alexametrics
26.8 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Minyak Curah Tidak Mudah Susut

LAMONGAN, Radar Lamongan – Peredaran minyak curah di Lamongan dibatasi. Pertimbangannya, memberikan perlindungan konsumen.

“Bukan ditarik sepenuhnya, kita batasi supaya perlahan konsumen beralih ke kemasan,” ujar Kepala Disperindag Lamongan, M. Zamroni.

Menurut dia, aturan wajib menggunakan minyak kemasan sudah ada di Permendag Tahun 2014. Namun, penerapannya tidak mutlak karena konsumen minyak curah masih banyak. Mulai tahun depan, penggunaan minyak curah dibatasi dan dipantau peredarannya.

Zamroni menjelaskan, minyak goreng curah diproduksi produsen turunan dari crude palm oil (CPO) yang melewati proses refining, bleaching, dan deodorizing (RBD) di pabrikan. Namun, proses pendistribusiannya menggunakan tangki yang dituangkan ke drum-drum pasar. Higienitasnya dan kandungan gizinya dinilai berkurang. 

Baca Juga :  Menko Airlangga Tinjau UMKM Rumahan di Surakarta

Selain itu, ada oknum yang bertindak curang dengan mencampur minyak jelantah. Karena itu, pemerintah menyarankan untuk menggunakan minyak kemasan. Aturannya, harga ecer tertinggi (HET) minyak ukuran satu liter Rp 11 ribu. Namun, ada penjual yang menjual Rp 900 ml dengan harga sama. “Kalau ditemukan seperti itu, konsumen harus cerdas sebab harga ditawarkan juga bermacam, meski ada HET nya,” ujarnya.

Salah satu pedagang di Pasar Sidoharjo, Zumaroh, mengatakan, sebagian besar konsumen minyak goreng curah pedagang makanan. Mereka memilih jenis tersebut karena murah, Rp 10 ribu satu liter. Selain itu, takarannya sesuai karena ditimbang di depan pembeli.

Dia bisa menjual sekitar 100 liter selama sepekan. Menurut Zumaroh, minyak curah ada nomornya. Kalau nomor satu, kualitas super warnanya cerah dan tidak meletus saat dipanasi. Berbeda dengan nomor dua atau tiga. Perbedaan nomor itu diketahui melalui warna.

Baca Juga :  Berani Merias kalau Ada Kakak

Dia hanya menerima jadi, tidak tahu proses pengolahannya. Jika dibatasi, maka Zumaroh menilai tidak berdampak. Alasannya, pedagang pasar sudah menyediakan minyak kemasan. “Kemungkinan yang merasa dampaknya pedagang yang jual  makanan matang,” tuturnya.

Salah satu penjual gorengan, Sumirah, mengaku masih menggunakan minyak goreng curah. Alasannya, harganya terjangkau dan tidak mudah susut saat digunakan menggoreng.

Menurut dia, minyak kemasan itu mudah susut. Misalnya untuk satu kali jual, hanya butuh 1,5 liter minyak curah. Kalau menggunakan minyak kemasan bisa 2 liter.  Karena itu, dia masih mengoplos minyak kemasan dan curah. “Biasanya saya oplos, karena harga minyak kemasan juga mahal. Kadang takarannya juga tidak sesuai,” katanya.

LAMONGAN, Radar Lamongan – Peredaran minyak curah di Lamongan dibatasi. Pertimbangannya, memberikan perlindungan konsumen.

“Bukan ditarik sepenuhnya, kita batasi supaya perlahan konsumen beralih ke kemasan,” ujar Kepala Disperindag Lamongan, M. Zamroni.

Menurut dia, aturan wajib menggunakan minyak kemasan sudah ada di Permendag Tahun 2014. Namun, penerapannya tidak mutlak karena konsumen minyak curah masih banyak. Mulai tahun depan, penggunaan minyak curah dibatasi dan dipantau peredarannya.

Zamroni menjelaskan, minyak goreng curah diproduksi produsen turunan dari crude palm oil (CPO) yang melewati proses refining, bleaching, dan deodorizing (RBD) di pabrikan. Namun, proses pendistribusiannya menggunakan tangki yang dituangkan ke drum-drum pasar. Higienitasnya dan kandungan gizinya dinilai berkurang. 

Baca Juga :  Konsep Perputaran Buku Antarperpus Desa

Selain itu, ada oknum yang bertindak curang dengan mencampur minyak jelantah. Karena itu, pemerintah menyarankan untuk menggunakan minyak kemasan. Aturannya, harga ecer tertinggi (HET) minyak ukuran satu liter Rp 11 ribu. Namun, ada penjual yang menjual Rp 900 ml dengan harga sama. “Kalau ditemukan seperti itu, konsumen harus cerdas sebab harga ditawarkan juga bermacam, meski ada HET nya,” ujarnya.

Salah satu pedagang di Pasar Sidoharjo, Zumaroh, mengatakan, sebagian besar konsumen minyak goreng curah pedagang makanan. Mereka memilih jenis tersebut karena murah, Rp 10 ribu satu liter. Selain itu, takarannya sesuai karena ditimbang di depan pembeli.

Dia bisa menjual sekitar 100 liter selama sepekan. Menurut Zumaroh, minyak curah ada nomornya. Kalau nomor satu, kualitas super warnanya cerah dan tidak meletus saat dipanasi. Berbeda dengan nomor dua atau tiga. Perbedaan nomor itu diketahui melalui warna.

Baca Juga :  Harga Naik Tetap Merugi

Dia hanya menerima jadi, tidak tahu proses pengolahannya. Jika dibatasi, maka Zumaroh menilai tidak berdampak. Alasannya, pedagang pasar sudah menyediakan minyak kemasan. “Kemungkinan yang merasa dampaknya pedagang yang jual  makanan matang,” tuturnya.

Salah satu penjual gorengan, Sumirah, mengaku masih menggunakan minyak goreng curah. Alasannya, harganya terjangkau dan tidak mudah susut saat digunakan menggoreng.

Menurut dia, minyak kemasan itu mudah susut. Misalnya untuk satu kali jual, hanya butuh 1,5 liter minyak curah. Kalau menggunakan minyak kemasan bisa 2 liter.  Karena itu, dia masih mengoplos minyak kemasan dan curah. “Biasanya saya oplos, karena harga minyak kemasan juga mahal. Kadang takarannya juga tidak sesuai,” katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Latihan di Wall Diganti Latihan Fisik

Dua Koruptor Segera Disidangkan

Klaim AUTP, Jumlah Premi Jomplang

Artikel Terbaru


/