alexametrics
28.1 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

‘The Samin Movement’ Potret Gerakan Masyarakat Samin Masa Penjajahan

Radar Bojonegoro – “The Samin Movement” itulah judul jurnal karya Harry J. Benda dan Lance Castles. Jurnal karya penulis asal Belanda ini mengagumkan. Bukunya berbahasa Inggris diterbitkan pada 1969 itu memotret kisah gerakan masyarakat Samin di masa penjajahan Belanda.

Dalam jurnalnya, Benda dan Castles memastikan, gerakan Samin makin berkembang mulai 1890. Gerakan ini berkembang perlahan. Dua tempat penting dalam gerakan Samin adalah di wilayah Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, dan Klopoduwur, Blora.

Laporan Residen Rembang pada Januari 1903 menyebutkan, ada 772 penganut Gerakan Samin yang tersebar di 34 desa dalam lingkup Kabupaten Blora. Awalnya, Pemerintah Hindia Belanda me nganggap gerakan Samin sebagai sebuah aliran keagamaan baru. Perkembangan gerakan Samin semakin cepat setelah pada 1905, Pemerintah Hindia Belanda mengembangkan inovasi berupa pembukaan hutan produksi secara besar-besaran di kawasan Bojonegoro dan Blora.

Awal 1907 jumlah pengikut gerakan Samin meningkat, mencapai sekitar 3.000 orang. Pemerintah Hindia Belanda pun terkejut dan khawatir setelah ada kabar pada Maret 1907 akan ada pemberontakan. Penganut gerakan Samin yang hadir dalam pesta adat slametan di Kedungtuban, lalu ditangkap dengan alasan sedang mempersiapkan sebuah pemberontakan.

Anehnya, saat itu Samin Surosentiko tidak ditangkap. Beberapa hari kemudian, Samin Surosentiko diundang ke wilayah Rembang. Ternyata undangan tersebut digunakan menginterogasi Samin Surosentiko. Setelah diinterogasi, Samin Surosentiko bersama delapan pengikutnya diasingkan dan ditahan secara terpisah di wilayah Sawah lunto, Sumatera Barat.

Baca Juga :  Lindungi Hak Warga, Gelar Sidang Isbat Nikah Massal

Adapun catatan sejarah Samin Surosentiko kali pertama ditulis oleh Residen Tuban Johan Ernst (J.E) Jasper pada 1917. Padahal, Samin Surosentiko telah wafat di Sawahlunto, Sumatera Barat pada 1914. Dia diutus Pemerintah Belanda membuat laporan komprehensif terkait penyebaran ajaran dan gerakan Samin Surosentiko. Begitu pun, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo juga menulis tentang Samin Surosentiko pada 1918. Baru setelahnya laporan J.E Jasper dan dr. Tjipto Mangoen koesoemo itu dirangkum dalam jurnal berjudul The Samin Movement oleh Harry Jindrich Benda dan Lance Castles pada 1969.

Mengutip Buku Sejarah Kabupaten Bojonegoro (Menyingkap Kehidupan Dari Masa Ke Masa) 1988, penentang utama terhadap kebijakan pemerintah Belanda di daerah wilayah Bojonegoro adalah Gerakan Samin. Ada beberapa hal melandasi munculnya gerakan ini.

Pertama, mereka ingin mengembalikan tradisi lama. Karena tradisi waktu itu telah berantakan akibat masuknya pengaruh-pengaruh kebudayaan dari luar. Kedua, membangun sistem kolektif kembali baik dalam sistem ekonomi maupun dalam masyarakat. Ketiga, ingin membebaskan diri dari segala campur tangan pemerintah kolonial penjajahan.

Terakhir, kaitannya aturan-aturan baru diterapkan kolonialisme sangat memberatkan. Utamanya terkait pajak. Mengingat masyarakat Samin rerata seorang petani. Berpedoman ajaran ajaran Samin Surosentiko, masyarakat Samin menghendaki hidup bebas dan merdeka seluas-luasnya tanpa batas. Tidak sudi dan rela diperintah orang lain, khususnya penjajah Belanda.

Baca Juga :  Kualitas Bawang Merah Kalah Bersaing, 9.000 Ton Ikut Pasar Lelang

Mereka ingin hidup menurut kehendak sendiri. Dalam pada itu tidak suka memfitnah tidak suka menganggu lain pihak. Mereka tidak suka merugikan orang lain. Mereka tidak kenal dengan perkataan mencuri. Kelakuan mereka amat jujur dan tidak suka kekerasan. Kalaupun mereka menjalankan perintah orang lain, itupun hanya karena terpaksa. Bahkan dilakukan dengan menerapkan siasat. Berupa berbagai tindakan, sikap, hingga kata-kata berkesan melawan.

Merujuk Buku Samin, Bojonegoro, dan Dunia 2016, cara-cara diajarkan Samin Surosentiko untuk melawan kolonialisme memang tidak terlihat seperti perang. Tetapi cara ini justru membuat pemerintahan Belanda menjadi berang. Seperti diketahui, Bojonegoro terkenal sebagai penghasil tembakau dan kayu jati yang berkualitas tinggi.

Belanda memerlukan pendapatan dari pajak untuk menambah kas keuangannya. Saat itu, negara-negara di benua Eropa saling bersaing bisa mengapling wilayah-wilayah di Asia termasuk Indonesia. Untuk itu, Belanda memerlukan banyak dana menghadapi negara-negara lain juga ingin menguasai Indonesia dan juga untuk meningkatkan standar hidup di negaranya.

Sehingga, ketika sebagainya masyarakat Samin membangkang untuk membayar pajak, tentu menimbulkan kemarahan Belanda dan akhirnya mulai menangkap para pengikut masyarakat Samin. 

Radar Bojonegoro – “The Samin Movement” itulah judul jurnal karya Harry J. Benda dan Lance Castles. Jurnal karya penulis asal Belanda ini mengagumkan. Bukunya berbahasa Inggris diterbitkan pada 1969 itu memotret kisah gerakan masyarakat Samin di masa penjajahan Belanda.

Dalam jurnalnya, Benda dan Castles memastikan, gerakan Samin makin berkembang mulai 1890. Gerakan ini berkembang perlahan. Dua tempat penting dalam gerakan Samin adalah di wilayah Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, dan Klopoduwur, Blora.

Laporan Residen Rembang pada Januari 1903 menyebutkan, ada 772 penganut Gerakan Samin yang tersebar di 34 desa dalam lingkup Kabupaten Blora. Awalnya, Pemerintah Hindia Belanda me nganggap gerakan Samin sebagai sebuah aliran keagamaan baru. Perkembangan gerakan Samin semakin cepat setelah pada 1905, Pemerintah Hindia Belanda mengembangkan inovasi berupa pembukaan hutan produksi secara besar-besaran di kawasan Bojonegoro dan Blora.

Awal 1907 jumlah pengikut gerakan Samin meningkat, mencapai sekitar 3.000 orang. Pemerintah Hindia Belanda pun terkejut dan khawatir setelah ada kabar pada Maret 1907 akan ada pemberontakan. Penganut gerakan Samin yang hadir dalam pesta adat slametan di Kedungtuban, lalu ditangkap dengan alasan sedang mempersiapkan sebuah pemberontakan.

Anehnya, saat itu Samin Surosentiko tidak ditangkap. Beberapa hari kemudian, Samin Surosentiko diundang ke wilayah Rembang. Ternyata undangan tersebut digunakan menginterogasi Samin Surosentiko. Setelah diinterogasi, Samin Surosentiko bersama delapan pengikutnya diasingkan dan ditahan secara terpisah di wilayah Sawah lunto, Sumatera Barat.

Baca Juga :  Proyek JTB Hanya Serap 6.000 Pekerja

Adapun catatan sejarah Samin Surosentiko kali pertama ditulis oleh Residen Tuban Johan Ernst (J.E) Jasper pada 1917. Padahal, Samin Surosentiko telah wafat di Sawahlunto, Sumatera Barat pada 1914. Dia diutus Pemerintah Belanda membuat laporan komprehensif terkait penyebaran ajaran dan gerakan Samin Surosentiko. Begitu pun, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo juga menulis tentang Samin Surosentiko pada 1918. Baru setelahnya laporan J.E Jasper dan dr. Tjipto Mangoen koesoemo itu dirangkum dalam jurnal berjudul The Samin Movement oleh Harry Jindrich Benda dan Lance Castles pada 1969.

Mengutip Buku Sejarah Kabupaten Bojonegoro (Menyingkap Kehidupan Dari Masa Ke Masa) 1988, penentang utama terhadap kebijakan pemerintah Belanda di daerah wilayah Bojonegoro adalah Gerakan Samin. Ada beberapa hal melandasi munculnya gerakan ini.

Pertama, mereka ingin mengembalikan tradisi lama. Karena tradisi waktu itu telah berantakan akibat masuknya pengaruh-pengaruh kebudayaan dari luar. Kedua, membangun sistem kolektif kembali baik dalam sistem ekonomi maupun dalam masyarakat. Ketiga, ingin membebaskan diri dari segala campur tangan pemerintah kolonial penjajahan.

Terakhir, kaitannya aturan-aturan baru diterapkan kolonialisme sangat memberatkan. Utamanya terkait pajak. Mengingat masyarakat Samin rerata seorang petani. Berpedoman ajaran ajaran Samin Surosentiko, masyarakat Samin menghendaki hidup bebas dan merdeka seluas-luasnya tanpa batas. Tidak sudi dan rela diperintah orang lain, khususnya penjajah Belanda.

Baca Juga :  Try Out CBT: Masih Mencari Format yang Pas 

Mereka ingin hidup menurut kehendak sendiri. Dalam pada itu tidak suka memfitnah tidak suka menganggu lain pihak. Mereka tidak suka merugikan orang lain. Mereka tidak kenal dengan perkataan mencuri. Kelakuan mereka amat jujur dan tidak suka kekerasan. Kalaupun mereka menjalankan perintah orang lain, itupun hanya karena terpaksa. Bahkan dilakukan dengan menerapkan siasat. Berupa berbagai tindakan, sikap, hingga kata-kata berkesan melawan.

Merujuk Buku Samin, Bojonegoro, dan Dunia 2016, cara-cara diajarkan Samin Surosentiko untuk melawan kolonialisme memang tidak terlihat seperti perang. Tetapi cara ini justru membuat pemerintahan Belanda menjadi berang. Seperti diketahui, Bojonegoro terkenal sebagai penghasil tembakau dan kayu jati yang berkualitas tinggi.

Belanda memerlukan pendapatan dari pajak untuk menambah kas keuangannya. Saat itu, negara-negara di benua Eropa saling bersaing bisa mengapling wilayah-wilayah di Asia termasuk Indonesia. Untuk itu, Belanda memerlukan banyak dana menghadapi negara-negara lain juga ingin menguasai Indonesia dan juga untuk meningkatkan standar hidup di negaranya.

Sehingga, ketika sebagainya masyarakat Samin membangkang untuk membayar pajak, tentu menimbulkan kemarahan Belanda dan akhirnya mulai menangkap para pengikut masyarakat Samin. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/