alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Komisi C: Kampus Harus Perketat Proses Pembuatan Skripsi

BOJONEGORO – Maraknya praktik jasa pembuatan skripsi atau tugas akhir di wilayah Bojonegoro menjadi perhatian Komisi C DPRD Bojonegoro. Karena praktik sudah jelas menyalahi tanggung jawab moral seorang akademisi terhadap karya ilmiah yang dikerjakan. Hal ini tentu kemunduran terhadap kualitas mahasiswa Bojonegoro. Padahal seyogianya mahasiswa harus mampu mempertanggungjawabkan gelar diploma atau sarjana yang disandangnya.

Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Sally Atyasasmi, sangat menyayangkan dan ironis mengetahui praktik jasa pembuatan skripsi marak terjadi di Bojonegoro. Sebab, sangat jelas itu pelanggaran karena karyanya tidak orisinal. “Pelanggaran yang sangat disayangkan, karena setiap mahasiswa yang mengerjakan skripsi pasti membuat surat pernyataan bahwa karyanya orisinal,” jelasnya. 

Politisi Partai Gerindra itu mengaku pernah mendengar kasus-kasus tersebut. Tetapi belum pernah bertemu secara langsung dengan si penyedia jasa dan pengguna jasa. “Saya hanya dengar-dengar saja, tetapi belum pernah ketemu langsung dengan yang bersangkutan,” tuturnya.

Baca Juga :  Berdiri sebelum Kemerdekaan

Hal ini tentu menjadi PR bersama, khususnya moral mahasiswa dan kampus tempat mereka menimba ilmu. Menurut dia, maraknya kasus tersebut membuktikan bahwa masih banyak mahasiswa Bojonegoro yang tidak percaya diri dengan kemampuannya sendiri. Sehingga memilih jalan pintas yang kotor tersebut. “Kalau terus dibiarkan praktik seperti ini, tentu kualitas pendidikan di Bojonegoro tidak akan bisa berkembang,” tuturnya.

Dampaknya sangat jelas, sebab skripsi merupakan karya ilmiah yang nantinya menjadi sebuah jurnal dan menjadi rujukan atau literatur bagi peneliti selanjutnya. Apabila skripsi tersebut dibuatkan orang lain dan ternyata tidak relevan atau plagiat, tentu sangat merugikan dunia pendidikan. “Kasus seperti ini memang juga kerap terjadi di kampus-kampus luar Bojonegoro, tetapi seharusnya pihak kampus lebih memperketat proses skripsi tersebut,” ujar lulusan S2 Universitas Indonesia Fakultas Kesehatan Masyarakat 2014 itu.

Baca Juga :  100 CPNS Formasi Guru Dilantik, Harus Siap Cerdaskan Anak Bangsa

Menurutnya, proses pembuatan skripsi itu bertahap dan para dosen seharusnya benar-benar mengawal proses tersebut. Mulai dari pengajuan judul skripsi, sidang proposal, bimbingan, hingga sidang. Lalu apabila memang ada temuan bahwa salah satu mahasiswanya tidak mengerjakan skripsinya secara mandiri, pihak kampus harus tegas memberikan sanksi. “Kampus harus lebih ketat lagi mengawal dan tegas memberikan sanksi apabila ada temuan praktik jasa pembuatan skripsi, demi kualitas pendidikan di Bojonegoro dan tanggung jawab moral terhadap gelar akademisnya,” pungkasnya.

BOJONEGORO – Maraknya praktik jasa pembuatan skripsi atau tugas akhir di wilayah Bojonegoro menjadi perhatian Komisi C DPRD Bojonegoro. Karena praktik sudah jelas menyalahi tanggung jawab moral seorang akademisi terhadap karya ilmiah yang dikerjakan. Hal ini tentu kemunduran terhadap kualitas mahasiswa Bojonegoro. Padahal seyogianya mahasiswa harus mampu mempertanggungjawabkan gelar diploma atau sarjana yang disandangnya.

Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Sally Atyasasmi, sangat menyayangkan dan ironis mengetahui praktik jasa pembuatan skripsi marak terjadi di Bojonegoro. Sebab, sangat jelas itu pelanggaran karena karyanya tidak orisinal. “Pelanggaran yang sangat disayangkan, karena setiap mahasiswa yang mengerjakan skripsi pasti membuat surat pernyataan bahwa karyanya orisinal,” jelasnya. 

Politisi Partai Gerindra itu mengaku pernah mendengar kasus-kasus tersebut. Tetapi belum pernah bertemu secara langsung dengan si penyedia jasa dan pengguna jasa. “Saya hanya dengar-dengar saja, tetapi belum pernah ketemu langsung dengan yang bersangkutan,” tuturnya.

Baca Juga :  Rebut Konsumen dengan Varian Baru

Hal ini tentu menjadi PR bersama, khususnya moral mahasiswa dan kampus tempat mereka menimba ilmu. Menurut dia, maraknya kasus tersebut membuktikan bahwa masih banyak mahasiswa Bojonegoro yang tidak percaya diri dengan kemampuannya sendiri. Sehingga memilih jalan pintas yang kotor tersebut. “Kalau terus dibiarkan praktik seperti ini, tentu kualitas pendidikan di Bojonegoro tidak akan bisa berkembang,” tuturnya.

Dampaknya sangat jelas, sebab skripsi merupakan karya ilmiah yang nantinya menjadi sebuah jurnal dan menjadi rujukan atau literatur bagi peneliti selanjutnya. Apabila skripsi tersebut dibuatkan orang lain dan ternyata tidak relevan atau plagiat, tentu sangat merugikan dunia pendidikan. “Kasus seperti ini memang juga kerap terjadi di kampus-kampus luar Bojonegoro, tetapi seharusnya pihak kampus lebih memperketat proses skripsi tersebut,” ujar lulusan S2 Universitas Indonesia Fakultas Kesehatan Masyarakat 2014 itu.

Baca Juga :  Devi Rosyida, Perajin Batik Daun Berbasis Pohon di Pekarangan Rumah

Menurutnya, proses pembuatan skripsi itu bertahap dan para dosen seharusnya benar-benar mengawal proses tersebut. Mulai dari pengajuan judul skripsi, sidang proposal, bimbingan, hingga sidang. Lalu apabila memang ada temuan bahwa salah satu mahasiswanya tidak mengerjakan skripsinya secara mandiri, pihak kampus harus tegas memberikan sanksi. “Kampus harus lebih ketat lagi mengawal dan tegas memberikan sanksi apabila ada temuan praktik jasa pembuatan skripsi, demi kualitas pendidikan di Bojonegoro dan tanggung jawab moral terhadap gelar akademisnya,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Berharap Pasar Hewan segera Dibuka

Harga Tanah Rp 450 Ribu Per Meter

Sempat Vakum Dua Tahun


/