alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Sidang Kasus Pembunuhan, Terdakwa Divonis Hukuman Mati

Radar Lamongan – ‘’Aamiin! Allahuakbar!,’’ pekik M. Tugik Rahardian, anak Hj Ruwaeni di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan kemarin (10/9). Di sisi lain depan ruang sidang itu, isak tangis dari tiga putri terdakwa Sunarto, 44, kian tak terbendung setelah mendengar hakim menjatuhkan vonis hukuman mati kepada ayahnya.

PN tak hanya menggelar sidang bagi terdakwa Sunarto. Juga, pembacaan putusan bagi Imam Winarto, 37, terdakwa lainnya dalam kasus pembunuhan terhadap Ruwaeni, yang mertua mantan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Lamongan Yuhronur Efendi itu, 3 Januari lalu. Sidang tersebut dilakukan secara online.

Sidang bagi terdakwa Sunarto dimulai pukul 10.30 hingga 12.30. Puluhan aparat kepolisian dilibatkan melakukan penjagaan karena keluarga terdakwa dan korban turut hadir di pengadilan. Mereka mendengarkan dan menyaksikan jalannya sidang dari layar monitor yang disediakan di luar ruangan.

Didampingi tiga penasihat hukumnya, terdakwa asal Desa Sonoadi, Kecamatan Karanggeneng ini terlihat menyimak amar putusan yang dibacakan majelis hakim Raden Ari Muladi, Ery Acoka Bharata, dan Agusty Hadi Widarto secara bergantian. Mereka mengikuti persidangan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lamongan.

Berdasarkan fakta-fakta persidangan, perbuatan yang dilakukan Sunarto dinilai telah memenuhi unsur-unsur dalam dakwaan primer pasal 340 KUHP jo pasal 55 ayat 1 ke-2 KUHP. Yakni, menganjurkan pembunuhan berencana. Hal tersebut diperkuat dengan keterangan tujuh saksi dan alat bukti lainnya yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU).

Sedangkan keterangan dari Sunarto dalam pembuktian, dinilai rendah oleh majelis hakim. ‘’Pencabutan BAP (berita acara pemeriksaan) tidak beralasan. BAP yang ditandatangani oleh terdakwa dan penasihat hukum saat proses penyidikan telah melekat sebagai alat bukti yang sah,’’ kata hakim.

Salah satu fakta hukum yang dipaparkan majelis hakim, motif pembunuhan yang dilakukan Sunarto karena dirinya merasa sakit hati dan memiliki dendam dengan korban. Semula pria 44 tahun ini meminta Imam untuk membunuh mantan ibu tirinya itu dengan cara diracun. Namun Imam menolak dan berinisiatif membunuh menggunakan pisau miliknya. Sunarto juga tidak menolak usulan itu.

Baca Juga :  Penjual Terompet Sepi

Selain itu, majelis hakim juga mempertimbangkan keadaan yang memberatkan bagi Sunarto dalam putusannya. Yakni, perbuatan terdakwa menimbulkan kesedihan dan duka mendalam bagi keluarga korban, tidak menunjukkan rasa perikemanusiaan.

Terdakwa meresahkan masyarakat, serta terdakwa tidak mengakui perbuataannya. Sementara keadaan yang meringankan tidak ada. ‘’Majelis hakim yang mengadili perkara ini menyatakan. Satu, terdakwa Sunarto terbukti menganjurkan pembunuhan berencana. Dua, menjatuhkan pidana mati dan dengan perintah terdakwa sementara tetap ditahan. Tiga, membebankan biaya perkara sebesar Rp 5.000 kepada negara,’’ ujar hakim.

Usai pembacaan putusan, majelis hakim memberi kesempatan bagi Sunarto dan penasihat hukumnya untuk pikir-pikir selama tujuh hari dalam menanggapi vonis tersebut. Menerima, melakukan upaya hukum balik, atau mengajukan grasi kepada Presiden RI.

Sidang pembacaan putusan kemudian dilanjutkan kepada Imam. Baru berjalan 15 menit, persidangan yang dilakukan via online harus diskors hingga pukul 14.10. Penyebabnya, jaringan internet di lapas terputus. Selama sidang berlangsung, mimik wajah Imam tegang dan lebih banyak menunduk saat hakim membacakan amar putusan baginya.

Menurut hakim, perbuatan yang dilakukan Imam dinilai telah memenuhi unsur-unsur dalam dakwaan pertama primer pasal 340 KUHP jo pasal 55 ayat 1 ke-2 KUHP. Yakni, yang melakukan pembunuhan berencana. Sedangkan dakwaan primer pasal 365 ayat 4 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan kematian, dianggap tidak terbukti.

Majelis hakim beralasan Imam membunuh Ruwaeni atas perintah Sunarto, bukan untuk memiliki benda milik korban. Majelis hakim juga mempertimbangkan keadaan yang memberatkan bagi Imam dalam putusannya. Yakni perbuatan terdakwa menimbulkan kesedihan dan duka mendalam bagi keluarga korban, tidak menunjukkan rasa perikemanusiaan, dan terdakwa meresahkan masyarakat.

Baca Juga :  Upah Minimum Kabupaten Lamongan Ditetapkan Rp 2,5 Juta

Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa telah mengakui dan menyesali perbuatannya, serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi. ‘’Majelis hakim yang mengadili perkara ini menyatakan. Satu, terdakwa Imam tidak terbukti melakukan pencurian dengan pemberatan.

Dua, membebaskan terdakwa dari dakwaan primer kedua. Tiga, terdakwa Imam Winarto terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan pembunuhan berencana. Empat, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara seumur hidup dengan perintah terdakwa tetap ditahan,’’ kata hakim.

Setelah mendengar vonis tersebut, pria asal Desa Tunjungmekar, Kecamatan Kalitengah ini sesekali mengusap air mata yang menitik di wajahnya. Majelis hakim juga memberi kesempatan bagi Imam dan penasihat hukumnya untuk pikir-pikir selama tujuh hari dalam menanggapi vonis tersebut.

Kepada Jawa Pos Radar Lamongan, Tugik yang juga menjadi saksi dalam perkara ini mengatakan puas atas putusan hakim yang sama seperti tuntutan jaksa. ‘’Puas! Sesuai dengan keinginan keluarga besar,’’ ujar adik ipar Yuhronur itu.

Sementara itu, JPU Irwan Syafari juga memilih untuk pikir-pikir terlebih dulu. ‘’Atas putusan ini kami masih ambil sikap pikir-pikir untuk menyesuaikan dengan tindakan atau upaya apa yang akan diambil terdakwa dan penasihat hukumnya.

Jadi kalau terdakwa terima, kami akan terima. Tapi kalau terdakwa melakukan upaya hukum balik banding, ya kami akan banding untuk mengimbangi,’’ tukas pria yang juga kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri Lamongan ini.

Radar Lamongan – ‘’Aamiin! Allahuakbar!,’’ pekik M. Tugik Rahardian, anak Hj Ruwaeni di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan kemarin (10/9). Di sisi lain depan ruang sidang itu, isak tangis dari tiga putri terdakwa Sunarto, 44, kian tak terbendung setelah mendengar hakim menjatuhkan vonis hukuman mati kepada ayahnya.

PN tak hanya menggelar sidang bagi terdakwa Sunarto. Juga, pembacaan putusan bagi Imam Winarto, 37, terdakwa lainnya dalam kasus pembunuhan terhadap Ruwaeni, yang mertua mantan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Lamongan Yuhronur Efendi itu, 3 Januari lalu. Sidang tersebut dilakukan secara online.

Sidang bagi terdakwa Sunarto dimulai pukul 10.30 hingga 12.30. Puluhan aparat kepolisian dilibatkan melakukan penjagaan karena keluarga terdakwa dan korban turut hadir di pengadilan. Mereka mendengarkan dan menyaksikan jalannya sidang dari layar monitor yang disediakan di luar ruangan.

Didampingi tiga penasihat hukumnya, terdakwa asal Desa Sonoadi, Kecamatan Karanggeneng ini terlihat menyimak amar putusan yang dibacakan majelis hakim Raden Ari Muladi, Ery Acoka Bharata, dan Agusty Hadi Widarto secara bergantian. Mereka mengikuti persidangan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lamongan.

Berdasarkan fakta-fakta persidangan, perbuatan yang dilakukan Sunarto dinilai telah memenuhi unsur-unsur dalam dakwaan primer pasal 340 KUHP jo pasal 55 ayat 1 ke-2 KUHP. Yakni, menganjurkan pembunuhan berencana. Hal tersebut diperkuat dengan keterangan tujuh saksi dan alat bukti lainnya yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU).

Sedangkan keterangan dari Sunarto dalam pembuktian, dinilai rendah oleh majelis hakim. ‘’Pencabutan BAP (berita acara pemeriksaan) tidak beralasan. BAP yang ditandatangani oleh terdakwa dan penasihat hukum saat proses penyidikan telah melekat sebagai alat bukti yang sah,’’ kata hakim.

Salah satu fakta hukum yang dipaparkan majelis hakim, motif pembunuhan yang dilakukan Sunarto karena dirinya merasa sakit hati dan memiliki dendam dengan korban. Semula pria 44 tahun ini meminta Imam untuk membunuh mantan ibu tirinya itu dengan cara diracun. Namun Imam menolak dan berinisiatif membunuh menggunakan pisau miliknya. Sunarto juga tidak menolak usulan itu.

Baca Juga :  Bu Anna Apresiasi Kinerja Bapenda

Selain itu, majelis hakim juga mempertimbangkan keadaan yang memberatkan bagi Sunarto dalam putusannya. Yakni, perbuatan terdakwa menimbulkan kesedihan dan duka mendalam bagi keluarga korban, tidak menunjukkan rasa perikemanusiaan.

Terdakwa meresahkan masyarakat, serta terdakwa tidak mengakui perbuataannya. Sementara keadaan yang meringankan tidak ada. ‘’Majelis hakim yang mengadili perkara ini menyatakan. Satu, terdakwa Sunarto terbukti menganjurkan pembunuhan berencana. Dua, menjatuhkan pidana mati dan dengan perintah terdakwa sementara tetap ditahan. Tiga, membebankan biaya perkara sebesar Rp 5.000 kepada negara,’’ ujar hakim.

Usai pembacaan putusan, majelis hakim memberi kesempatan bagi Sunarto dan penasihat hukumnya untuk pikir-pikir selama tujuh hari dalam menanggapi vonis tersebut. Menerima, melakukan upaya hukum balik, atau mengajukan grasi kepada Presiden RI.

Sidang pembacaan putusan kemudian dilanjutkan kepada Imam. Baru berjalan 15 menit, persidangan yang dilakukan via online harus diskors hingga pukul 14.10. Penyebabnya, jaringan internet di lapas terputus. Selama sidang berlangsung, mimik wajah Imam tegang dan lebih banyak menunduk saat hakim membacakan amar putusan baginya.

Menurut hakim, perbuatan yang dilakukan Imam dinilai telah memenuhi unsur-unsur dalam dakwaan pertama primer pasal 340 KUHP jo pasal 55 ayat 1 ke-2 KUHP. Yakni, yang melakukan pembunuhan berencana. Sedangkan dakwaan primer pasal 365 ayat 4 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan kematian, dianggap tidak terbukti.

Majelis hakim beralasan Imam membunuh Ruwaeni atas perintah Sunarto, bukan untuk memiliki benda milik korban. Majelis hakim juga mempertimbangkan keadaan yang memberatkan bagi Imam dalam putusannya. Yakni perbuatan terdakwa menimbulkan kesedihan dan duka mendalam bagi keluarga korban, tidak menunjukkan rasa perikemanusiaan, dan terdakwa meresahkan masyarakat.

Baca Juga :  Dikembalikan ke Perum Perindo

Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa telah mengakui dan menyesali perbuatannya, serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi. ‘’Majelis hakim yang mengadili perkara ini menyatakan. Satu, terdakwa Imam tidak terbukti melakukan pencurian dengan pemberatan.

Dua, membebaskan terdakwa dari dakwaan primer kedua. Tiga, terdakwa Imam Winarto terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan pembunuhan berencana. Empat, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara seumur hidup dengan perintah terdakwa tetap ditahan,’’ kata hakim.

Setelah mendengar vonis tersebut, pria asal Desa Tunjungmekar, Kecamatan Kalitengah ini sesekali mengusap air mata yang menitik di wajahnya. Majelis hakim juga memberi kesempatan bagi Imam dan penasihat hukumnya untuk pikir-pikir selama tujuh hari dalam menanggapi vonis tersebut.

Kepada Jawa Pos Radar Lamongan, Tugik yang juga menjadi saksi dalam perkara ini mengatakan puas atas putusan hakim yang sama seperti tuntutan jaksa. ‘’Puas! Sesuai dengan keinginan keluarga besar,’’ ujar adik ipar Yuhronur itu.

Sementara itu, JPU Irwan Syafari juga memilih untuk pikir-pikir terlebih dulu. ‘’Atas putusan ini kami masih ambil sikap pikir-pikir untuk menyesuaikan dengan tindakan atau upaya apa yang akan diambil terdakwa dan penasihat hukumnya.

Jadi kalau terdakwa terima, kami akan terima. Tapi kalau terdakwa melakukan upaya hukum balik banding, ya kami akan banding untuk mengimbangi,’’ tukas pria yang juga kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri Lamongan ini.

Artikel Terkait

Most Read

Ajak Gemar Membaca

Usai Lebaran, Daya Beli Motor Lesu

Artikel Terbaru


/