alexametrics
27.1 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Berharap Harga Gula Stabil

KOTA – Setelah hari raya idul fitri, seluruh petani tebu diprediksi memasuki panen. Sejumlah petani berharap ada regulasi yang memihak mereka.

“Sejak adanya HET gula, harga tebu di lapangan tidak pernah stabil,” ujar salah satu petani di Lamongan, Wakiran.

Menurut dia, petani tebu hanya mengenyam manisnya panen satu kali dalam setahun. Jika harganya tidak berpihak, maka petani akan kesulitan memulai tanam kembali. Sebab, sebagian dari mereka mengajukan pinjaman modal ke koperasi untuk awal tanam.

Wakiran berharap pada musim giling tahun ini harga tebu tinggi. Meski menyesuaikan rendemen, dia juga berharap seluruh gula petani dibeli.

Baca Juga :  Terbiasa Melihat Mesin Besar

Tahun lalu, petani harus menunggu lama karena pembelian dilakukan bertahap. Padahal, mereka harus membayar tenaga yang dipekerjakan. Saat ada pembelian, harga gula hanya Rp 8.400 per kilogram (kg). Pembayarannya juga tidak secara langsung. Akibatnya, banyak petani tebu memilih pindah tanam palawija.

Kabid Perkebunan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lamongan, Agus Edy Santoso, menuturkan, dinas tidak mengetahui harga pembelian gula. Alasannya, kebijakan diatur pusat. Namun, biasanya pabrikan memberikan list harga sesuai rendemannya.

Jika rendemen tinggi, maka harganya juga berbeda dengan rendemen rendah. Sebab, pembelian menyesuaikan dengan kualitas. Biasanya, lanjut Edy, petani menjual gula karena keuntungan mereka ada di gula. Karena sudah ada kebijakan pusat mengenai HET gula, maka pabrik atau tengkulak tidak bisa membeli di atas harga normal. “Kalau harga urusannya langsung antara pabrik dan petani,” ujarnya.

Baca Juga :  Dimulai dari Bangku Kuliah

Terkait berkurangnya luas tanam, Edy mengatakan, luas lahan tidak mungkin ditambah. Bisanya hanya meningkatkan produksi. Dia mencontohkan produksi estimasinya 600 kuintal per hektare. Angka tersebut bisa tambah dan berkurang karena kondisi di lapangan juga terjadi serangan hama.

KOTA – Setelah hari raya idul fitri, seluruh petani tebu diprediksi memasuki panen. Sejumlah petani berharap ada regulasi yang memihak mereka.

“Sejak adanya HET gula, harga tebu di lapangan tidak pernah stabil,” ujar salah satu petani di Lamongan, Wakiran.

Menurut dia, petani tebu hanya mengenyam manisnya panen satu kali dalam setahun. Jika harganya tidak berpihak, maka petani akan kesulitan memulai tanam kembali. Sebab, sebagian dari mereka mengajukan pinjaman modal ke koperasi untuk awal tanam.

Wakiran berharap pada musim giling tahun ini harga tebu tinggi. Meski menyesuaikan rendemen, dia juga berharap seluruh gula petani dibeli.

Baca Juga :  Tak Dibuatkan Kopi, Suami Teringat Istri Karaoke, KDRT

Tahun lalu, petani harus menunggu lama karena pembelian dilakukan bertahap. Padahal, mereka harus membayar tenaga yang dipekerjakan. Saat ada pembelian, harga gula hanya Rp 8.400 per kilogram (kg). Pembayarannya juga tidak secara langsung. Akibatnya, banyak petani tebu memilih pindah tanam palawija.

Kabid Perkebunan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lamongan, Agus Edy Santoso, menuturkan, dinas tidak mengetahui harga pembelian gula. Alasannya, kebijakan diatur pusat. Namun, biasanya pabrikan memberikan list harga sesuai rendemannya.

Jika rendemen tinggi, maka harganya juga berbeda dengan rendemen rendah. Sebab, pembelian menyesuaikan dengan kualitas. Biasanya, lanjut Edy, petani menjual gula karena keuntungan mereka ada di gula. Karena sudah ada kebijakan pusat mengenai HET gula, maka pabrik atau tengkulak tidak bisa membeli di atas harga normal. “Kalau harga urusannya langsung antara pabrik dan petani,” ujarnya.

Baca Juga :  Bantuan PKH Kembali Dicairkan Tiga Bulan Sekali

Terkait berkurangnya luas tanam, Edy mengatakan, luas lahan tidak mungkin ditambah. Bisanya hanya meningkatkan produksi. Dia mencontohkan produksi estimasinya 600 kuintal per hektare. Angka tersebut bisa tambah dan berkurang karena kondisi di lapangan juga terjadi serangan hama.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/