alexametrics
31.2 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Berangkat dari Hobi, Hasilkan Pundi-Pundi Uang 

Setiap gelap menyapa, tubuh mungil Evika Dwi Rohmatin tidak selalu terlelap. Dia selalu terjaga di depan meja kecil dengan secarik kertas bergambar dengan cutter melekat di jemarinya. 

———————————-

RIKA RATMAWATI, Bojonegoro

———————————-

Jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB.  Hening malam merayap. Dalam sebuah kamar berukuran 2mx3m dilengkapi lampu belajar berdaya 10 watt, Evika Dwi Rohmatin mulai memainkan kreativitasnya di atas kertas bergambar yang sudah di desain sebelumnya. Setelah kertas diraihnya, dengan cekatan dia mulai memainkan cutter mengikuti pola garis lurus dan lengkung dari setiap desain gambarnya. 

Proses paper cut sedang dimulai. Meski terbilang biasa, tetapi seni potong kertas memiliki tingkat kesulitan tinggi. Karena pemotong harus mengikuti pola sesuai gambar dan tidak boleh ada kertas terpotong. ”Kalau ada kertas terpotong tidak sesuai pola maka harus dilakukan desain ulang dan pemotongan ulang,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro. 

Memiliki kemampuan dasar untuk memotong kertas tidaklah cukup untuk menjadi seorang seniman paper cut. Menjadi seniman paper cut berarti harus siap dihadapkan dengan situasi tenang dalam kurun waktu sangat lama. Karena, seni  paper cut membutuhkan tingkat ketelitian dan kesabaran tinggi bagi para pelaku. 

Baca Juga :  Raih Juara 2 LKS Bidang CNC Milling

Selain itu, tahapan-tahapan dari seni paper cut tidak bisa dipelajari hanya dengan teori. Sebab, pelaku harus langsung praktek membuat desain dan memotong pola sesuai dengan keinginannya. 

Seni paper cut memang terlihat biasa apabila seseorang tidak memiliki jiwa seni tinggi. Karena menghargai karya butuh melihat proses panjang dalam pembuatan karya tersebut. Misalnya, lirik sebuah lagu, pendengar hanya bisa mencaci lirik tersebut apabila tidak sesuai dengan kehendak hatinya. Padahal, setiap bait dari lirik-lirik tersebut tentu dibuat dengan berbagai pertimbangan dan penuh makna. 

Sama halnya dengan seni paper cut, tidak sedikit dari masyarakat menganggap biasa seni memotong kertas tersebut. Karena mereka menganggap bahwa seni memotong kertas merupakan hal biasa dan mudal dilakukan. Tanpa memperhatikan tingkat kesulitannya dalam memainkan cutter di atas kertas tersebut. ”Untuk pelanggan seni memotong kertas di Bojonegoro masih sangat jarang, rata-rata dari luar kota dan pulau,”paparnya. 

Karya paper cut cukup variatif, biasanya selalu berkaitan dengan foto dan figur sosok tertentu.  Sehingga, konsumen akan menentukan foto untuk didesain kemudian akan dilakukan tahapan pemotongan kertas setelah mendapat persetujuan dari konsumen. Setelah itu, konsumen bisa memilih background sesuai dengan keinginannya. Biasanya penyelesaian background memakan waktu cukup lama, karena desainnya lebih sulit. 

Baca Juga :  Rekrutmen CPNS, Tunggu Formasi dari Kemenpan RB

Semula seni memotong kertas bukanlan pekerjaan dari dara kelahiran Bojonegoro, 24 tahun lalu. Tetapi, profesinya sebagai karyawan perusahaan swasta dan bergerak pada jasa konstruksi agaknya tidak menarik perhatiannya lagi. Sehingga, tanpa berpikir panjang, dia mulai keluar dari zona nyaman tersebut. 

Memilih menjadi seniman paper cut tentu memiliki pertimbangan kuat, bahkan dia memiliki idola seniman memotong kertas dari Jakarta. Kiprah dari seniman tersebut kemudian menginspirasinya untuk memulai mengasah kemampuannya dalam seni menggambar. 

Menggeluti bidang seni paper cut tidaklah mudah. Sebab, tidak ada tutorial khusus untuk menunjang pengetahuannya. Sehingga, menggali pengetahuan melalui praktek secara langsung menjadi tantangan bagi pelaku seni paper cut. Selain itu, tidak semua orang bisa menghargai seni paper cut. Karena seni tersebut belum familier di telinga masyarakat Bojonegoro, sehingga harus melalu proses panjang untuk pengenalannya. 

Harapannya, ke depan akan banyak bermunculan para pelaku seni, bukan hanya bidang musik, tari, dan drama, tetapi juga memotong kertas. Sebab, hasil dari seni memotong kertas bernilai jual tinggi, karena unsur artistiknya sangat kental.

Setiap gelap menyapa, tubuh mungil Evika Dwi Rohmatin tidak selalu terlelap. Dia selalu terjaga di depan meja kecil dengan secarik kertas bergambar dengan cutter melekat di jemarinya. 

———————————-

RIKA RATMAWATI, Bojonegoro

———————————-

Jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB.  Hening malam merayap. Dalam sebuah kamar berukuran 2mx3m dilengkapi lampu belajar berdaya 10 watt, Evika Dwi Rohmatin mulai memainkan kreativitasnya di atas kertas bergambar yang sudah di desain sebelumnya. Setelah kertas diraihnya, dengan cekatan dia mulai memainkan cutter mengikuti pola garis lurus dan lengkung dari setiap desain gambarnya. 

Proses paper cut sedang dimulai. Meski terbilang biasa, tetapi seni potong kertas memiliki tingkat kesulitan tinggi. Karena pemotong harus mengikuti pola sesuai gambar dan tidak boleh ada kertas terpotong. ”Kalau ada kertas terpotong tidak sesuai pola maka harus dilakukan desain ulang dan pemotongan ulang,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro. 

Memiliki kemampuan dasar untuk memotong kertas tidaklah cukup untuk menjadi seorang seniman paper cut. Menjadi seniman paper cut berarti harus siap dihadapkan dengan situasi tenang dalam kurun waktu sangat lama. Karena, seni  paper cut membutuhkan tingkat ketelitian dan kesabaran tinggi bagi para pelaku. 

Baca Juga :  Raih Juara 2 LKS Bidang CNC Milling

Selain itu, tahapan-tahapan dari seni paper cut tidak bisa dipelajari hanya dengan teori. Sebab, pelaku harus langsung praktek membuat desain dan memotong pola sesuai dengan keinginannya. 

Seni paper cut memang terlihat biasa apabila seseorang tidak memiliki jiwa seni tinggi. Karena menghargai karya butuh melihat proses panjang dalam pembuatan karya tersebut. Misalnya, lirik sebuah lagu, pendengar hanya bisa mencaci lirik tersebut apabila tidak sesuai dengan kehendak hatinya. Padahal, setiap bait dari lirik-lirik tersebut tentu dibuat dengan berbagai pertimbangan dan penuh makna. 

Sama halnya dengan seni paper cut, tidak sedikit dari masyarakat menganggap biasa seni memotong kertas tersebut. Karena mereka menganggap bahwa seni memotong kertas merupakan hal biasa dan mudal dilakukan. Tanpa memperhatikan tingkat kesulitannya dalam memainkan cutter di atas kertas tersebut. ”Untuk pelanggan seni memotong kertas di Bojonegoro masih sangat jarang, rata-rata dari luar kota dan pulau,”paparnya. 

Karya paper cut cukup variatif, biasanya selalu berkaitan dengan foto dan figur sosok tertentu.  Sehingga, konsumen akan menentukan foto untuk didesain kemudian akan dilakukan tahapan pemotongan kertas setelah mendapat persetujuan dari konsumen. Setelah itu, konsumen bisa memilih background sesuai dengan keinginannya. Biasanya penyelesaian background memakan waktu cukup lama, karena desainnya lebih sulit. 

Baca Juga :  Dua Bulan, 53 Kasus Demam Berdarah

Semula seni memotong kertas bukanlan pekerjaan dari dara kelahiran Bojonegoro, 24 tahun lalu. Tetapi, profesinya sebagai karyawan perusahaan swasta dan bergerak pada jasa konstruksi agaknya tidak menarik perhatiannya lagi. Sehingga, tanpa berpikir panjang, dia mulai keluar dari zona nyaman tersebut. 

Memilih menjadi seniman paper cut tentu memiliki pertimbangan kuat, bahkan dia memiliki idola seniman memotong kertas dari Jakarta. Kiprah dari seniman tersebut kemudian menginspirasinya untuk memulai mengasah kemampuannya dalam seni menggambar. 

Menggeluti bidang seni paper cut tidaklah mudah. Sebab, tidak ada tutorial khusus untuk menunjang pengetahuannya. Sehingga, menggali pengetahuan melalui praktek secara langsung menjadi tantangan bagi pelaku seni paper cut. Selain itu, tidak semua orang bisa menghargai seni paper cut. Karena seni tersebut belum familier di telinga masyarakat Bojonegoro, sehingga harus melalu proses panjang untuk pengenalannya. 

Harapannya, ke depan akan banyak bermunculan para pelaku seni, bukan hanya bidang musik, tari, dan drama, tetapi juga memotong kertas. Sebab, hasil dari seni memotong kertas bernilai jual tinggi, karena unsur artistiknya sangat kental.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/