alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Brilliananto, Jadi Geolog Muda Bisa Keliling Indonesia sambil Kerja

BOJONEGORO – Berkaus warna merah. Sosok pria beralis cukup tebal dan murah senyum. Pria itu bernama Brilliananto Maranditya. “Dia tadi pemateri ketika presentasi seputar simulasi pencarian orang hilang di hutan, sekaligus mitigasi titik-titik rawan longsor berdasarkan keilmuannya,” ujar Plt Kalak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Andik Sudjarwo kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro membanggakannya.

Pria yang akrab disapa Brillian itu ketika masih kuliah hingga sekarang sangat aktif bergerak di bidang keilmuan yang digelutinya, yakni geologi. Secara singkat, Brillian pun menerangkan tentang geologi, yaitu ilmu yang mempelajari bumi, mulai dari komposisi, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, hingga proses pembentukannya. “Ya, geologi ilmu yang sangat kompleks,” ujar pria asal Dusun Badug, Desa Sumuragung, Kecamatan Sumberrejo itu.

Ketika masih berkuliah ilmu geologi di Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Jogjakarta (STTNAS Jogjakarta), dia aktif di dalam Seksi Mahasiswa (SM) Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) STTNAS Jogjakarta. Jabatan terakhirnya pada 2014-2015 ialah sebagai ketua umum. Dia pun sejak 2014-2016 selalu menjadi asisten dosen. Bahkan ketika dirinya menjadi asisten dosen, Brillian berkesempatan diajak eksplorasi batu bara di Sumatera Selatan, Bengkulu Utara, dan Lampung Barat di tengah hutan.

Tak hanya itu saja, ketika dirinya sudah menjadi seorang geolog, dia pernah bekerja untuk eksplorasi emas dan zircon di Sulawesi Tengah. Di sana, kata dia, lokasi pantainya yang jarang didatangi orang. Lalu, eksplorasi emas lagi di Kalimantan Tengah dengan hutan tropisnya yang terkenal. “Intinya, selama jadi geolog, saya bisa jalan-jalan keliling Indonesia sambil kerja,” tutur pria kelahiran 1993 itu. Namun, segala pengalaman bergengsi itu belum cukup bagi Brillian. Karena dalam hati nuraninya tetap rindu dengan kampung halamannya di Bojonegoro. Sehingga dirinya pun ingin sekali ilmunya bermanfaat untuk Bojonegoro. 

Baca Juga :  Tak Penuhi Standar, Komisi C DPRD Soroti Prosesnya

Impian itu pun terwujud, Brillian direkrut oleh BPBD Bojonegoro di bagian sekretariat pusat data kebencanaan. Hal yang paling bahagia bagi dia memang ketika ilmu geologinya bisa bermanfaat untuk masyarakat terkait bencana-bencana geologi yang ada di Bojonegoro. Dia mengatakan akan fokus pada bencana longsor dan bahaya gempa bumi, tetapi kalau dibutuhkan di bencana lainnya juga bisa, seperti banjir. “Harapan saya dengan gabung di BPBD, saya bisa berikan rekomendasi terkait bencana-bencana itu  untuk meminimalisir dampak yang dihasilkan dari bencana itu,” jelasnya. 

Mulai dari memetakan daerah potensi gerakan tanah atau longsor, faktor-faktor atau tipe longsorannya, kemungkinan luas daerah terdampak, dampak atau korban yang mungkin dihasilkan, serta penanganannya kira-kira seperti apa baiknya.

Karena selama ini yang dia tahu potensi bencana gerakan tanah atau longsor yang ada di Bojonegoro itu sangat tinggi, termasuk dampaknya, dan belum diperhatikan karena belum kejadian seperti Banjarnegara atau di Ponorogo. Padahal suatu saat juga memungkinkan kejadian itu di Bojonegoro. “Semoga sebelum terlanjur seperti Banjarnegara atau Ponorogo, saya berharap bisa melakukan mitigasi bareng BPBD terutama terkait bencana itu buat meminimalisir dampak atau syukur-syukur bisa mencegah bencana gerakan tanah atau longsor itu di daerah-daerah yang rawan,” terangnya.

Brillian pun telah melakukan upaya preventif untuk menekan jumlah korban bencana tanah longsor. Upaya tersebut berupa pemetaan sekaligus mitigasi dengan cara menganalisis data yang diolah dari berbagai sumber dan survei lapangan geologi. “Sumber kami dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG),” tuturnya.

Baca Juga :  Setelah Korea, Muncul Kuliner Thailand

Di Bojonegoro sebanyak  110 desa dari 14 kecamatan rawan bencana tanah longsor. Setidaknya, sudah ada 24 desa yang telah terjadi tanah longsor, rata-rata wilayah selatan Bojonegoro. Jadi masih ada 86 desa berpotensi terjadi tanah longsor. “Kami petakan dua tipe faktor penyebab, yakni tipe satu akibat topografi atau kelerengan, batuan, dan struktur geologi. Adapun tipe dua akibat erosional sungai kecil maupun Bengawan Solo, sekaligus aktivitas manusia,” jelasnya.

Perlu diketahui 14 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro yang rawan longsor adalah Kecamatan Sugihwaras, Trucuk, Malo, Bubulan, Kasiman, Ngambon, dan Kecamatan Temayang. Sementara daerah yang telah terjadi retakan tanah maupun longsor terjadi di Kecamatan Kedewan, Sekar, Gondang, serta Kecamatan Sokosewu.

Dia pun menambahkan kini banyak perangkat lunak komputer seperti ArcGIS 10.1, Map Source 6, Mapinfo 10.5, Global Mapper 16, SketchUp 3D yang bisa dimanfaatkan untuk memetakan bencana tanah longsor di Bojonegoro. Pemanfaatan teknologi tersebut bisa juga dipakai untuk melakukan pencarian orang hilang di dalam hutan. Jadi, penerapan ilmu geologi sangat penting untuk membaca peta dasar muka bumi dan GPS. “Sehingga personel BPBD bisa mencari orang hilang di hutan dengan perhitungan yang matang, sehingga mampu untuk mengefisiensi waktu,” pungkasnya.

BOJONEGORO – Berkaus warna merah. Sosok pria beralis cukup tebal dan murah senyum. Pria itu bernama Brilliananto Maranditya. “Dia tadi pemateri ketika presentasi seputar simulasi pencarian orang hilang di hutan, sekaligus mitigasi titik-titik rawan longsor berdasarkan keilmuannya,” ujar Plt Kalak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Andik Sudjarwo kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro membanggakannya.

Pria yang akrab disapa Brillian itu ketika masih kuliah hingga sekarang sangat aktif bergerak di bidang keilmuan yang digelutinya, yakni geologi. Secara singkat, Brillian pun menerangkan tentang geologi, yaitu ilmu yang mempelajari bumi, mulai dari komposisi, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, hingga proses pembentukannya. “Ya, geologi ilmu yang sangat kompleks,” ujar pria asal Dusun Badug, Desa Sumuragung, Kecamatan Sumberrejo itu.

Ketika masih berkuliah ilmu geologi di Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Jogjakarta (STTNAS Jogjakarta), dia aktif di dalam Seksi Mahasiswa (SM) Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) STTNAS Jogjakarta. Jabatan terakhirnya pada 2014-2015 ialah sebagai ketua umum. Dia pun sejak 2014-2016 selalu menjadi asisten dosen. Bahkan ketika dirinya menjadi asisten dosen, Brillian berkesempatan diajak eksplorasi batu bara di Sumatera Selatan, Bengkulu Utara, dan Lampung Barat di tengah hutan.

Tak hanya itu saja, ketika dirinya sudah menjadi seorang geolog, dia pernah bekerja untuk eksplorasi emas dan zircon di Sulawesi Tengah. Di sana, kata dia, lokasi pantainya yang jarang didatangi orang. Lalu, eksplorasi emas lagi di Kalimantan Tengah dengan hutan tropisnya yang terkenal. “Intinya, selama jadi geolog, saya bisa jalan-jalan keliling Indonesia sambil kerja,” tutur pria kelahiran 1993 itu. Namun, segala pengalaman bergengsi itu belum cukup bagi Brillian. Karena dalam hati nuraninya tetap rindu dengan kampung halamannya di Bojonegoro. Sehingga dirinya pun ingin sekali ilmunya bermanfaat untuk Bojonegoro. 

Baca Juga :  Minimarket Menjamur, Tahun ini Hanya Izinkan Lima Toko Beroperasi

Impian itu pun terwujud, Brillian direkrut oleh BPBD Bojonegoro di bagian sekretariat pusat data kebencanaan. Hal yang paling bahagia bagi dia memang ketika ilmu geologinya bisa bermanfaat untuk masyarakat terkait bencana-bencana geologi yang ada di Bojonegoro. Dia mengatakan akan fokus pada bencana longsor dan bahaya gempa bumi, tetapi kalau dibutuhkan di bencana lainnya juga bisa, seperti banjir. “Harapan saya dengan gabung di BPBD, saya bisa berikan rekomendasi terkait bencana-bencana itu  untuk meminimalisir dampak yang dihasilkan dari bencana itu,” jelasnya. 

Mulai dari memetakan daerah potensi gerakan tanah atau longsor, faktor-faktor atau tipe longsorannya, kemungkinan luas daerah terdampak, dampak atau korban yang mungkin dihasilkan, serta penanganannya kira-kira seperti apa baiknya.

Karena selama ini yang dia tahu potensi bencana gerakan tanah atau longsor yang ada di Bojonegoro itu sangat tinggi, termasuk dampaknya, dan belum diperhatikan karena belum kejadian seperti Banjarnegara atau di Ponorogo. Padahal suatu saat juga memungkinkan kejadian itu di Bojonegoro. “Semoga sebelum terlanjur seperti Banjarnegara atau Ponorogo, saya berharap bisa melakukan mitigasi bareng BPBD terutama terkait bencana itu buat meminimalisir dampak atau syukur-syukur bisa mencegah bencana gerakan tanah atau longsor itu di daerah-daerah yang rawan,” terangnya.

Brillian pun telah melakukan upaya preventif untuk menekan jumlah korban bencana tanah longsor. Upaya tersebut berupa pemetaan sekaligus mitigasi dengan cara menganalisis data yang diolah dari berbagai sumber dan survei lapangan geologi. “Sumber kami dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG),” tuturnya.

Baca Juga :  Kemarau, BPBD Siapkan 902 Tangki Air

Di Bojonegoro sebanyak  110 desa dari 14 kecamatan rawan bencana tanah longsor. Setidaknya, sudah ada 24 desa yang telah terjadi tanah longsor, rata-rata wilayah selatan Bojonegoro. Jadi masih ada 86 desa berpotensi terjadi tanah longsor. “Kami petakan dua tipe faktor penyebab, yakni tipe satu akibat topografi atau kelerengan, batuan, dan struktur geologi. Adapun tipe dua akibat erosional sungai kecil maupun Bengawan Solo, sekaligus aktivitas manusia,” jelasnya.

Perlu diketahui 14 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro yang rawan longsor adalah Kecamatan Sugihwaras, Trucuk, Malo, Bubulan, Kasiman, Ngambon, dan Kecamatan Temayang. Sementara daerah yang telah terjadi retakan tanah maupun longsor terjadi di Kecamatan Kedewan, Sekar, Gondang, serta Kecamatan Sokosewu.

Dia pun menambahkan kini banyak perangkat lunak komputer seperti ArcGIS 10.1, Map Source 6, Mapinfo 10.5, Global Mapper 16, SketchUp 3D yang bisa dimanfaatkan untuk memetakan bencana tanah longsor di Bojonegoro. Pemanfaatan teknologi tersebut bisa juga dipakai untuk melakukan pencarian orang hilang di dalam hutan. Jadi, penerapan ilmu geologi sangat penting untuk membaca peta dasar muka bumi dan GPS. “Sehingga personel BPBD bisa mencari orang hilang di hutan dengan perhitungan yang matang, sehingga mampu untuk mengefisiensi waktu,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/