alexametrics
24.2 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Kemarau, BPBD Siapkan 902 Tangki Air

Radar Bojonegoro – Awal musim kemarau sejak akhir Mei lalu. Namun, musim kemarau tahun ini dikategorikan kemarau basah, karena masih seringkali turun hujan. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro sudah mulai memetakan wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan dan menyiapkan 902 tangki air bersih.

“BPBD telah menyiapkan anggaran senilai Rp 392 juta guna antisipasi kekeringan. Dana itu nantinya akan digunakan untuk menyuplai air bersih sebanyak 902 tangki air bersih kepada masyarakat,” Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Bojonegoro Ardhian Orianto.

Ardhian menyampaikan, dropping air bersih mengacu pada pengajuan pihak pemerintah desa melalui kecamatan. Hingga kemarin (10/6) masih belum ada pengajuan dari desa terdampak kekeringan. Apabila nanti sudah ada pengajuan dropping air bersih, pihaknya akan menjadwalkan pengirimannya.

Baca Juga :  Lakukan Razia, Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor Tembus Miliaran

Adapun per tangki air berisi 4.000 liter. Berdasar data dari BPBD Bojonegoro diperkirakan sebanyak 79 desa dari 22 kecamatan di Bojonegoro berpotensi terdampak kekeringan. Acuan yang digunakan data kekeringan pada 2019 lalu. Sebab, pada 2020 lalu terjadi fenomena la nina yang mengakibatkan wilayah terdampak kekeringan mengalami penurunan. Yakni, 42 desa dari 16 kecamatan. Jumlah air bersih didistribusikan sekitar 766 rit.

“Tetapi ada baiknya masyarakat selama musim kemarau berupaya lebih hemat dan bijaksana menggu nakan air bersih. Khususnya, wilayah yang tiap tahunnya kerap terdampak kekeringan,” tambah Ardhian. 

Perlu diketahui, 22 kecamatan berpotensi terdampak kekeringan terdiri atas Kecamatan Kepohbaru, Padangan, Temayang, Sugihwaras, Tambakrejo, Ngraho, Kapas, Purwosari, Sumberrejo, Kasiman, Sukosewu, Ngasem, Dander, Ngambon, Malo, Bubulan, Kedungadem, Kedewan, Baureno, Trucuk, Balen, dan Kanor. Ardhian juga menambahkan, penggunaan air bersih hanya untuk keperluan rumah tangga. Bukan diperuntukkan sebagai pengairan areal pertanian.

Baca Juga :  Dinkes Janji Kawal Pengobatan Balita Yang Mengidap Tumor Bola Mata

Radar Bojonegoro – Awal musim kemarau sejak akhir Mei lalu. Namun, musim kemarau tahun ini dikategorikan kemarau basah, karena masih seringkali turun hujan. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro sudah mulai memetakan wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan dan menyiapkan 902 tangki air bersih.

“BPBD telah menyiapkan anggaran senilai Rp 392 juta guna antisipasi kekeringan. Dana itu nantinya akan digunakan untuk menyuplai air bersih sebanyak 902 tangki air bersih kepada masyarakat,” Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Bojonegoro Ardhian Orianto.

Ardhian menyampaikan, dropping air bersih mengacu pada pengajuan pihak pemerintah desa melalui kecamatan. Hingga kemarin (10/6) masih belum ada pengajuan dari desa terdampak kekeringan. Apabila nanti sudah ada pengajuan dropping air bersih, pihaknya akan menjadwalkan pengirimannya.

Baca Juga :  Dinkes Janji Kawal Pengobatan Balita Yang Mengidap Tumor Bola Mata

Adapun per tangki air berisi 4.000 liter. Berdasar data dari BPBD Bojonegoro diperkirakan sebanyak 79 desa dari 22 kecamatan di Bojonegoro berpotensi terdampak kekeringan. Acuan yang digunakan data kekeringan pada 2019 lalu. Sebab, pada 2020 lalu terjadi fenomena la nina yang mengakibatkan wilayah terdampak kekeringan mengalami penurunan. Yakni, 42 desa dari 16 kecamatan. Jumlah air bersih didistribusikan sekitar 766 rit.

“Tetapi ada baiknya masyarakat selama musim kemarau berupaya lebih hemat dan bijaksana menggu nakan air bersih. Khususnya, wilayah yang tiap tahunnya kerap terdampak kekeringan,” tambah Ardhian. 

Perlu diketahui, 22 kecamatan berpotensi terdampak kekeringan terdiri atas Kecamatan Kepohbaru, Padangan, Temayang, Sugihwaras, Tambakrejo, Ngraho, Kapas, Purwosari, Sumberrejo, Kasiman, Sukosewu, Ngasem, Dander, Ngambon, Malo, Bubulan, Kedungadem, Kedewan, Baureno, Trucuk, Balen, dan Kanor. Ardhian juga menambahkan, penggunaan air bersih hanya untuk keperluan rumah tangga. Bukan diperuntukkan sebagai pengairan areal pertanian.

Baca Juga :  Sopir Ngantuk, Dump Truk Terguling

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/