alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

HET Beras Belum Diterapkan 

LAMONGAN – Harga eceran tertinggi (HET) beras belum diterapkan. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan belum menerima regulasi jelas terkait penerapannya.

 Padahal, informasinya penerapannya mulai dilakukan per 1 September lalu, setelah kementerian perdagangan (kemendag) menentukan HET beras. 

‘’Regulasi terkait penerapannya masih kami tunggu dari provinsi,’’ tutur Kepala Disperindag Lamongan Zamroni kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (10/9).

Informasi yang beredar, HET beras medium Rp 9.450 per kilogram (kg), sedangkan beras premium Rp 13.800 per kg di terapkan tujuh provinsi.

Diantaranya Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). 

‘’Tapi klasifikasi yang termasuk beras medium dan premium seperti apa, kami juga belum mendapat informasi jelas,’’ ujarnya. 

Baca Juga :  Jalan Nasional Jarang Mulus

Munculnya HET beras karena kemendag menilai beras merupakan komoditas utama pangan. Sehingga menghindari adanya praktik-praktik permainan harga beras. 

‘’Dalam menentukan HET beras sempat terjadi pergolakan, tapi ada pertimbangan khusus sehingga resmi ditetapkan,’’ tukasnya.  

Menurut dia, penerapan regulasi HET beras tak bisa serentak seluruh daerah di Indonesia. Karena masih awal butuh penyesuaian.

Seperti yang terjadi di Lamongan, yang hingga kini belum ada arahan untuk menerapkan. 

‘’Kami juga masih menunggu arahan resminya,’’ utukasnya. 

Zamroni menilai keputusan tersebut cukup bagus, tapi penerapannya bakal sulit. Karena petani tentunya bakal tersekat dengan harga yang sudah ditentukan.

Sehingga tak bisa leluasa menjual ketika kualitas beras yang dihasilkan bagus. Namun, paling merasakan juga pedagang beras eceran.  

Baca Juga :  Satgas TMMD bersama Warga Buatkan Rumah Lapangan Tenis Meja

‘’Meski begitu, tapi kami akan melaksanakan jika nantinya sudah ada instruksi resminya,’’ pungkasnya.

LAMONGAN – Harga eceran tertinggi (HET) beras belum diterapkan. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan belum menerima regulasi jelas terkait penerapannya.

 Padahal, informasinya penerapannya mulai dilakukan per 1 September lalu, setelah kementerian perdagangan (kemendag) menentukan HET beras. 

‘’Regulasi terkait penerapannya masih kami tunggu dari provinsi,’’ tutur Kepala Disperindag Lamongan Zamroni kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (10/9).

Informasi yang beredar, HET beras medium Rp 9.450 per kilogram (kg), sedangkan beras premium Rp 13.800 per kg di terapkan tujuh provinsi.

Diantaranya Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). 

‘’Tapi klasifikasi yang termasuk beras medium dan premium seperti apa, kami juga belum mendapat informasi jelas,’’ ujarnya. 

Baca Juga :  Satgas TMMD bersama Warga Buatkan Rumah Lapangan Tenis Meja

Munculnya HET beras karena kemendag menilai beras merupakan komoditas utama pangan. Sehingga menghindari adanya praktik-praktik permainan harga beras. 

‘’Dalam menentukan HET beras sempat terjadi pergolakan, tapi ada pertimbangan khusus sehingga resmi ditetapkan,’’ tukasnya.  

Menurut dia, penerapan regulasi HET beras tak bisa serentak seluruh daerah di Indonesia. Karena masih awal butuh penyesuaian.

Seperti yang terjadi di Lamongan, yang hingga kini belum ada arahan untuk menerapkan. 

‘’Kami juga masih menunggu arahan resminya,’’ utukasnya. 

Zamroni menilai keputusan tersebut cukup bagus, tapi penerapannya bakal sulit. Karena petani tentunya bakal tersekat dengan harga yang sudah ditentukan.

Sehingga tak bisa leluasa menjual ketika kualitas beras yang dihasilkan bagus. Namun, paling merasakan juga pedagang beras eceran.  

Baca Juga :  Dana Rehab Gedung SMP Naik

‘’Meski begitu, tapi kami akan melaksanakan jika nantinya sudah ada instruksi resminya,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/