alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Mudah Mati Saat Melaut, Perahu Elpiji Dikeluhkan Nelayan

PACIRAN – Perahu mesin berbahan bakar elpiji bantuan pemerintah pusat dikeluhkan nelayan. Perahu dari Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) itu mudah mati mesinnya ketika ada gelombang tinggi saat dipakai melaut.

 ‘’Baru saja kita terima keluhan dari nelayan. Pada saat gelombang tinggi, mesin (perahu bantuan itu) dirasa kurang kuat. Sehingga sering mati sendiri,’’ kata Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lamongan, Mukhlisin Amar kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (10/5).

Sehingga, lanjut dia, sejumlah nelayan takut untuk menggunakan mesin tersebut. Mereka khawatir, ketika ada gelombang besar dan mesin mati, membuat perahu tak seimbang dan mudah terbalik. 

‘’Makanya nelayan akhirnya takut. Mereka (nelayan) kan yang tahu kondisi di lapangan,’’ ujarnya. 

Baca Juga :  Wacanakan Konsep Baru Pengelolaan Rest Area

Menurut dia, kini HNSI masih mengakomodir keluhan dari nelayan penerima bantuan perahu dengan mesin berbahan bakar elpiji. Rencananya keluhan tersebut bakal dilaporkan pada pihak terkait. ‘’Akan kita laporkan dan komunikasikan agar bisa dicarikan jalan keluar,’’ ucap mantan Ketua Rukun Nelayan (RN) Paciran tersebut.

Mukhlisin menjelaskan, terkait pasokan bahan bakar gas (BBG) untuk energi mesin perahu bantuan tersebut tidak menjadi kendala utama. Stok elpiji bagi nelayan pengguna mesin berbahan bakar elpiji tersebut selalu tersedia.

‘’Tidak pernah terjadi kelangkaan untuk bahan bakarnya. Kendalanya cuma mesin mati tiba-tiba saat di laut,’’ tukasnya.

Sebelumnya, lanjut dia, ada kendala saat pergantian tabung satu ke tabung yang lain saat di laut. Kini kendala tersebut sudah terselesaikan. ‘’Kita harapkan ke depan ada solusinya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Guru Paling Rentan Bercerai

Mukhlisin berharap, pada nelayan pemilik mesin berbahan bakar elpiji agar tetap bisa memanfaatkan secara maksimal. Jangan sampai karena kendala tersebut, membuat mesin tak digunakan. Sebab mesin tersebut lebih efisien dibanding mesin berbahan bakar bensin. ‘’Dari tingkat efisiensinya cukup tinggi. Yang namanya penggunaan alat baru memang agak sedikit merepotkan, tapi harus tetap digunakan oleh nelayan,’’ pungkasnya.

PACIRAN – Perahu mesin berbahan bakar elpiji bantuan pemerintah pusat dikeluhkan nelayan. Perahu dari Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) itu mudah mati mesinnya ketika ada gelombang tinggi saat dipakai melaut.

 ‘’Baru saja kita terima keluhan dari nelayan. Pada saat gelombang tinggi, mesin (perahu bantuan itu) dirasa kurang kuat. Sehingga sering mati sendiri,’’ kata Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lamongan, Mukhlisin Amar kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (10/5).

Sehingga, lanjut dia, sejumlah nelayan takut untuk menggunakan mesin tersebut. Mereka khawatir, ketika ada gelombang besar dan mesin mati, membuat perahu tak seimbang dan mudah terbalik. 

‘’Makanya nelayan akhirnya takut. Mereka (nelayan) kan yang tahu kondisi di lapangan,’’ ujarnya. 

Baca Juga :  Wacanakan Konsep Baru Pengelolaan Rest Area

Menurut dia, kini HNSI masih mengakomodir keluhan dari nelayan penerima bantuan perahu dengan mesin berbahan bakar elpiji. Rencananya keluhan tersebut bakal dilaporkan pada pihak terkait. ‘’Akan kita laporkan dan komunikasikan agar bisa dicarikan jalan keluar,’’ ucap mantan Ketua Rukun Nelayan (RN) Paciran tersebut.

Mukhlisin menjelaskan, terkait pasokan bahan bakar gas (BBG) untuk energi mesin perahu bantuan tersebut tidak menjadi kendala utama. Stok elpiji bagi nelayan pengguna mesin berbahan bakar elpiji tersebut selalu tersedia.

‘’Tidak pernah terjadi kelangkaan untuk bahan bakarnya. Kendalanya cuma mesin mati tiba-tiba saat di laut,’’ tukasnya.

Sebelumnya, lanjut dia, ada kendala saat pergantian tabung satu ke tabung yang lain saat di laut. Kini kendala tersebut sudah terselesaikan. ‘’Kita harapkan ke depan ada solusinya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Jembatan Karanggeneng Dianggarkan Rp 750 Juta 

Mukhlisin berharap, pada nelayan pemilik mesin berbahan bakar elpiji agar tetap bisa memanfaatkan secara maksimal. Jangan sampai karena kendala tersebut, membuat mesin tak digunakan. Sebab mesin tersebut lebih efisien dibanding mesin berbahan bakar bensin. ‘’Dari tingkat efisiensinya cukup tinggi. Yang namanya penggunaan alat baru memang agak sedikit merepotkan, tapi harus tetap digunakan oleh nelayan,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

PDIP Belum Tentukan Calon

Hari Terakhir Parpol Serbu KPUK

Artikel Terbaru


/