alexametrics
29.8 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Sehari, Lima Kali Perceraian

- Advertisement -

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Perceraian di Bojonegoro masih terbilang tinggi. Berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro, periode Januari hingga Juni lalu, tercatat 1.009 perkara perceraian yang diputus. Jika dihitung rata – rata per hari, maka ada sekitar 5  perkara perceraian.

Panitera Pengadilan Agama Kabupaten Bojonegoro, Sholikin Jamik, mengatakan, setiap tahun ada sekitar 9.000 pernikahan di Kota Ledre ini.

Terkait penceraian, tahun lalu ada 3.092 perkara. Jika dipersentase, maka 34 persen dari pernikahan gagal memertahankan rumah tangga dan berujung pada perceraian. Jika dikira-kira per hari, maka terjadi 8 kali perceraian.

Baca Juga :  Gubernur Tunjuk Abimanyu Jadi Pj Sekda

Dia menjelaskan, dulu hak cerai ada pada laki-laki. Sehingga disebutkan perempuan tidak punya kepastian hukum. Namun, perempuan yang ditinggal suami akhirnya bisa mengajukan cerai gugat. ‘’Jangankan tiga tahun, tiga bulan saja ditinggal, perempuan berhak mengajukan cerai. Itu inovasi hukum islam. Jadi laki-laki tidak bisa semena-mena. Dulu memang perempuan tidak punya hak sama sekali. Makanya itu ada perkara gugat dan talak,’’ jelasnya.

Faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian tahun ini sama seperti tahun sebelumnya. Yakni ekonomi, meninggalkan satu pihak, dan perselisihan terus menerus.

- Advertisement -

Banyaknya perkara perceraian di suatu daerah membuktikan tingkat ekonomi serta pendidikan yang masih rendah. Untuk itu pendidikan harus terus digiatkan untuk mengurangi angka perceraian. Menurutnya, semakin tinggi ilmu pendidikan seseorang, dapat dikatakan lebih bisa mengatasi permasalahan di rumah tangga.

Baca Juga :  Hanifah Nila Wardani, Blogger Profesional Asal Kecamatan Tikung

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Perceraian di Bojonegoro masih terbilang tinggi. Berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro, periode Januari hingga Juni lalu, tercatat 1.009 perkara perceraian yang diputus. Jika dihitung rata – rata per hari, maka ada sekitar 5  perkara perceraian.

Panitera Pengadilan Agama Kabupaten Bojonegoro, Sholikin Jamik, mengatakan, setiap tahun ada sekitar 9.000 pernikahan di Kota Ledre ini.

Terkait penceraian, tahun lalu ada 3.092 perkara. Jika dipersentase, maka 34 persen dari pernikahan gagal memertahankan rumah tangga dan berujung pada perceraian. Jika dikira-kira per hari, maka terjadi 8 kali perceraian.

Baca Juga :  Rekanan Lokal Harus Berbenah

Dia menjelaskan, dulu hak cerai ada pada laki-laki. Sehingga disebutkan perempuan tidak punya kepastian hukum. Namun, perempuan yang ditinggal suami akhirnya bisa mengajukan cerai gugat. ‘’Jangankan tiga tahun, tiga bulan saja ditinggal, perempuan berhak mengajukan cerai. Itu inovasi hukum islam. Jadi laki-laki tidak bisa semena-mena. Dulu memang perempuan tidak punya hak sama sekali. Makanya itu ada perkara gugat dan talak,’’ jelasnya.

Faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian tahun ini sama seperti tahun sebelumnya. Yakni ekonomi, meninggalkan satu pihak, dan perselisihan terus menerus.

- Advertisement -

Banyaknya perkara perceraian di suatu daerah membuktikan tingkat ekonomi serta pendidikan yang masih rendah. Untuk itu pendidikan harus terus digiatkan untuk mengurangi angka perceraian. Menurutnya, semakin tinggi ilmu pendidikan seseorang, dapat dikatakan lebih bisa mengatasi permasalahan di rumah tangga.

Baca Juga :  Hadirkan PSK dan Pelanggan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/