alexametrics
32.8 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

Perlu Museum Purbakala di Temayang

- Advertisement -

TEMAYANG – Keberadaan benda-benda purbakala di Desa Soko, Kecamatan Temayang, perlu dikonsep menjadi museum. Namun, gagasan tersebut sulit direalisasikan. Belum ada langkah serius dari pemerintah melakukan pelestarian beberapa temuan fosil di desa tersebut. 

Selama ini, benda-benda purbakala itu disimpan di rumah-rumah warga. Benda purbakala itu beragam. Mulai fosil hewan laut hingga benda-benda kerajaan. Untuk fosil laut, misalnya ada jenis fosil moluska. Juga fosil bentuk kerang. Sedangkan, benda-benda kerajaan berupa batuan manik. 

“Ya mau disimpan di mana lagi,” kata Suradi salah satu warga yang menyimpan benda purbakala tersebut.Untuk menyimpannya, Suradi melakukan apa adanya. Tak ada lemari khusus. Bahkan, ada benda purbakala itu disimpan di bawah kolong meja. Untuk bebatuan berukuran kecil disimpan di dalam toples plastik. 

Baca Juga :  Menjaga Keutuhan NKRI dan Persaudaraan Pasca Pemilu

Benda-benda purbakala itu cukup mudah ditemui di beberapa titik. Mulai dari sawah sampai di daerah hutan berdekatan dengan gua. Tak hanya itu, ada pula benda purbakala ada di halaman rumah penduduk. Menurut Suradi, yang peduli dengan temuan-temuannya justru pihak luar. Pernah ada salah satu dosen dari kampus di Indonesia berkunjung ke Desa Soko, untuk melakukan penelitian. Dia pun turut mengantarnya. 

Hanya, pemerintah kabupaten (pemkab) belum maksimal untuk melakukan perawatan atas benda-benda purbakala di Desa Soko tersebut. Dia mengatakan, bila benda-benda tidak segera ada perawatan dikhawatirkan akan semakin punah dan sulit untuk dicari. 

- Advertisement -

Sebab, saat ini jumlahnya tak sebanyak dulu. Penyebabnya, ada orang luar yang membeli dan warga masyarakat pun menyerahkan begitu saja. “Dulu memang banyak yang mencari. Kalau sekarang sudah tidak berani,” kata Pak Puh sapaan akrabnya.

Baca Juga :  Kenaikan Harga Tak Pengaruhi Permintaan BBM

Dia berharap pemkab ataupun pemprov bisa memberikan perhatian tentang benda purbakala. Artinya, benda-benda itu biar tetap di desa tapi terawat dengan baik. “Agar anak cucu kami bisa tetap mengetahui jika di sini banyak benda bersejarah,” terangnya.  Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Amir Syahid belum bisa dikonfirmasi.

TEMAYANG – Keberadaan benda-benda purbakala di Desa Soko, Kecamatan Temayang, perlu dikonsep menjadi museum. Namun, gagasan tersebut sulit direalisasikan. Belum ada langkah serius dari pemerintah melakukan pelestarian beberapa temuan fosil di desa tersebut. 

Selama ini, benda-benda purbakala itu disimpan di rumah-rumah warga. Benda purbakala itu beragam. Mulai fosil hewan laut hingga benda-benda kerajaan. Untuk fosil laut, misalnya ada jenis fosil moluska. Juga fosil bentuk kerang. Sedangkan, benda-benda kerajaan berupa batuan manik. 

“Ya mau disimpan di mana lagi,” kata Suradi salah satu warga yang menyimpan benda purbakala tersebut.Untuk menyimpannya, Suradi melakukan apa adanya. Tak ada lemari khusus. Bahkan, ada benda purbakala itu disimpan di bawah kolong meja. Untuk bebatuan berukuran kecil disimpan di dalam toples plastik. 

Baca Juga :  Pembangunan Embung Terkendala Lahan

Benda-benda purbakala itu cukup mudah ditemui di beberapa titik. Mulai dari sawah sampai di daerah hutan berdekatan dengan gua. Tak hanya itu, ada pula benda purbakala ada di halaman rumah penduduk. Menurut Suradi, yang peduli dengan temuan-temuannya justru pihak luar. Pernah ada salah satu dosen dari kampus di Indonesia berkunjung ke Desa Soko, untuk melakukan penelitian. Dia pun turut mengantarnya. 

Hanya, pemerintah kabupaten (pemkab) belum maksimal untuk melakukan perawatan atas benda-benda purbakala di Desa Soko tersebut. Dia mengatakan, bila benda-benda tidak segera ada perawatan dikhawatirkan akan semakin punah dan sulit untuk dicari. 

- Advertisement -

Sebab, saat ini jumlahnya tak sebanyak dulu. Penyebabnya, ada orang luar yang membeli dan warga masyarakat pun menyerahkan begitu saja. “Dulu memang banyak yang mencari. Kalau sekarang sudah tidak berani,” kata Pak Puh sapaan akrabnya.

Baca Juga :  Kenaikan Harga Tak Pengaruhi Permintaan BBM

Dia berharap pemkab ataupun pemprov bisa memberikan perhatian tentang benda purbakala. Artinya, benda-benda itu biar tetap di desa tapi terawat dengan baik. “Agar anak cucu kami bisa tetap mengetahui jika di sini banyak benda bersejarah,” terangnya.  Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Amir Syahid belum bisa dikonfirmasi.

Artikel Terkait

Most Read

Jatah Reses DPRD Tetap Rp 3,7 M

Rumuskan Kenaikan Tarif PDAM 

Pengusaha Kafe Kekinian Lirik Lampu Hias

Artikel Terbaru


/