alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Saturday, June 25, 2022

Mengkhawatirkan! Angka Kematian Ibu dan Bayi Semakin Maningkat

Radar Bojonegoro – Baru menginjak satu semester tahun ini, jumlah kasus angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) cukup tinggi.

Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro, sebanyak 24 ibu dan 86 bayi meninggal. Angka tersebut tentu menjadi sorotan atas keberpihakan terhadap ibu hamil dan bayi.

Sebab, kematian ibu dan bayi menjadi parameter tersendiri mengingat anggaran sektor kesehatan juga tak kecil. Termasuk terjadi ketika masa pandemi Covid-19. Ada banyak faktor. Pihaknya masih terus berupaya mengawasi secara ketat para ibu-ibu hamil dengan risiko tinggi (risti).

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Bojonegoro Lucky Imroah membenarkan atas angka kematian ibu dan bayi dalam semester pertama ini.

Dia menerangkan, bahwa kasus kematian ibu dan bayi tersebar di berbagai kecamatan. Adapun rincian penyebab kematian ibu didominasi saat masa nifas akibat mengidap penyakit penyerta yang kronis.

Jumlah kematian ibu yang diakibatkan oleh penyakit penyerta ada 12 orang. Di antaranya dua orang sakit jantung, dua orang sakit kanker payudara, satu orang sakit kanker otak, satu orang sakit schizophrenia, tiga orang sakit TBC, satu orang skai HIV, dan satu orang sakit tumor rongga dada.

“Sisanya ada delapan ibu meninggal karena pendarahan saat proses persalinan. Dan empat ibu meninggal karena praeklampsia,” jelasnya.

Baca Juga :  Upaya Mediasi Gagal

Menurut dia, masa nifas kerap menjadi atensi masyarakat. Sehingga pengawalan petugas kesehatan pasca melahirkan sangat dibutuhkan.

Selain itu, peran suami bisa diajak kerja sama mengasuh bayi yang baru lahir. Sehingga si ibu tidak kelelahan. Lalu, masyarakat harus memperhatikan kondisi ibu hamil risti kalau tergolong 4-T.

Yaitu terlalu tua, terlalu muda, terlalu sering, dan terlalu banyak. Selain 4-T, jenis risti lainnya ialah anemia akibat pendarahan saat proses persalinan.

Lalu, lingkar lengan atas kurang dari 23,5 sentimeter (cm) juga berbaya karena telalu kurus. Sehingga gizi ibu hamil harus diperhatikan, agar tidak dalam kondisi kurang energi kronis (KEK). Penyakit penyerta juga harus diperhatikan sekaligus penyakit infeksi menular seksual.

“Kami juga terus mengajak agar masyarakat ber-KB dengan angka kegagalan rendah. Sehingga optimal. Dan juga mengimbau agar kehamilan itu benar-benar direncanakan,” tutur Lucky.

Jarak anak pertama dan anak kedua idealnya dua tahun. Lalu jarak merencanakan kehamilan usai mengalami keguguran idealnya enam bulan.

Sementara itu, penyebab kematian bayi masih didominasi karena lahir prematur. Akibatnya berat bayi lahir rendah (BBLR) di bawah 2,5 kilogram.

Penyebab prematur didominasi karena infeksi. Jenis infeksinya paling banyak yaitu infeksi gigi. Kemudian, infeksi menular seksual. “Kerap kali kesehatan gigi diabaikan. Idealnya selama hamil memeriksakan gigi ke dokter minimal satu kali,” ucapnya.

Baca Juga :  Seragam Gratis, Ongkos Kok Ditanggung Sendiri?

Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro Hidayatus Sirot menyayangkan dengan jumlah AKI dan AKB di Bojonegoro selama satu semester tahun ini.

Sebab, dari data diketahui adanya peningkatan signifikan jumlah AKI. Jumlah AKI selama 2019 sebanyak 26 kasus, sedangkan satu semester 2020 sudah mencapai 24 kasus.

Hal ini tentu harus menjadi catatan bagi Dinkes Bojonegoro agar lebih meningkatkan pengawasan di lapangan terhadap ibu-ibu hamil yang risti.

Sosialisasi di tingkat polindes dan puskesmas harus lebih ditingkatkan lagi agar masyarakat lebih sadar akan kesehatan ibu hamil.

Bukan hanya para ibu yang diedukasi, tetapi para bapak juga mendapatkan edukasi yang cukup. “Khususnya di pelosok-pelosok desa sangat perlu edukasi serta sosialisasi dari puskesmas,” imbuhnya.

Tatus, sapaan akrabnya, juga mendorong agar dinkes berkoordinasi secara intensif dengan dinas pemberdayaan perempuan perlindungan anak dan keluarga berencana (DP3AKB) untuk menekan AKI dan AKB.

Apabila memang butuh pos anggaran khusus sosialisasi agar lebih optimal, tentu bisa dibicarakan dengan komisi C. “Kalau memang diperlukan pos anggaran khusus sosialisasi, mari dibicarakan saat perumusan anggaran,” jelasnya.

Radar Bojonegoro – Baru menginjak satu semester tahun ini, jumlah kasus angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) cukup tinggi.

Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro, sebanyak 24 ibu dan 86 bayi meninggal. Angka tersebut tentu menjadi sorotan atas keberpihakan terhadap ibu hamil dan bayi.

Sebab, kematian ibu dan bayi menjadi parameter tersendiri mengingat anggaran sektor kesehatan juga tak kecil. Termasuk terjadi ketika masa pandemi Covid-19. Ada banyak faktor. Pihaknya masih terus berupaya mengawasi secara ketat para ibu-ibu hamil dengan risiko tinggi (risti).

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Bojonegoro Lucky Imroah membenarkan atas angka kematian ibu dan bayi dalam semester pertama ini.

Dia menerangkan, bahwa kasus kematian ibu dan bayi tersebar di berbagai kecamatan. Adapun rincian penyebab kematian ibu didominasi saat masa nifas akibat mengidap penyakit penyerta yang kronis.

Jumlah kematian ibu yang diakibatkan oleh penyakit penyerta ada 12 orang. Di antaranya dua orang sakit jantung, dua orang sakit kanker payudara, satu orang sakit kanker otak, satu orang sakit schizophrenia, tiga orang sakit TBC, satu orang skai HIV, dan satu orang sakit tumor rongga dada.

“Sisanya ada delapan ibu meninggal karena pendarahan saat proses persalinan. Dan empat ibu meninggal karena praeklampsia,” jelasnya.

Baca Juga :  Jamaah Umrah Himmah Turun Madinah

Menurut dia, masa nifas kerap menjadi atensi masyarakat. Sehingga pengawalan petugas kesehatan pasca melahirkan sangat dibutuhkan.

Selain itu, peran suami bisa diajak kerja sama mengasuh bayi yang baru lahir. Sehingga si ibu tidak kelelahan. Lalu, masyarakat harus memperhatikan kondisi ibu hamil risti kalau tergolong 4-T.

Yaitu terlalu tua, terlalu muda, terlalu sering, dan terlalu banyak. Selain 4-T, jenis risti lainnya ialah anemia akibat pendarahan saat proses persalinan.

Lalu, lingkar lengan atas kurang dari 23,5 sentimeter (cm) juga berbaya karena telalu kurus. Sehingga gizi ibu hamil harus diperhatikan, agar tidak dalam kondisi kurang energi kronis (KEK). Penyakit penyerta juga harus diperhatikan sekaligus penyakit infeksi menular seksual.

“Kami juga terus mengajak agar masyarakat ber-KB dengan angka kegagalan rendah. Sehingga optimal. Dan juga mengimbau agar kehamilan itu benar-benar direncanakan,” tutur Lucky.

Jarak anak pertama dan anak kedua idealnya dua tahun. Lalu jarak merencanakan kehamilan usai mengalami keguguran idealnya enam bulan.

Sementara itu, penyebab kematian bayi masih didominasi karena lahir prematur. Akibatnya berat bayi lahir rendah (BBLR) di bawah 2,5 kilogram.

Penyebab prematur didominasi karena infeksi. Jenis infeksinya paling banyak yaitu infeksi gigi. Kemudian, infeksi menular seksual. “Kerap kali kesehatan gigi diabaikan. Idealnya selama hamil memeriksakan gigi ke dokter minimal satu kali,” ucapnya.

Baca Juga :  Kuota Masih Banyak, Haruskah Syarat Beasiswa Diperlonggar?

Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro Hidayatus Sirot menyayangkan dengan jumlah AKI dan AKB di Bojonegoro selama satu semester tahun ini.

Sebab, dari data diketahui adanya peningkatan signifikan jumlah AKI. Jumlah AKI selama 2019 sebanyak 26 kasus, sedangkan satu semester 2020 sudah mencapai 24 kasus.

Hal ini tentu harus menjadi catatan bagi Dinkes Bojonegoro agar lebih meningkatkan pengawasan di lapangan terhadap ibu-ibu hamil yang risti.

Sosialisasi di tingkat polindes dan puskesmas harus lebih ditingkatkan lagi agar masyarakat lebih sadar akan kesehatan ibu hamil.

Bukan hanya para ibu yang diedukasi, tetapi para bapak juga mendapatkan edukasi yang cukup. “Khususnya di pelosok-pelosok desa sangat perlu edukasi serta sosialisasi dari puskesmas,” imbuhnya.

Tatus, sapaan akrabnya, juga mendorong agar dinkes berkoordinasi secara intensif dengan dinas pemberdayaan perempuan perlindungan anak dan keluarga berencana (DP3AKB) untuk menekan AKI dan AKB.

Apabila memang butuh pos anggaran khusus sosialisasi agar lebih optimal, tentu bisa dibicarakan dengan komisi C. “Kalau memang diperlukan pos anggaran khusus sosialisasi, mari dibicarakan saat perumusan anggaran,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/