alexametrics
27 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Tagihan Listrik Naik, 86 Pelanggan Mengadu ke PLN

Radar Bojonegoro – Satu persatu pelanggan listrik di Kota Ledre mulai mengadu. Sebanyak 86 pelanggan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Bojonegoro mengadu terkait kenaikan tagihan listrik bulan Juni.

Namun, PLN Bojonegoro hanya menindaklanjuti kenaikan tagihan listrik yang naik lebih dari 20 persen. DPRD Bojonegoro meminta PLN harus terbuka dan menindaklanjuti dengan cepat keluhan pelanggan listrik.

Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro Sally Atyasasmi mendorong agar PLN setempat bisa memberikan pelayanan prima kepada pelanggan-pelanggan yang komplain. Apalagi para pelanggan PLN pasti patuh bayar tagihan listrik bulanannya. Sebab, sekali telat bayar tentu akan ada sanksi dari PLN.

Terkait adanya metode pembayaran dengan sistem angsuran bagi pelanggan yang tagihannya naik lebih dari 20 persen, Sally mengapresiasi. Namun, PLN juga harus terbuka dengan data-data konsumsi listrik tiap pelanggan. Serta diberikan penjelasan apa saja penyebab konsumsi listrik pelanggan melonjak pada bulan-bulan sebelumnya.

“Saya juga mendorong agar para pelanggan PLN yang merasa kenaikan tagihannya tidak wajar segera komplain ke PLN Bojonegoro,” ujar politikus Gerindra itu.

Supriyono salah satu pelanggan PLN asal Kecamatan Kapas merasa sangat keberatan dengan kenaikan tagihan bulan ini. Sebab, tagihan listriknya rata-rata Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Namun, tagihan bulan ini melonjak menjadi Rp 525 ribu.

Baca Juga :  Alhamdulillah, Jumlah Zakat PNS Terus Meningkat

Ia mengaku sudah komplain kepada PLN Bojonegoro via WhatsApp. Namun, dia diarahkan untuk membuat laporan pengaduan di kantor PLN ULP Bojonegoro. “Jujur saya tidak ikhlas. Aneh kok tagihan bisa melonjak. Padahal, pemakaian normal-normal saja. Saya sudah komplain via WhatsApp, lalu disuruh ke kantor PLN yang di Jalan Hasyim Asyari,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Tegangan listrik di rumahnya 900 voltase ampere (VA). Ia mengatakan, selama Mei tidak mengadakan hajatan atau yang lainnya. Barang elektronik di rumahnya yang mungkin paling banyak menyedot listrik hanya dua kulkas dan dua alat menanak nasi.

Selama pandemi Covid-19, usaha rias pengantin juga sedang sepi. Enos, salah satu pengusaha sablon di Kelurahan Ngrowo mengatakan juga merasa ada kenaikan tagihan listrik bulan Juni. Namun kenaikan tagihannya tergolong normal. Rata-rata tagihan per bulan sekitar Rp 160 ribu, sedangkan bulan Juni naik jadi Rp 180 ribu.

Humas PLN Bojonegoro Hekso Wisoto memastikan, ada 86 pelanggan yang mengadu. “Sebanyak 86 pelanggan yang mengadu itu data sejak tanggal 1-9 Juni. Rinciannya Bojonegoro Kota, 32 pelanggan; Padangan terdapat 27 pelanggan; dan Sumberrejo 27 pelanggan,” ungkap dia kemarin.

Baca Juga :  WBL – Mazola Perpanjang Penutupan

Tindak lanjut pengaduan, menurut dia, berupa memberikan data konsumsi listrik kepada satu per satu pelanggan. Pelanggan diberi penawaran pembayaran listrik dengan mengangsur apabila merasa keberatan.

“Metode angsurannya ialah nominal kenaikan tersebut bisa dibayar sebesar 40 persen di bulan Juni. Sisanya dibagi rata. Masingmasing 20 persen dalam tagihan tiga bulan ke depan yaitu Juli, Agustus, dan September,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Hekso Wisoto membantah, bahwa tidak ada kenaikan tarif listrik sejak 2017 hingga sekarang. Kenaikan tarif murni karena pemakaian. Sebab banyak kegiatan di rumah menggunakan listrik.

Selain itu, selama pandemi Covid-19 mulai akhir Maret hingga April, PLN tidak menghitung meteran di masing-masing rumah. PLN menggunakan tarif rata-rata penggunaan listrik bulanan selama tiga bulan sebelumnya, yakni periode Desember 2019 hingga Februari 2020.

“Jadi, tiga bulan rata-rata sebelum ada Covid-19 penggunaan listrik normal. Tetapi, setelah ada Covid-19 tentunya aktivitas di rumah lebih banyak. Semua di rumah menggunakan listrik,” imbuhnya. 

Radar Bojonegoro – Satu persatu pelanggan listrik di Kota Ledre mulai mengadu. Sebanyak 86 pelanggan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Bojonegoro mengadu terkait kenaikan tagihan listrik bulan Juni.

Namun, PLN Bojonegoro hanya menindaklanjuti kenaikan tagihan listrik yang naik lebih dari 20 persen. DPRD Bojonegoro meminta PLN harus terbuka dan menindaklanjuti dengan cepat keluhan pelanggan listrik.

Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro Sally Atyasasmi mendorong agar PLN setempat bisa memberikan pelayanan prima kepada pelanggan-pelanggan yang komplain. Apalagi para pelanggan PLN pasti patuh bayar tagihan listrik bulanannya. Sebab, sekali telat bayar tentu akan ada sanksi dari PLN.

Terkait adanya metode pembayaran dengan sistem angsuran bagi pelanggan yang tagihannya naik lebih dari 20 persen, Sally mengapresiasi. Namun, PLN juga harus terbuka dengan data-data konsumsi listrik tiap pelanggan. Serta diberikan penjelasan apa saja penyebab konsumsi listrik pelanggan melonjak pada bulan-bulan sebelumnya.

“Saya juga mendorong agar para pelanggan PLN yang merasa kenaikan tagihannya tidak wajar segera komplain ke PLN Bojonegoro,” ujar politikus Gerindra itu.

Supriyono salah satu pelanggan PLN asal Kecamatan Kapas merasa sangat keberatan dengan kenaikan tagihan bulan ini. Sebab, tagihan listriknya rata-rata Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Namun, tagihan bulan ini melonjak menjadi Rp 525 ribu.

Baca Juga :  Pembangunan Jembatan Kanor-Rengel Menunggu Izin BBWS

Ia mengaku sudah komplain kepada PLN Bojonegoro via WhatsApp. Namun, dia diarahkan untuk membuat laporan pengaduan di kantor PLN ULP Bojonegoro. “Jujur saya tidak ikhlas. Aneh kok tagihan bisa melonjak. Padahal, pemakaian normal-normal saja. Saya sudah komplain via WhatsApp, lalu disuruh ke kantor PLN yang di Jalan Hasyim Asyari,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Tegangan listrik di rumahnya 900 voltase ampere (VA). Ia mengatakan, selama Mei tidak mengadakan hajatan atau yang lainnya. Barang elektronik di rumahnya yang mungkin paling banyak menyedot listrik hanya dua kulkas dan dua alat menanak nasi.

Selama pandemi Covid-19, usaha rias pengantin juga sedang sepi. Enos, salah satu pengusaha sablon di Kelurahan Ngrowo mengatakan juga merasa ada kenaikan tagihan listrik bulan Juni. Namun kenaikan tagihannya tergolong normal. Rata-rata tagihan per bulan sekitar Rp 160 ribu, sedangkan bulan Juni naik jadi Rp 180 ribu.

Humas PLN Bojonegoro Hekso Wisoto memastikan, ada 86 pelanggan yang mengadu. “Sebanyak 86 pelanggan yang mengadu itu data sejak tanggal 1-9 Juni. Rinciannya Bojonegoro Kota, 32 pelanggan; Padangan terdapat 27 pelanggan; dan Sumberrejo 27 pelanggan,” ungkap dia kemarin.

Baca Juga :  Nyekar Ke Rembang, Puti Guntur: Kartini Inspirasi Bagi Perempuan

Tindak lanjut pengaduan, menurut dia, berupa memberikan data konsumsi listrik kepada satu per satu pelanggan. Pelanggan diberi penawaran pembayaran listrik dengan mengangsur apabila merasa keberatan.

“Metode angsurannya ialah nominal kenaikan tersebut bisa dibayar sebesar 40 persen di bulan Juni. Sisanya dibagi rata. Masingmasing 20 persen dalam tagihan tiga bulan ke depan yaitu Juli, Agustus, dan September,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Hekso Wisoto membantah, bahwa tidak ada kenaikan tarif listrik sejak 2017 hingga sekarang. Kenaikan tarif murni karena pemakaian. Sebab banyak kegiatan di rumah menggunakan listrik.

Selain itu, selama pandemi Covid-19 mulai akhir Maret hingga April, PLN tidak menghitung meteran di masing-masing rumah. PLN menggunakan tarif rata-rata penggunaan listrik bulanan selama tiga bulan sebelumnya, yakni periode Desember 2019 hingga Februari 2020.

“Jadi, tiga bulan rata-rata sebelum ada Covid-19 penggunaan listrik normal. Tetapi, setelah ada Covid-19 tentunya aktivitas di rumah lebih banyak. Semua di rumah menggunakan listrik,” imbuhnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/