alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Awas, Investasi Koperasi Abal – Abal 

BABAT – Modus penipuan kian beragam. Salah satunya, tawaran investasi koperasi yang menggiurkan. Heni Kurnia Ningsih, warga Kecamatan Babat menjadi salah satu korbannya. Dia kemarin (11/1) melaporkan Tika Hartika ke Mapolres Lamongan.

Tuduhannya, melakukan penipuan Rp 126 juta dengan investasi Koperasi Mohammad Sholeh di Jember.

Pelapor tertarik investasi tersebut karena keuntungannya dijanjikan 20 persen dari nilai uang yang ditanamkan.

Heni terlalu percaya dengan Tika. Sejak November lalu, dia menurut ketika diminta mentransfer uang dengan besaran bervariatif di tiga bank berbeda.

Dia menceritakan, Tika merupakan teman lamanya semasa kuliah di Malang. Heni berkomunikasi dengan terlapor pada November.

Dari obrolan itu, terlapor mengaku telah sukses bekerja di koperasi.

Tika kemudian menawarkan investasi koperasi yang berada di Jember disertai penjelasan tentang keuntungannya. 

‘’Awalnya ngobrol biasa, kan teman lama, tapi dia mengajak untuk investasi di koperasi tempatnya bekerja,’’ imbuhnya. 

Tertarik ajakan itu, Heni lalu dimasukkan ke grup WhatsApp Koperasi Mohammad Sholeh.

Bahkan, Tika juga memberikan alamat website tersebut agar Heni mengetahui keunggulan koperasi tersebut.  

‘’Saat itu saya percaya soalnya di grup itu ada orang-orang yang juga ikut investasi koperasi itu,’’ tutur perempuan berkerudung tersebut. 

Selain itu, Heni pernah ditelepon seorang laki – laki yang mengaku bernama Mohammad Sholeh.

Laki – laki itu mengaku sebagai pemilik koperasi yang direkomendasikan Tika tersebut. 

Telepon itu membuat Heni percaya bahwa koperasi tersebut benar – benar ada serta mampu memberikan keuntungan besar kepadanya. 

Baca Juga :  Tanpa Ada yang Menumpang

‘’Ngobrolnya enak gitu, jadi saya ya langsung percaya saja,’’ imbuhnya.

Setelah itu, Heni berkomunikasi dengan Tika lagi. Dia awalnya diminta mentransfer Rp 1,3 juta.

Selama dua bulan, terlapor terus menghubungi Heni. Tujuannya, meminta pelapor untuk mentransfer uang lagi.

Total Heni mentransfer sebelas kali ke rekening BRI, tiga kali ke rekening Bank Jatim, dan sekali ke rekening Bank BNI.

Rekening yang dia transfer atas nama Mohammad Sholeh, Maulana Ishaq, dan Badrus Samsi. 

‘’Terakhir seingat saya mentransfer uang Rp 5 juta akhir Desember lalu,’’ ujarnya. 

Setelah transferan terakhir itu, Heni masih tergabung dalam grup WA tersebut.

Selain itu, Mohammad Sholeh juga masih menghubunginya serta menyuruh mentransfer uang kembali.

Namun, setelah transferan terakhir itu, Heni mengaku sudah curiga bahwa dia menjadi korban penipuan.

Apalagi, dia belum mendapatkan keuntungan seperti yang dijanjikan. ‘’Terakhir – terakhir saya selalu nolak jika disuruh transfer uang,’’ katanya. 

Heni kemudian mencoba mencari data tentang koperasi tersebut Rabu (10/1) lalu.

Dia teringat memiliki sebuah foto KTP yang pernah diberikan Tika.

Dari foto tersebut, Heni mengetahui Tika beralamat di Desa Ngampelrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Ternyata, alamat KTP tersebut palsu. 

‘’Setelah saya ke sana, tidak menemukan alamat itu. Desanya ada, tapi bukan di kecamatan itu,’’ katanya. 

Heni kemudian mencoba menelusuri alamat koperasi.

Dia juga berbekal gambar seperti kartu nama dengan background gedung bertuliaskan KSP MS-Mohammad Sholeh, yang pernah dikirimkan Tika.

Berdasarkan petunjuk itu, koperasinya beralamat di Jalan Diponegoro Nomor 149 Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. 

Baca Juga :  Ibu-Ibu Rentan Tertipu Arisan, Dua Bulan 23 Kasus

‘’Tapi setelah saya kroscek ke sana, ternyata koperasi tersebut tidak ada,’’ imbuhnya. 

Sebelum berangkat ke Jember, Heni mengaku sempat ditelepon Mohammad Sholeh.

Grup WA Koperasi Mohammad Sholeh juga masih aktif. Setelah dia tiba di Jember, nomor telepon itu tak bisa dihubungi.

Selain itu, grup WA juga sudah terhapus. Heni belum sempat melakukan screenshoot isi pesan di grup itu. 

‘’Paginya masih menghubungi saya, tapi setelah di sana dia tidak bisa dihubungi,’’ ujarnya. 

Heni mengaku meminta tolong petugas di Polres Jember. Setelah ditelusuri ternyata tiga rekening juga tak berasal dari bank di Jember.

Setelah ditelusuri, rekening tersebut dari bank di Probolinggo. Namun, pihak bank tak berani memberikan alamat pemilik rekening tersebut.

‘’Alasannya karena privasi perusahaan,’’ ujarnya. 

Sementara itu, Taufik, suami Heni, mengaku tidak tahu bahwa istrinya ikut investasi koperasi. Beberapa kali dia melihat istrinya melakukan transfer.

Namun, dirinya tidak curiga. Alasannya, aktivitas seperti itu sering dilakukan Heni karena menjalankan usaha jual-beli pakaian. 

‘’Saya kira untuk mentransfer pembelian barang di toko, ternyata kok ditransfer untuk investasi. Saya baru tahu ya ketika istri saya membuat laporan ini,’’ katanya. 

Kasubbag Humas Polres Lamongan, AKP Suwarta, mengimbau masyarakat untuk lebih waspada ketika mengikuti investasi yang belum diketahui dengan jelas. 

Sebab modus operandi serupa kini makin marak terjadi. Apalagi, saat ini didukung kecanggihan teknologi. 

‘’Kita baru terima laporan dan memintai keterangan dari korban,’’ ujarnya.

BABAT – Modus penipuan kian beragam. Salah satunya, tawaran investasi koperasi yang menggiurkan. Heni Kurnia Ningsih, warga Kecamatan Babat menjadi salah satu korbannya. Dia kemarin (11/1) melaporkan Tika Hartika ke Mapolres Lamongan.

Tuduhannya, melakukan penipuan Rp 126 juta dengan investasi Koperasi Mohammad Sholeh di Jember.

Pelapor tertarik investasi tersebut karena keuntungannya dijanjikan 20 persen dari nilai uang yang ditanamkan.

Heni terlalu percaya dengan Tika. Sejak November lalu, dia menurut ketika diminta mentransfer uang dengan besaran bervariatif di tiga bank berbeda.

Dia menceritakan, Tika merupakan teman lamanya semasa kuliah di Malang. Heni berkomunikasi dengan terlapor pada November.

Dari obrolan itu, terlapor mengaku telah sukses bekerja di koperasi.

Tika kemudian menawarkan investasi koperasi yang berada di Jember disertai penjelasan tentang keuntungannya. 

‘’Awalnya ngobrol biasa, kan teman lama, tapi dia mengajak untuk investasi di koperasi tempatnya bekerja,’’ imbuhnya. 

Tertarik ajakan itu, Heni lalu dimasukkan ke grup WhatsApp Koperasi Mohammad Sholeh.

Bahkan, Tika juga memberikan alamat website tersebut agar Heni mengetahui keunggulan koperasi tersebut.  

‘’Saat itu saya percaya soalnya di grup itu ada orang-orang yang juga ikut investasi koperasi itu,’’ tutur perempuan berkerudung tersebut. 

Selain itu, Heni pernah ditelepon seorang laki – laki yang mengaku bernama Mohammad Sholeh.

Laki – laki itu mengaku sebagai pemilik koperasi yang direkomendasikan Tika tersebut. 

Telepon itu membuat Heni percaya bahwa koperasi tersebut benar – benar ada serta mampu memberikan keuntungan besar kepadanya. 

Baca Juga :  Berkas Tersangka Penggelapan Uang Arisan P-21

‘’Ngobrolnya enak gitu, jadi saya ya langsung percaya saja,’’ imbuhnya.

Setelah itu, Heni berkomunikasi dengan Tika lagi. Dia awalnya diminta mentransfer Rp 1,3 juta.

Selama dua bulan, terlapor terus menghubungi Heni. Tujuannya, meminta pelapor untuk mentransfer uang lagi.

Total Heni mentransfer sebelas kali ke rekening BRI, tiga kali ke rekening Bank Jatim, dan sekali ke rekening Bank BNI.

Rekening yang dia transfer atas nama Mohammad Sholeh, Maulana Ishaq, dan Badrus Samsi. 

‘’Terakhir seingat saya mentransfer uang Rp 5 juta akhir Desember lalu,’’ ujarnya. 

Setelah transferan terakhir itu, Heni masih tergabung dalam grup WA tersebut.

Selain itu, Mohammad Sholeh juga masih menghubunginya serta menyuruh mentransfer uang kembali.

Namun, setelah transferan terakhir itu, Heni mengaku sudah curiga bahwa dia menjadi korban penipuan.

Apalagi, dia belum mendapatkan keuntungan seperti yang dijanjikan. ‘’Terakhir – terakhir saya selalu nolak jika disuruh transfer uang,’’ katanya. 

Heni kemudian mencoba mencari data tentang koperasi tersebut Rabu (10/1) lalu.

Dia teringat memiliki sebuah foto KTP yang pernah diberikan Tika.

Dari foto tersebut, Heni mengetahui Tika beralamat di Desa Ngampelrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Ternyata, alamat KTP tersebut palsu. 

‘’Setelah saya ke sana, tidak menemukan alamat itu. Desanya ada, tapi bukan di kecamatan itu,’’ katanya. 

Heni kemudian mencoba menelusuri alamat koperasi.

Dia juga berbekal gambar seperti kartu nama dengan background gedung bertuliaskan KSP MS-Mohammad Sholeh, yang pernah dikirimkan Tika.

Berdasarkan petunjuk itu, koperasinya beralamat di Jalan Diponegoro Nomor 149 Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. 

Baca Juga :  Mintai Keterangan Dua Pelapor terkait Dugaan Penipuan Tenaga Kerja

‘’Tapi setelah saya kroscek ke sana, ternyata koperasi tersebut tidak ada,’’ imbuhnya. 

Sebelum berangkat ke Jember, Heni mengaku sempat ditelepon Mohammad Sholeh.

Grup WA Koperasi Mohammad Sholeh juga masih aktif. Setelah dia tiba di Jember, nomor telepon itu tak bisa dihubungi.

Selain itu, grup WA juga sudah terhapus. Heni belum sempat melakukan screenshoot isi pesan di grup itu. 

‘’Paginya masih menghubungi saya, tapi setelah di sana dia tidak bisa dihubungi,’’ ujarnya. 

Heni mengaku meminta tolong petugas di Polres Jember. Setelah ditelusuri ternyata tiga rekening juga tak berasal dari bank di Jember.

Setelah ditelusuri, rekening tersebut dari bank di Probolinggo. Namun, pihak bank tak berani memberikan alamat pemilik rekening tersebut.

‘’Alasannya karena privasi perusahaan,’’ ujarnya. 

Sementara itu, Taufik, suami Heni, mengaku tidak tahu bahwa istrinya ikut investasi koperasi. Beberapa kali dia melihat istrinya melakukan transfer.

Namun, dirinya tidak curiga. Alasannya, aktivitas seperti itu sering dilakukan Heni karena menjalankan usaha jual-beli pakaian. 

‘’Saya kira untuk mentransfer pembelian barang di toko, ternyata kok ditransfer untuk investasi. Saya baru tahu ya ketika istri saya membuat laporan ini,’’ katanya. 

Kasubbag Humas Polres Lamongan, AKP Suwarta, mengimbau masyarakat untuk lebih waspada ketika mengikuti investasi yang belum diketahui dengan jelas. 

Sebab modus operandi serupa kini makin marak terjadi. Apalagi, saat ini didukung kecanggihan teknologi. 

‘’Kita baru terima laporan dan memintai keterangan dari korban,’’ ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read

BBM Naik, Belum Berimbas Permintaan

Waspada hingga Akhir Desember

Terbanyak Kiriman SS Surabaya – Madura

Artikel Terbaru


/