alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Berkat Hobi Membawa Krayon, Roro Koleksi Puluhan Trofi Lomba Mewarnai

Baru berusia 6,5 tahun, Roro Ayu Owie Janitra sudah mengoleksi medali lomba mewarnai. Ada 48 piala sudah dikantongi. Padahal, orang tua tak memiliki bakat seni.

——————————————-

BHAGAS DANI PURWOKO, Bojonegoro

——————————————-

SIAPA pun pasti bangga melihat prestasi ditorehkan Roro Ayu Owie Janitra ini. Siswi SD asal Desa Ngujo, Kecamatan Kalitidu, ini sudah mengoleksi beragam piala dan medali. Ketika dikunjungi di rumahnya, dia melihatkan meja penuh dengan piala penghargaan.

Sosok siswi cilik ini terlihat aktif. Suka bermain di luar rumah. Masih mengenakn seragam sekolahnya, bocah cilik itu mondar-mandir ruang tengah dan tamu rumahnya. Rasa percaya diri dan murah senyum terpancar dari raut wajah Neo, sapaan akrabnya. 

Tingkah lucunya menggemaskan, apalagi ketika tersenyum gigi mungilnya terlihat gigis. Sambil didampingi ayahnya, Moh. Rowi, Neo sibuk menunjukkan karyanya berupa lembar demi lembar hasil ikut lomba mewarnai.

Owie panggilan akrab ayahnya ini pun bercerita awal mula Neo mengumpulkan banyak trofi dari berbagai lomba. Dia sendiri heran pencapaian anak semata wayangnya itu. Padahal, dia dan istrinya, Nawang, tidak memiliki sama sekali bakat bidang seni. 

Tentu, menurut dia, keberadaan Neo seperti memperoleh berkah tersendiri dari tuhan. ‘’Saya dan istri saya saja tidak punya satu pun trofi. Sehingga kami pun kaget sekaligus bersyukur atas prestasi Neo,” tuturnya.

Baca Juga :  Pastikan Temuannya Selalu Baru dan Original 

Kata dia, Neo saat ini masih berusia 6,5 tahun dan sudah hobi mewarnai sejak kecil, tepatnya usia tiga tahun. Semua berawal dari otodidak, tidak ada paksaan agar Neo suka mewarnai. “Rasa suka terhadap mewarnai muncul dengan sendirinya dari pribadinya. Kami hanya memantau dan memfasilitasi,” ucapnya.

Melihat hobi dan semangat Neo ikut lomba, Owie pun mengikutkan masuk di salah satu sanggar milik Nurcholis di wilayah Banjarejo, Bojonegoro. ‘’Namun di sanggar tak lama, hanya 1,5 bulan,” katanya. 

Selain itu, kerap bertamu dan belajar bersama Pak Pin pengelola sanggar Line Art Bojonegoro (LAB) di Kecamatan Kalitidu. ‘’Kami tetap menghormati seniman senior, Neo kerap diarahkan untuk menggambar realis,” tuturnya.

Dari ratusan lomba mewarnai yang diikuti, Neo sudah mengoleksi 48 trofi. Dan, didominasi juara satu. Awalnya, mental Neo belum terbentuk, sehingga apabila gagal juara 1 saat mengikuti lomba, dia pasti merengek kecewa lalu menangis. 

Lambat laun berbagai lomba dia ikuti, akhirnya Neo menjadi sosok bocah memahami arena kompetisi. Menang dan kalah kini dianggap biasa. ‘’Neo lebih lapang dada ketika ikut lomba, jadi saat berlomba dia have fun dan menyelesaikannya dengan nothing to lose. Namun, tetap berusaha semaksimal mungkin,” jelasnya. 

Baca Juga :  Sabet Dua Penghargaan Indonesia’s Attractiveness Award

Ada salah satu pengalaman unik ketika Neo bersama orang tuanya sekaligus kakek nenek berniat jalan-jalan di salah satu mall Surabaya. Tak disangka, di mall tersebut ada salah satu produk sponsor mengadakan lomba mewarnai. Tanpa pikir panjang, ucap dia, Neo pun didaftarkan ikut lomba dan bisa menjadi juara satu. 

‘’Neo itu ke mana-mana pasti membawa krayon. Jadi mumpung ada kesempatan ikut ya langsung daftar, eh ternyata iseng ikut dapat juara 1,” terangnya.

Owie menegaskan tidak ada tuntutan untuk Neo harus selalu mengikuti lomba mewarnai. Tujuan utamanya bukan juara, namun implikasi dari kreativitas dan perkembangan anak. “Terbukti otak kiri Neo itu sangat bagus, di sekolahnya dia juga juara 1 lomba bahasa Inggris dan lomba komputer,” ujarnya. 

Biar bagaimanapun juara itu hanya bonus dari hasil jerih payahnya menekuni hobi yang dipilih. “Bahkan, dari hobinya itu, Neo sudah memiliki tabungan sendiri Rp 10 juta. Jadi sebagai orang tua kami hanya memantau,” ungkapnya. 

Toh, kegiatan Neo itu dibuat santai, jadi sambil ikut lomba juga sekaligus liburan. “Lomba-lomba kan tempatnya berbeda-beda, setidaknya mudah dijangkau, seperti Surabaya, Blora, Tuban, dan sekitarnya,” jelasnya.

Baru berusia 6,5 tahun, Roro Ayu Owie Janitra sudah mengoleksi medali lomba mewarnai. Ada 48 piala sudah dikantongi. Padahal, orang tua tak memiliki bakat seni.

——————————————-

BHAGAS DANI PURWOKO, Bojonegoro

——————————————-

SIAPA pun pasti bangga melihat prestasi ditorehkan Roro Ayu Owie Janitra ini. Siswi SD asal Desa Ngujo, Kecamatan Kalitidu, ini sudah mengoleksi beragam piala dan medali. Ketika dikunjungi di rumahnya, dia melihatkan meja penuh dengan piala penghargaan.

Sosok siswi cilik ini terlihat aktif. Suka bermain di luar rumah. Masih mengenakn seragam sekolahnya, bocah cilik itu mondar-mandir ruang tengah dan tamu rumahnya. Rasa percaya diri dan murah senyum terpancar dari raut wajah Neo, sapaan akrabnya. 

Tingkah lucunya menggemaskan, apalagi ketika tersenyum gigi mungilnya terlihat gigis. Sambil didampingi ayahnya, Moh. Rowi, Neo sibuk menunjukkan karyanya berupa lembar demi lembar hasil ikut lomba mewarnai.

Owie panggilan akrab ayahnya ini pun bercerita awal mula Neo mengumpulkan banyak trofi dari berbagai lomba. Dia sendiri heran pencapaian anak semata wayangnya itu. Padahal, dia dan istrinya, Nawang, tidak memiliki sama sekali bakat bidang seni. 

Tentu, menurut dia, keberadaan Neo seperti memperoleh berkah tersendiri dari tuhan. ‘’Saya dan istri saya saja tidak punya satu pun trofi. Sehingga kami pun kaget sekaligus bersyukur atas prestasi Neo,” tuturnya.

Baca Juga :  Lupa Matikan Obat Nyamuk, Rumah Terbakar

Kata dia, Neo saat ini masih berusia 6,5 tahun dan sudah hobi mewarnai sejak kecil, tepatnya usia tiga tahun. Semua berawal dari otodidak, tidak ada paksaan agar Neo suka mewarnai. “Rasa suka terhadap mewarnai muncul dengan sendirinya dari pribadinya. Kami hanya memantau dan memfasilitasi,” ucapnya.

Melihat hobi dan semangat Neo ikut lomba, Owie pun mengikutkan masuk di salah satu sanggar milik Nurcholis di wilayah Banjarejo, Bojonegoro. ‘’Namun di sanggar tak lama, hanya 1,5 bulan,” katanya. 

Selain itu, kerap bertamu dan belajar bersama Pak Pin pengelola sanggar Line Art Bojonegoro (LAB) di Kecamatan Kalitidu. ‘’Kami tetap menghormati seniman senior, Neo kerap diarahkan untuk menggambar realis,” tuturnya.

Dari ratusan lomba mewarnai yang diikuti, Neo sudah mengoleksi 48 trofi. Dan, didominasi juara satu. Awalnya, mental Neo belum terbentuk, sehingga apabila gagal juara 1 saat mengikuti lomba, dia pasti merengek kecewa lalu menangis. 

Lambat laun berbagai lomba dia ikuti, akhirnya Neo menjadi sosok bocah memahami arena kompetisi. Menang dan kalah kini dianggap biasa. ‘’Neo lebih lapang dada ketika ikut lomba, jadi saat berlomba dia have fun dan menyelesaikannya dengan nothing to lose. Namun, tetap berusaha semaksimal mungkin,” jelasnya. 

Baca Juga :  Ketika Pameran Menjadi Media Ikhtiar bagi Seniman Lukis

Ada salah satu pengalaman unik ketika Neo bersama orang tuanya sekaligus kakek nenek berniat jalan-jalan di salah satu mall Surabaya. Tak disangka, di mall tersebut ada salah satu produk sponsor mengadakan lomba mewarnai. Tanpa pikir panjang, ucap dia, Neo pun didaftarkan ikut lomba dan bisa menjadi juara satu. 

‘’Neo itu ke mana-mana pasti membawa krayon. Jadi mumpung ada kesempatan ikut ya langsung daftar, eh ternyata iseng ikut dapat juara 1,” terangnya.

Owie menegaskan tidak ada tuntutan untuk Neo harus selalu mengikuti lomba mewarnai. Tujuan utamanya bukan juara, namun implikasi dari kreativitas dan perkembangan anak. “Terbukti otak kiri Neo itu sangat bagus, di sekolahnya dia juga juara 1 lomba bahasa Inggris dan lomba komputer,” ujarnya. 

Biar bagaimanapun juara itu hanya bonus dari hasil jerih payahnya menekuni hobi yang dipilih. “Bahkan, dari hobinya itu, Neo sudah memiliki tabungan sendiri Rp 10 juta. Jadi sebagai orang tua kami hanya memantau,” ungkapnya. 

Toh, kegiatan Neo itu dibuat santai, jadi sambil ikut lomba juga sekaligus liburan. “Lomba-lomba kan tempatnya berbeda-beda, setidaknya mudah dijangkau, seperti Surabaya, Blora, Tuban, dan sekitarnya,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/