alexametrics
32.8 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

Ainur Rofiq, Eksportir Khusus Ikan Besar asal Lamongan

- Advertisement -

SIANG itu, seorang pemuda mengenakan kaus oblong, berkacamata, dan bertopi. Pria itu duduk santai di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kecamatan Brondong. Dia adalah Ainur Rofiq, salah satu eksportir ikan asal Lamongan. Setiap pekan, dia kirim ikan di Malaysia dan Singapura.

Ikan yang diekspor bukan sembarang ikan kecil – kecil. Namun, khusus ikan jenis sunu dan ikan kerapu lumpur. Ukuran ikan yang diekspor, beratnya minimal 5 kilogram (kg) dan maksimal 25 kg. ‘’Bukan sembarangan, ikannya khusus,’’ kata dia mengawali ceritanya.

Ikan sunu diperolehnya dari beberapa nelayan yang pulang melaut dan dibawa ke TPI Brondong. Ikan warna  merah kombinasi kuning itu disukai warga Singapura karena dagingnya empuk. Selain itu, durinya juga sedikit. Harga ikan ini bisa menembus Rp 125 ribu per kg.

Sedangkan ikan jenis kerapu lumpur, selama ini diekspor ke Malaysia. Harga ikan tersebut lebih murah, Rp 60 ribu per kg. Namun, ukuran ikan hitam kombinasi putih itu lebih besar. Rata – rata beratnya 20 kg. ‘’Beda jenis, beda pasar,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Pelayanan Publik Maksimal, Kepercayaan Masyarakat Meningkat

Menjadi eksportir ditekuni Ainur Rofiq sejak sekitar 5 tahun lalu. Memulai bisnis itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Awalnya, dia masuk dari rumah makan ke rumah makan. Mulai dari Surabaya, Semarang, hingga berlanjut ke Jakarta.  Pengusaha rumah makan membutuhkan ikan segar untuk bahan masakannya. 

- Advertisement -

Suatu hari, ada warga Singapura dan Malaysia yang memintanya mengirim ikan ke negara tetangga tersebut. Warga dua negara itu pernah makan di rumah makan yang ikannya dipasok Ainur Rofiq. 

Mendapatkan pesanan ke luar negeri, tentu dia senang. Namun, kesenangan itu kemudian berubah menjadi kesedihan. Ainur Rofiq tertipu. Ikan yang dia kirimkan seberat 200 kg tidak mendapatkan uang karena alamatnya salah. Ainur Rofiq tidak patah arang. Dia tetap berusaha mencari jalan keluar.

Baca Juga :  Masih Jadi Importer Produk Halal, Bojonegoro Fokus Garap Pesantren

Ainur Rofiq memutuskan berangkat sendiri untuk mengirimkan pesanan. Dia ingin mengetahui alamat pemesan yang sebenarnya. Ternyata ketemu. Transaksi yang dilakukan Ainur Rofiq lancar. Dia mendapatkan untung cukup besar. Sebab, ikan yang dia beli di TPI Brondong dengan harga murah, bisa jual lagi dengan harga tiga kali lipat. Pengeluarannya hanya biaya perjalanan.‘’Kalau saat ini sudah tak ada lagi penipun, uang tinggal transfer,’’ ujarnya.

Hampir setiap pekan sekali, dia mengirim ikan dengan kondisi segar. Sekali kirim minimal seberat 500 kg. Jika jumlahnya sedikit, maka dia akan rugi dengan ongkos kirimnya. Sebelum dikirim, ikan dibersihkan dan dibungkus dengan plastic. Setelah itu, dicampur es. Tujuannya, ketika sampai lokasi masih dalam keadaan segar dan bersih, siap untuk dimasak.

SIANG itu, seorang pemuda mengenakan kaus oblong, berkacamata, dan bertopi. Pria itu duduk santai di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kecamatan Brondong. Dia adalah Ainur Rofiq, salah satu eksportir ikan asal Lamongan. Setiap pekan, dia kirim ikan di Malaysia dan Singapura.

Ikan yang diekspor bukan sembarang ikan kecil – kecil. Namun, khusus ikan jenis sunu dan ikan kerapu lumpur. Ukuran ikan yang diekspor, beratnya minimal 5 kilogram (kg) dan maksimal 25 kg. ‘’Bukan sembarangan, ikannya khusus,’’ kata dia mengawali ceritanya.

Ikan sunu diperolehnya dari beberapa nelayan yang pulang melaut dan dibawa ke TPI Brondong. Ikan warna  merah kombinasi kuning itu disukai warga Singapura karena dagingnya empuk. Selain itu, durinya juga sedikit. Harga ikan ini bisa menembus Rp 125 ribu per kg.

Sedangkan ikan jenis kerapu lumpur, selama ini diekspor ke Malaysia. Harga ikan tersebut lebih murah, Rp 60 ribu per kg. Namun, ukuran ikan hitam kombinasi putih itu lebih besar. Rata – rata beratnya 20 kg. ‘’Beda jenis, beda pasar,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  WBL – Mazola Perpanjang Penutupan

Menjadi eksportir ditekuni Ainur Rofiq sejak sekitar 5 tahun lalu. Memulai bisnis itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Awalnya, dia masuk dari rumah makan ke rumah makan. Mulai dari Surabaya, Semarang, hingga berlanjut ke Jakarta.  Pengusaha rumah makan membutuhkan ikan segar untuk bahan masakannya. 

- Advertisement -

Suatu hari, ada warga Singapura dan Malaysia yang memintanya mengirim ikan ke negara tetangga tersebut. Warga dua negara itu pernah makan di rumah makan yang ikannya dipasok Ainur Rofiq. 

Mendapatkan pesanan ke luar negeri, tentu dia senang. Namun, kesenangan itu kemudian berubah menjadi kesedihan. Ainur Rofiq tertipu. Ikan yang dia kirimkan seberat 200 kg tidak mendapatkan uang karena alamatnya salah. Ainur Rofiq tidak patah arang. Dia tetap berusaha mencari jalan keluar.

Baca Juga :  Sempat Kesulitan Cari Bahan Materi tentang Kongo

Ainur Rofiq memutuskan berangkat sendiri untuk mengirimkan pesanan. Dia ingin mengetahui alamat pemesan yang sebenarnya. Ternyata ketemu. Transaksi yang dilakukan Ainur Rofiq lancar. Dia mendapatkan untung cukup besar. Sebab, ikan yang dia beli di TPI Brondong dengan harga murah, bisa jual lagi dengan harga tiga kali lipat. Pengeluarannya hanya biaya perjalanan.‘’Kalau saat ini sudah tak ada lagi penipun, uang tinggal transfer,’’ ujarnya.

Hampir setiap pekan sekali, dia mengirim ikan dengan kondisi segar. Sekali kirim minimal seberat 500 kg. Jika jumlahnya sedikit, maka dia akan rugi dengan ongkos kirimnya. Sebelum dikirim, ikan dibersihkan dan dibungkus dengan plastic. Setelah itu, dicampur es. Tujuannya, ketika sampai lokasi masih dalam keadaan segar dan bersih, siap untuk dimasak.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/