alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Usai Ngurusi Rumah Tangga, 146 Perempuan Diajak Merajut

SEBAGIAN perempuan di Kecamatan Gayam, tetap tinggal di rumah. Di sela mendidik anak dan mengurusi pekerjaan rumah, tetap produktif merajut tali menjadi berbagai kerajinan dan menambah pendapatan.

Perempuan berkerudung itu terlihat duduk di teras rumahnya di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam. Dua tangannya terlihat bergerak. Cekatan memegang seutas tali untuk merajut.

Pandangannya fokus merajut, meski di luar rumahnya terasa terik. Menyengat. Suhu udara di kecamatan berada di kawasan industri migas itu butuh ruang terbuka hijau. Perlahan-lahan bentuk merajut benang itu mulai tampak. ’’Ini membuat tas, dari tali,’’ kata Siti Nurul Hidayati kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro , kemarin (9/10).

Perempuan akrab disapa Nurul itu menceritakan, proses pembuatan kerajinan dari tali rajut ini sudah sekitar setahun. Awalnya mengikuti pelatihan pembuatan kerajinan dari tali di desanya. Dia menekuni dan saat ini bisa memproduksi tas dari tali rajut.

Baca Juga :  Lupa Matikan Kompor, Rumah Terbakar

Tak puas dengan satu produk, dia mengembangkan lagi bentuk lainnya. Seperti peci, dompet, dan topi bayi. ’’Jadi bukan hanya tas,’’ ungkap perempuan kelahiran Juli 1992 itu.

Bahan bakunya, Nurul selama ini mendatangankan dari Jogjakarta karena lebih mudah dengan skala besar. Dia mengajak tetangganya belajar membuat kerajinan tali rajut.

Pelan tapi pasti, pemberdayaan ibu rumah tangga (IRT) di Desa Bonorejo memproduksi kerajinan tali rajut terus bertambah. Meski awalnya ada beberapa ibu rumah tangga yang sempat nyinyir, karena menilai produknya tidak akan laku dijual.

’’Saat ini di desa saya (Bonorejo), sudah 40 ibu-ibu yang memproduksi,’’ ujarnya optimistis.

Berawal dari forum-forum kecil ibu-ibu ketika berkumpul, banyak ibu-ibu tetangga yang penasaran kerajinan tali rajut itu. Nurul dengan senang hati mengajak tetangganya belajar membuat kerajinan. Bahkan, saat ini sudah banyak ibu rumah tangga di desa lain yang memproduksi kerajinan dari tali rajut. Di antaranya Desa Sudu, Begadon, Gayam, dan Sumurpandan. ’’Totalnya 146 ibu-ibu yang sudah mulai memproduksi,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Menagih Janji

Dengan berbagi ilmu, Nurul memiliki keyakinan akan menambah rezeki. Buktinya dengan banyak perajin, akan mudah mendatangkan bahan baku, karena ongkos kirim bahan baku juga lebih irit.

Penjualan tas rajut ini hingga luar daerah. Termasuk bisa memasok tas rajut dalam jumlah besar. Terbukti, hampir setiap minggu mendapatkan pesanan dari pemesan Jogjakarta, Semarang, dan Surabaya.

’’Karena untuk memproduksi ini tidak dengan mesin, tapi manual. Sehari bisa memproduksi satu produk sudah bagus,’’ bebernya.

Karena untuk ibu rumah tangga, pekerjaannya bukan hanya membuat kerajinan, tapi mengurusi rumah. Tentu, membuat kerajinan bukan pekerjaan utama. Namun, dilakukan setelah tuntas mengurusi pekerjaan rumah tangga.

SEBAGIAN perempuan di Kecamatan Gayam, tetap tinggal di rumah. Di sela mendidik anak dan mengurusi pekerjaan rumah, tetap produktif merajut tali menjadi berbagai kerajinan dan menambah pendapatan.

Perempuan berkerudung itu terlihat duduk di teras rumahnya di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam. Dua tangannya terlihat bergerak. Cekatan memegang seutas tali untuk merajut.

Pandangannya fokus merajut, meski di luar rumahnya terasa terik. Menyengat. Suhu udara di kecamatan berada di kawasan industri migas itu butuh ruang terbuka hijau. Perlahan-lahan bentuk merajut benang itu mulai tampak. ’’Ini membuat tas, dari tali,’’ kata Siti Nurul Hidayati kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro , kemarin (9/10).

Perempuan akrab disapa Nurul itu menceritakan, proses pembuatan kerajinan dari tali rajut ini sudah sekitar setahun. Awalnya mengikuti pelatihan pembuatan kerajinan dari tali di desanya. Dia menekuni dan saat ini bisa memproduksi tas dari tali rajut.

Baca Juga :  Bersinergi, TNI - Polri Tetap Netral

Tak puas dengan satu produk, dia mengembangkan lagi bentuk lainnya. Seperti peci, dompet, dan topi bayi. ’’Jadi bukan hanya tas,’’ ungkap perempuan kelahiran Juli 1992 itu.

Bahan bakunya, Nurul selama ini mendatangankan dari Jogjakarta karena lebih mudah dengan skala besar. Dia mengajak tetangganya belajar membuat kerajinan tali rajut.

Pelan tapi pasti, pemberdayaan ibu rumah tangga (IRT) di Desa Bonorejo memproduksi kerajinan tali rajut terus bertambah. Meski awalnya ada beberapa ibu rumah tangga yang sempat nyinyir, karena menilai produknya tidak akan laku dijual.

’’Saat ini di desa saya (Bonorejo), sudah 40 ibu-ibu yang memproduksi,’’ ujarnya optimistis.

Berawal dari forum-forum kecil ibu-ibu ketika berkumpul, banyak ibu-ibu tetangga yang penasaran kerajinan tali rajut itu. Nurul dengan senang hati mengajak tetangganya belajar membuat kerajinan. Bahkan, saat ini sudah banyak ibu rumah tangga di desa lain yang memproduksi kerajinan dari tali rajut. Di antaranya Desa Sudu, Begadon, Gayam, dan Sumurpandan. ’’Totalnya 146 ibu-ibu yang sudah mulai memproduksi,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Terkendala, SK GTT Tetap Penugasan Bukan Pengangkatan

Dengan berbagi ilmu, Nurul memiliki keyakinan akan menambah rezeki. Buktinya dengan banyak perajin, akan mudah mendatangkan bahan baku, karena ongkos kirim bahan baku juga lebih irit.

Penjualan tas rajut ini hingga luar daerah. Termasuk bisa memasok tas rajut dalam jumlah besar. Terbukti, hampir setiap minggu mendapatkan pesanan dari pemesan Jogjakarta, Semarang, dan Surabaya.

’’Karena untuk memproduksi ini tidak dengan mesin, tapi manual. Sehari bisa memproduksi satu produk sudah bagus,’’ bebernya.

Karena untuk ibu rumah tangga, pekerjaannya bukan hanya membuat kerajinan, tapi mengurusi rumah. Tentu, membuat kerajinan bukan pekerjaan utama. Namun, dilakukan setelah tuntas mengurusi pekerjaan rumah tangga.

Artikel Terkait

Most Read

Cium Dump Truk, Sopir Truk Terjepit

DPRD Juga Menolak Beras Impor

Merawat Amanah Umat

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/