenaikan harga beras sejak libur panjang tahun lalu (libur natal dan tahun baru),’’ kata seorang pedagang beras Lamongan, Mansyur kemarin (11/1).

Menurut dia, kenaikannya bertahap. Sekitar Rp 200 per kg per minggu. Sehingga kenaikannya mencapai Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kg hingga kemarin (11/1).

Beras kualitas medium sebelumnya Rp 9.000 per kg naik menjadi Rp 10 ribu per kg.

‘’Kenaikan itu sudah melebihi harga ecer tertinggi (HET) pemerintah sebesar Rp 9.450 per kg,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Melihat Persiapan Menyambut Nyepi di Desa Balun Tahun Ini

Sedangkan beras dengan kualitas rendah (campuran subsidi), tambah dia, tidak beredar.

Sebab beras sejahtera (rastra), yakni beras subsidi untuk warga tidak mampu, belum keluar. 

Menurut Mansyur, kenaikan harga beras ini menyeluruh untuk semua jenis, baik medium atau premium.

Kenaikan itu disebabkan petani baru memasuki musim tanam sehingga ketersediaannya terbatas.

Sedangkan  panen raya diprediksi terjadi akhir Februari hingga Maret mendatang. Ditambah dengan semakin menyempitnya lahan pertanian.

“(Karena itu) harga beras tidak mungkin bisa turun. Sebab ketersediaannya menipis, sehingga mengandalkan kiriman luar daerah,” jelasnya. 

Dia menambahkan, kenaikan harga tersebut membuat daya beli masyarakat semakin menurun. Sehingga kebutuhan beras ikut turun. 

“Harga (beras) terus naik, tapi kebutuhan justru turun. Apalagi semakin banyaknya kompetitor,’’ ujarnya. 

Baca Juga :  Konsumen Peralatan Mendaki Tumbuh

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan, M Zamroni menilai, kenaikan harga beras di Lamongan masih wajar.

Karena pemerintah sudah melakukan operasi pasar sebagai upaya pengendalian harga.

“Naik sekitar Rp 200 per kg. Naik segitu kan wajar, karena masih musim tanam, jadi produksinya turun,” ujarnya. 

Zamroni menuturkan, selagi kenaikan masih wajar, pemerintah tidak akan mengambil peran.

Sebab pasokan beras ada rantai perdagangannya. Penjual akan memikirkan keuntungan.

Tapi jika kenaikannya sudah melebihi ketetapan pemerintah, disperindag akan menggandeng pihak terkait untuk melakukan operasi pasar.

‘’Cadangan beras pemerintah (CBP) masih cukup hingga lima bulan ke depan,’’ tukasnya.

KOTA – Harga beras di Lamongan melonjak. Lonjakan harga berlangsung sejak libur natal dan tahun baru tahun lalu. Kenaikan harganya mencapai Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kilogram (kg). ‘’Kenaikan harga beras sejak libur panjang tahun lalu (libur natal dan tahun baru),’’ kata seorang pedagang beras Lamongan, Mansyur kemarin (11/1).

Menurut dia, kenaikannya bertahap. Sekitar Rp 200 per kg per minggu. Sehingga kenaikannya mencapai Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kg hingga kemarin (11/1).

Beras kualitas medium sebelumnya Rp 9.000 per kg naik menjadi Rp 10 ribu per kg.

‘’Kenaikan itu sudah melebihi harga ecer tertinggi (HET) pemerintah sebesar Rp 9.450 per kg,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Manajemen Persela Lamongan: Gelar Seleksi Internal Dulu

Sedangkan beras dengan kualitas rendah (campuran subsidi), tambah dia, tidak beredar.

Sebab beras sejahtera (rastra), yakni beras subsidi untuk warga tidak mampu, belum keluar. 

Menurut Mansyur, kenaikan harga beras ini menyeluruh untuk semua jenis, baik medium atau premium.

Kenaikan itu disebabkan petani baru memasuki musim tanam sehingga ketersediaannya terbatas.

Sedangkan  panen raya diprediksi terjadi akhir Februari hingga Maret mendatang. Ditambah dengan semakin menyempitnya lahan pertanian.

“(Karena itu) harga beras tidak mungkin bisa turun. Sebab ketersediaannya menipis, sehingga mengandalkan kiriman luar daerah,” jelasnya. 

Dia menambahkan, kenaikan harga tersebut membuat daya beli masyarakat semakin menurun. Sehingga kebutuhan beras ikut turun. 

“Harga (beras) terus naik, tapi kebutuhan justru turun. Apalagi semakin banyaknya kompetitor,’’ ujarnya. 

Baca Juga :  Tengkulak Batasi Pembelian Cabai

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan, M Zamroni menilai, kenaikan harga beras di Lamongan masih wajar.

Karena pemerintah sudah melakukan operasi pasar sebagai upaya pengendalian harga.

“Naik sekitar Rp 200 per kg. Naik segitu kan wajar, karena masih musim tanam, jadi produksinya turun,” ujarnya. 

Zamroni menuturkan, selagi kenaikan masih wajar, pemerintah tidak akan mengambil peran.

Sebab pasokan beras ada rantai perdagangannya. Penjual akan memikirkan keuntungan.

Tapi jika kenaikannya sudah melebihi ketetapan pemerintah, disperindag akan menggandeng pihak terkait untuk melakukan operasi pasar.

‘’Cadangan beras pemerintah (CBP) masih cukup hingga lima bulan ke depan,’’ tukasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/