alexametrics
26.5 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Seribu Lebih Bangku SMP Negeri Kosong

TUBAN – Kebijakan pemerataan pendidikan jenjang SMP dengan menambah sejumlah sekolah baru di wilayah pinggiran Tuban tampaknya masih belum maksimal. Terbukti, jumlah kursi yang disediakan dinas pendidikan (disdik) setempat masih banyak yang kosong.

Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos Radar Tuban menyusul berakhirnya penerimaan peserta didik baru (PPDB) melalui jalur reguler, jumlah bangku yang masih melompong mencapai seribu lebih. Tercatat, dari total pagu yang tersedia 9.044 kursi pada 52 SMP negeri di Tuban, hanya terisi 8.024 siswa.

Praktis, hingga berakhirnya PPDB jalur online, masih 1.020 kursi yang kosong. Jumlah kursi kosong yang mencapai angka seribu lebih itu tersebar pada 26 lembaga pendidikan yang belum berhasil memenuhi pagu.

Sebagian besar sekolah yang tidak mencapai target dari pagu yang  disediakan itu merupakan sekolah baru yang berlokasi di wilayah pinggiran. Dan, rata-rata kekurangan pagu lebih dari satu rombongan belajar (rombel) atau satu kelas.

Baca Juga :  Dinobatkan Kasatreskrim Terbaik Kapolda Jatim Award 2021

Ini artinya, selain banyak kursi yang kosong, sejumlah ruang kelas juga tak terpakai. Padahal, dibangunnya sejumlah sekolah baru itu, tentu sudah berdasarkan analisa dan perhitungan yang matang. Bukan hanya sekadar membangun.

Kabid Disdik Tuban Sutarno membenarkan masih banyaknya kursi kosong. Menurutnya, banyak faktor yang menjadi pemicu kekosongan bangku di sejumlah SMP negeri tersebut. Di antaranya, ketatnya persaingan sekolah negeri dengan swasta. Hal ini memicu sebagian orang tua lebih memilih sekolah swasta dengan kualitas yang bagus. ‘’Sekarang banyak sekolah swasta berdiri yang kualitasnya juga tidak kalah dengan sekolah negeri,’’ ujarnya.

Selain itu, lanjut Tarno, perubahan mindset orang tua dalam menyekolahkan anak juga menjadi faktor menyusutnya jumlah siswa yang melanjutkan ke SMP negeri. Jika dulu sebagian besar orang tua lebih fanatik ke sekolah negeri dari pada swasta, kini pola pikir negeri sentris sudah mulai berubah. Sekarang, sebagian orang tua lebih memilih sekolah swasta dibanding negeri.

Baca Juga :  Heboh Penemuan Jasad Tersangkut Pohon Bambu

‘’Alasannya, karena selain diajarkan ilmu pengetahuan umum, sebagian besar sekolah swasta juga mengutamakan pendidikan agama. Itulah yang membuat sebagian orang tua lebih memilih swasta,’’ tutur mantan kepala SMPN 3 Singgahan itu.

Di bagian lain, Tarno juga mengakui melesetnya analisa dinas pendidikan dalam membangun sekolah-sekolah baru di wilayah pinggiran. Pasalnya, jumlah siswa yang diharapkan tidak sesuai dengan target kursi atau ruang kelas yang disediakan. ‘’Pada awalnya (saat dibangun, Red) masih bisa memenuhi target (pagu, Red).

Tapi lambat laun terus menyusut. Mungkin karena muncul banyak sekolah swasta yang baru dan jumlah lulusan SD juga berkurang,’’ ujar dia yang kemudian menyinggung keberhasilan program keluarga berencana (KB) dengan dua anak cukup.

Uuntuk menambah kursi yang kosong tersebut, kata Tarno, kini bagi sekolah yang tak memenuhi pagu diberikan kesempatan lagi untuk menggelar PPDB jalur offline

TUBAN – Kebijakan pemerataan pendidikan jenjang SMP dengan menambah sejumlah sekolah baru di wilayah pinggiran Tuban tampaknya masih belum maksimal. Terbukti, jumlah kursi yang disediakan dinas pendidikan (disdik) setempat masih banyak yang kosong.

Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos Radar Tuban menyusul berakhirnya penerimaan peserta didik baru (PPDB) melalui jalur reguler, jumlah bangku yang masih melompong mencapai seribu lebih. Tercatat, dari total pagu yang tersedia 9.044 kursi pada 52 SMP negeri di Tuban, hanya terisi 8.024 siswa.

Praktis, hingga berakhirnya PPDB jalur online, masih 1.020 kursi yang kosong. Jumlah kursi kosong yang mencapai angka seribu lebih itu tersebar pada 26 lembaga pendidikan yang belum berhasil memenuhi pagu.

Sebagian besar sekolah yang tidak mencapai target dari pagu yang  disediakan itu merupakan sekolah baru yang berlokasi di wilayah pinggiran. Dan, rata-rata kekurangan pagu lebih dari satu rombongan belajar (rombel) atau satu kelas.

Baca Juga :  Berkomitmen Sukseskan Program Jamula

Ini artinya, selain banyak kursi yang kosong, sejumlah ruang kelas juga tak terpakai. Padahal, dibangunnya sejumlah sekolah baru itu, tentu sudah berdasarkan analisa dan perhitungan yang matang. Bukan hanya sekadar membangun.

Kabid Disdik Tuban Sutarno membenarkan masih banyaknya kursi kosong. Menurutnya, banyak faktor yang menjadi pemicu kekosongan bangku di sejumlah SMP negeri tersebut. Di antaranya, ketatnya persaingan sekolah negeri dengan swasta. Hal ini memicu sebagian orang tua lebih memilih sekolah swasta dengan kualitas yang bagus. ‘’Sekarang banyak sekolah swasta berdiri yang kualitasnya juga tidak kalah dengan sekolah negeri,’’ ujarnya.

Selain itu, lanjut Tarno, perubahan mindset orang tua dalam menyekolahkan anak juga menjadi faktor menyusutnya jumlah siswa yang melanjutkan ke SMP negeri. Jika dulu sebagian besar orang tua lebih fanatik ke sekolah negeri dari pada swasta, kini pola pikir negeri sentris sudah mulai berubah. Sekarang, sebagian orang tua lebih memilih sekolah swasta dibanding negeri.

Baca Juga :  DPRD Lamongan Usulkan 4 Raperda, Harus Ada Sanksi Untuk Pelanggar

‘’Alasannya, karena selain diajarkan ilmu pengetahuan umum, sebagian besar sekolah swasta juga mengutamakan pendidikan agama. Itulah yang membuat sebagian orang tua lebih memilih swasta,’’ tutur mantan kepala SMPN 3 Singgahan itu.

Di bagian lain, Tarno juga mengakui melesetnya analisa dinas pendidikan dalam membangun sekolah-sekolah baru di wilayah pinggiran. Pasalnya, jumlah siswa yang diharapkan tidak sesuai dengan target kursi atau ruang kelas yang disediakan. ‘’Pada awalnya (saat dibangun, Red) masih bisa memenuhi target (pagu, Red).

Tapi lambat laun terus menyusut. Mungkin karena muncul banyak sekolah swasta yang baru dan jumlah lulusan SD juga berkurang,’’ ujar dia yang kemudian menyinggung keberhasilan program keluarga berencana (KB) dengan dua anak cukup.

Uuntuk menambah kursi yang kosong tersebut, kata Tarno, kini bagi sekolah yang tak memenuhi pagu diberikan kesempatan lagi untuk menggelar PPDB jalur offline

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/