alexametrics
32.6 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Bulan Ini Puncak Hujan, Desa Gondang Banjir

Radar Bojonegoro – Bulan ini hingga Februari mendatang merupakan puncak musim hujan. Banjir luapan sungai masih terus mengintai. Terutama kali atau sungai kiriman dari kawasan selatan. Edukasi kebencanaan diperlukan mengingat tingginya curah hujan akibat fenomena la nina ini.

“Lalu, penyebab lainnya seperti kurangnya resapan air karena semakin banyak permukiman warga. Lalu, saluran drainase mengalami pendangkalan sehingga daya tampung air menururun, butuh normalisasi,” Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Nadif Ulfia.

Sejauh ini, berdasar asesmen Tim BPBD banjir luapan kerap terjadi usai hujan deras ketika sore sekitar pukul 17.00. Kemudian, butuh waktu sekitar tiga jam air mulai surut. Sementara itu, kemarin banjir bandang di Kecamatan Gondang.

Baca Juga :  Temukan Anak Dipaksa Menikah Dini

Sekitar pukul 14.00 kemarin anak Kali Pacal dan Kali Gandong meluap mengakibatkan Dusun/ Desa Gondang dan Dusun Tliweng, Desa Senganten, Kecamatan Gondang tergenang. Akibatnya jalan poros desa serta 53 rumah terdampak. Air mulai perlahan surut sejak pukul 20.00.

”Ketinggian air akibat luapan anak Kali Pacal dan Kali Gandong sekitar 30 hingga 40 sentimeter,” kata Kasi Pencegahan dan Kesiapsiaggaan BPBD Bojonegoro Eko Susanto.

Dia menambahkan, bahwa ada lima kecamatan terdampak banjir luapan sungai pada 8-9 Januari lalu. Pada Jumat lalu (8/1), Kali Curing dan Kali Pundong meluap mengakibatkan Kecamatan Kedewan, Kasiman, Malo, dan Padangan, tergenang.

“Banjir luapan tersebut menggenangi 711 rumah warga dan 90 hektare area persawahan,” ujar Eko. Kemudian, pada Sabtu lalu (9/1) Kali Kening meluap mengakibatkan Desa Guyangan dan Desa Sumberjo di Kecamatan Trucuk tergenang. Ada 68 rumah dan 39 hektare sawah tergenang.

Baca Juga :  KSBP Sunan Drajat Jadi Embrio Jaringan Ritel Modern Berbasis Pesantren

Luapan air sudah surut sekitar pukul 09.00 kemarin pagi (10/1). “Beberapa fasilitas umum seperti TK, SD, musala, dan jalan poros desa juga terdampak. Namun, air sudah surut pagi tadi (kemarin),” katanya. Eko menilai berkurangnya pohon di berbagai wilayah cukup berdampak terhadap sering terjadinya luapan sungai maupun tanah longsor.

Radar Bojonegoro – Bulan ini hingga Februari mendatang merupakan puncak musim hujan. Banjir luapan sungai masih terus mengintai. Terutama kali atau sungai kiriman dari kawasan selatan. Edukasi kebencanaan diperlukan mengingat tingginya curah hujan akibat fenomena la nina ini.

“Lalu, penyebab lainnya seperti kurangnya resapan air karena semakin banyak permukiman warga. Lalu, saluran drainase mengalami pendangkalan sehingga daya tampung air menururun, butuh normalisasi,” Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Nadif Ulfia.

Sejauh ini, berdasar asesmen Tim BPBD banjir luapan kerap terjadi usai hujan deras ketika sore sekitar pukul 17.00. Kemudian, butuh waktu sekitar tiga jam air mulai surut. Sementara itu, kemarin banjir bandang di Kecamatan Gondang.

Baca Juga :  Gagal di Indonesia Open, Justru Menang di Robofest Japan Open

Sekitar pukul 14.00 kemarin anak Kali Pacal dan Kali Gandong meluap mengakibatkan Dusun/ Desa Gondang dan Dusun Tliweng, Desa Senganten, Kecamatan Gondang tergenang. Akibatnya jalan poros desa serta 53 rumah terdampak. Air mulai perlahan surut sejak pukul 20.00.

”Ketinggian air akibat luapan anak Kali Pacal dan Kali Gandong sekitar 30 hingga 40 sentimeter,” kata Kasi Pencegahan dan Kesiapsiaggaan BPBD Bojonegoro Eko Susanto.

Dia menambahkan, bahwa ada lima kecamatan terdampak banjir luapan sungai pada 8-9 Januari lalu. Pada Jumat lalu (8/1), Kali Curing dan Kali Pundong meluap mengakibatkan Kecamatan Kedewan, Kasiman, Malo, dan Padangan, tergenang.

“Banjir luapan tersebut menggenangi 711 rumah warga dan 90 hektare area persawahan,” ujar Eko. Kemudian, pada Sabtu lalu (9/1) Kali Kening meluap mengakibatkan Desa Guyangan dan Desa Sumberjo di Kecamatan Trucuk tergenang. Ada 68 rumah dan 39 hektare sawah tergenang.

Baca Juga :  Petani Masih Dianggap Pekerjaan Remeh

Luapan air sudah surut sekitar pukul 09.00 kemarin pagi (10/1). “Beberapa fasilitas umum seperti TK, SD, musala, dan jalan poros desa juga terdampak. Namun, air sudah surut pagi tadi (kemarin),” katanya. Eko menilai berkurangnya pohon di berbagai wilayah cukup berdampak terhadap sering terjadinya luapan sungai maupun tanah longsor.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/