alexametrics
26.8 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Sering Dikucilkan, Ubah Rasa Duka Jadi Karya

BOJONEGORO – Di usianya yang masih 19 tahun, Fahma Lucky NWS mampu menelurkan satu buku novel berjudul Ndoro Putri. Novel tersebut secara garis besar menceritakan perjalanannya ‘hijrah’. Keputusannya memakai cadar juga sering jadi ledekan.

Seorang perempuan berjilbab dan bercadar hitam melangkah pelan mendekati air mancur Alun-Alun Bojonegoro. Perempuan itu berasal dari Kecamatan Bubulan di Alun-Alun Bojonegoro. Dia adalah Fahma Lucky NWS. Seorang penulis. 

Perempuan tersebut ramah saat diajak berbincang. Dia sempat minder, khawatir kurang nyaman dengan busana yang dia kenakan saat bertemu dengan Jawa Pos Radar Bojonegoro.  

“Saya awalnya kurang percaya diri, karena takutnya kurang nyaman dengan cadar saya,” tuturnya.

Sebelum berbincang-bincang seputar bukunya. Fahma, sedikit bercerita pengalamannya menggunakan cadar. Ternyata sejak usianya 17 tahun sudah mulai belajar mengenakan cadar. 

“Cadar ini awalnya hanya iseng saya pakai ketika dimintai tolong oleh sepupu saya untuk endorsement, tapi ternyata enak menggunakan cadar,” katanya. 

Dia pun terus menggali ilmu seputar penggunaan cadar. Sehingga, proses belajar menggunakan cadar juga seperti perjalanan spiritual yang tidak mudah. Banyak rintangan yang dia hadapi.

Fahma, sapaan akrabnya, pun tidak termasuk dalam golongan yang radikal. Gadis berusia 19 tahun itu juga warga Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus aktif mengikuti organisasi mahasiswa ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan pencak silat Pagar Nusa. “Saya NU mas,” ujar mahasiswi jurusan pendidikan agama islam (PAI) IAI Sunan Giri Bojonegoro itu. 

Baca Juga :  Menjadi Koki, Pria ini Tak Bisa Terlalu Egois¬†

Dia juga mengaku cukup fleksibel menggunakan cadarnya. Seperti ketika berlatih silat atau ikut kompetisi tentu akan melepas cadarnya. 

Kendati demikian, di balik ketenangan dan rasa semringah yang dia perlihatkan, ternyata terpendam rasa luka dan duka selama proses perjalanan spiritualnya. Ketika keputusan Fahma untuk mengenakan cadar saat masih duduk di bangku SMA, dia sering menerima perundungan dari teman sebayanya. 

Cacian dan makian sudah menjadi makanannya sehari-hari. “Berat ketika pakai cadar, dicaci maki itu sudah biasa, paling sering tuh dikatain munafik atau sok suci,” jelasnya. Namun, hal tersebut lama-kelamaan membuatnya semakin tebal mentalnya.

Dia pun ingin membuktikan kepada orang-orang di sekitarnya yang meremehkan maupun memandang sebelah mata. Mengapa keputusan pakai cadar menjadi hal yang harus ditakuti? Toh, kata dia, kalau memang teman tentu saling mengingatkan bukan menghujat. 

Ketika rasa duka menyelimutinya, Fahma mencoba untuk menulis guna menumpahkan perasaannya ketika menerima rintangan itu. “Rasanya perlu untuk berbagi dengan perempuan-perempuan muda lainnya untuk mengatasi rintangan ketika proses berhijrah,” ujar anak sulung pasangan Lugito dan Satini itu.

Tulisan-tulisan itu dikumpulkan sejak SMA dan akhirnya terkumpul menjadi tiga bab. Total halamannya sebanyak 113. “Tiga bab itu secara garis besar berisi motivasi kepada anak muda yang sedang berhijrah, cerita seputar diri saya, lalu yang terakhir berisi tentang hikmah yang bisa saya petik,” terangnya. 

Baca Juga :  Kompetitor Seleksi Sekda

Kemudian, tulisan-tulisan itu dia kumpulkan menjadi buku novel, bahkan dia sudah beri judul Ndoro Putri. Naskah bukunya pun ia kirim ke salah satu penerbit asal Bandung, J-Maestro pada Juli lalu. 

Tak disangka 1 Oktober lalu, buku Ndoro Putri diterbitkan. “Rasanya bahagia sekali buku saya diterbitkan, apalagi tanpa perlu keluarkan biaya,” katanya.

Adapun pemilihan judul Ndoro Putri, bagi Fahma ialah judul yang cocok menceritakan seputar perjalanan spiritualnya. Jadi, secara garis besar bukunya bercerita tentang ketuhanan. 

“Lebih kepada cerita relasi antara saya kepada sang pencipta,” ujarnya. Dia juga bercerita kerja sama dengan penerbit bukunya itu tak berhenti di buku saja. Namun juga ada kerja sama pembuatan video inspiratif seputar hijrah. 

“Iya rencananya bikin video inspiratif bernuansa religi, nanti pengambilan gambarnya di Malang, Bojonegoro, dan Surabaya,” ucapnya.

Fahma ingin terus berkarya dalam dunia penulisan. Bahkan, saat ini dia sudah mempersiapkan kumpulan sajak untuk dibukukan. 

“Buku kedua masih cari penerbit, saat ini saya sudah ada 150-an sajak yang siap dibukukan,” tuturnya. 

Kumpulan sajaknya itu akan bertema seputar alam semesta dan tuhan. Keunikan dari Fahma ialah proses kreatif yang ia jalani berawal dari saking seringnya ia melamun ketika sepertiga malam. 

“Jadi ketika buat tulisan buku novel atau bikin sajak itu usai melamun pas jam dua sampai jam tiga malam,” pungkasnya.

BOJONEGORO – Di usianya yang masih 19 tahun, Fahma Lucky NWS mampu menelurkan satu buku novel berjudul Ndoro Putri. Novel tersebut secara garis besar menceritakan perjalanannya ‘hijrah’. Keputusannya memakai cadar juga sering jadi ledekan.

Seorang perempuan berjilbab dan bercadar hitam melangkah pelan mendekati air mancur Alun-Alun Bojonegoro. Perempuan itu berasal dari Kecamatan Bubulan di Alun-Alun Bojonegoro. Dia adalah Fahma Lucky NWS. Seorang penulis. 

Perempuan tersebut ramah saat diajak berbincang. Dia sempat minder, khawatir kurang nyaman dengan busana yang dia kenakan saat bertemu dengan Jawa Pos Radar Bojonegoro.  

“Saya awalnya kurang percaya diri, karena takutnya kurang nyaman dengan cadar saya,” tuturnya.

Sebelum berbincang-bincang seputar bukunya. Fahma, sedikit bercerita pengalamannya menggunakan cadar. Ternyata sejak usianya 17 tahun sudah mulai belajar mengenakan cadar. 

“Cadar ini awalnya hanya iseng saya pakai ketika dimintai tolong oleh sepupu saya untuk endorsement, tapi ternyata enak menggunakan cadar,” katanya. 

Dia pun terus menggali ilmu seputar penggunaan cadar. Sehingga, proses belajar menggunakan cadar juga seperti perjalanan spiritual yang tidak mudah. Banyak rintangan yang dia hadapi.

Fahma, sapaan akrabnya, pun tidak termasuk dalam golongan yang radikal. Gadis berusia 19 tahun itu juga warga Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus aktif mengikuti organisasi mahasiswa ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan pencak silat Pagar Nusa. “Saya NU mas,” ujar mahasiswi jurusan pendidikan agama islam (PAI) IAI Sunan Giri Bojonegoro itu. 

Baca Juga :  Jalanan Padat, Ekonomi Bergeliat

Dia juga mengaku cukup fleksibel menggunakan cadarnya. Seperti ketika berlatih silat atau ikut kompetisi tentu akan melepas cadarnya. 

Kendati demikian, di balik ketenangan dan rasa semringah yang dia perlihatkan, ternyata terpendam rasa luka dan duka selama proses perjalanan spiritualnya. Ketika keputusan Fahma untuk mengenakan cadar saat masih duduk di bangku SMA, dia sering menerima perundungan dari teman sebayanya. 

Cacian dan makian sudah menjadi makanannya sehari-hari. “Berat ketika pakai cadar, dicaci maki itu sudah biasa, paling sering tuh dikatain munafik atau sok suci,” jelasnya. Namun, hal tersebut lama-kelamaan membuatnya semakin tebal mentalnya.

Dia pun ingin membuktikan kepada orang-orang di sekitarnya yang meremehkan maupun memandang sebelah mata. Mengapa keputusan pakai cadar menjadi hal yang harus ditakuti? Toh, kata dia, kalau memang teman tentu saling mengingatkan bukan menghujat. 

Ketika rasa duka menyelimutinya, Fahma mencoba untuk menulis guna menumpahkan perasaannya ketika menerima rintangan itu. “Rasanya perlu untuk berbagi dengan perempuan-perempuan muda lainnya untuk mengatasi rintangan ketika proses berhijrah,” ujar anak sulung pasangan Lugito dan Satini itu.

Tulisan-tulisan itu dikumpulkan sejak SMA dan akhirnya terkumpul menjadi tiga bab. Total halamannya sebanyak 113. “Tiga bab itu secara garis besar berisi motivasi kepada anak muda yang sedang berhijrah, cerita seputar diri saya, lalu yang terakhir berisi tentang hikmah yang bisa saya petik,” terangnya. 

Baca Juga :  Diduga Korupsi DD, Kades Glagahwangi Ditahan

Kemudian, tulisan-tulisan itu dia kumpulkan menjadi buku novel, bahkan dia sudah beri judul Ndoro Putri. Naskah bukunya pun ia kirim ke salah satu penerbit asal Bandung, J-Maestro pada Juli lalu. 

Tak disangka 1 Oktober lalu, buku Ndoro Putri diterbitkan. “Rasanya bahagia sekali buku saya diterbitkan, apalagi tanpa perlu keluarkan biaya,” katanya.

Adapun pemilihan judul Ndoro Putri, bagi Fahma ialah judul yang cocok menceritakan seputar perjalanan spiritualnya. Jadi, secara garis besar bukunya bercerita tentang ketuhanan. 

“Lebih kepada cerita relasi antara saya kepada sang pencipta,” ujarnya. Dia juga bercerita kerja sama dengan penerbit bukunya itu tak berhenti di buku saja. Namun juga ada kerja sama pembuatan video inspiratif seputar hijrah. 

“Iya rencananya bikin video inspiratif bernuansa religi, nanti pengambilan gambarnya di Malang, Bojonegoro, dan Surabaya,” ucapnya.

Fahma ingin terus berkarya dalam dunia penulisan. Bahkan, saat ini dia sudah mempersiapkan kumpulan sajak untuk dibukukan. 

“Buku kedua masih cari penerbit, saat ini saya sudah ada 150-an sajak yang siap dibukukan,” tuturnya. 

Kumpulan sajaknya itu akan bertema seputar alam semesta dan tuhan. Keunikan dari Fahma ialah proses kreatif yang ia jalani berawal dari saking seringnya ia melamun ketika sepertiga malam. 

“Jadi ketika buat tulisan buku novel atau bikin sajak itu usai melamun pas jam dua sampai jam tiga malam,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/