alexametrics
29.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

PBSI Tuban Mulai Cari Bapak Asuh

TUBAN, Radar Tuban – Mundurnya Djarum Foundation di dunia bulu tangkis Indonesia diprediksi berdampak besar dalam mencari bibit baru regenerasi atlet. Di Tuban, satu-satunya kompetisi bulu tangkis tahunan yang rutin digelar adalah event dari salah satu perusahaan rokok tersebut. Kemungkinan event bulu tangkis dari Djarum yang rencananya digelar 16 – 19 Oktober ini merupakan yang terakhir di Tuban.

Sekretaris Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Tuban Bambang Sumadyo mengatakan, untuk menggelar event bulu tangkis membutuhkan biaya Rp 50 – 60 juta. Biaya tersebut termasuk sewa tempat, wasit, dan hadiah. ‘’Untuk mencari uang sebesar itu, tentu tidak mudah. Jadi harus ada bapak asuh yang peduli terhadap pengembangan atlet bulu tangkis Tuban,’’ tegas dia.

Baca Juga :  Siapkan Konsep Kafe untuk Kedatom Kompleks Wisata Pantai Boom

Mantan camat Semanding ini mengatakan, dihapuskannya Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis mulai 2020 tentu mengusik ketenangan atlet dan perkumpulan bulu tangkis (PB) di Tuban. Sebab, selama ini belum ada perusahaan lain di Tuban yang peduli dalam pengembangan bakat atlet, terutama di bidang bulu tangkis. ‘’Kalau tidak ada bapak asuh, event tahunan bulu tangkis besar sulit diselenggarakan di Tuban,’’ imbuh dia.

Pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) ini berharap kompetisi dan audisi atlet bulu tangkis di Tuban tidak terhenti. Bambang mengatakan, Maria Kristin, salah satu pemain bulu tangkis nasional kelahiran Tuban adalah bukti bahwa atlet Tuban memiliki potensi dan bakat yang luar biasa. Karena itu, pasca kabar mundurnya salah satu vendor pelaksana kompetisi bulu tangkis nasional tersebut, PBSI Tuban mulai cari akal agar kompetisi internal kabupaten tidak berhenti.

Baca Juga :  Olah Pisang Jadi Keripik dan Dodol

Bambang lebih lanjut mengatakan untuk mencetak bibit-bibit atlet berprestasi nasional dan internasional tidak bisa instan. Sehingga, kepedulian bapak asuh diharapkan tidak sebatas seremonial dalam menggelar event saja. Melainkan juga harus ada pembinaan berkelanjutan agar regenerasi atlet masa depan terus ada. ‘’Sambil menunggu solusi dari pusat (Kemenpora, Red), setelah ini mau bagaimana  (untuk pengembangan atlet bulu tangkis,’’ ungkap pebulutangkis senior ini.

TUBAN, Radar Tuban – Mundurnya Djarum Foundation di dunia bulu tangkis Indonesia diprediksi berdampak besar dalam mencari bibit baru regenerasi atlet. Di Tuban, satu-satunya kompetisi bulu tangkis tahunan yang rutin digelar adalah event dari salah satu perusahaan rokok tersebut. Kemungkinan event bulu tangkis dari Djarum yang rencananya digelar 16 – 19 Oktober ini merupakan yang terakhir di Tuban.

Sekretaris Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Tuban Bambang Sumadyo mengatakan, untuk menggelar event bulu tangkis membutuhkan biaya Rp 50 – 60 juta. Biaya tersebut termasuk sewa tempat, wasit, dan hadiah. ‘’Untuk mencari uang sebesar itu, tentu tidak mudah. Jadi harus ada bapak asuh yang peduli terhadap pengembangan atlet bulu tangkis Tuban,’’ tegas dia.

Baca Juga :  Eks TKI Banyak, Perlu Keahlian Wirausaha

Mantan camat Semanding ini mengatakan, dihapuskannya Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis mulai 2020 tentu mengusik ketenangan atlet dan perkumpulan bulu tangkis (PB) di Tuban. Sebab, selama ini belum ada perusahaan lain di Tuban yang peduli dalam pengembangan bakat atlet, terutama di bidang bulu tangkis. ‘’Kalau tidak ada bapak asuh, event tahunan bulu tangkis besar sulit diselenggarakan di Tuban,’’ imbuh dia.

Pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) ini berharap kompetisi dan audisi atlet bulu tangkis di Tuban tidak terhenti. Bambang mengatakan, Maria Kristin, salah satu pemain bulu tangkis nasional kelahiran Tuban adalah bukti bahwa atlet Tuban memiliki potensi dan bakat yang luar biasa. Karena itu, pasca kabar mundurnya salah satu vendor pelaksana kompetisi bulu tangkis nasional tersebut, PBSI Tuban mulai cari akal agar kompetisi internal kabupaten tidak berhenti.

Baca Juga :  Ikasmada Susun Pengurus Baru

Bambang lebih lanjut mengatakan untuk mencetak bibit-bibit atlet berprestasi nasional dan internasional tidak bisa instan. Sehingga, kepedulian bapak asuh diharapkan tidak sebatas seremonial dalam menggelar event saja. Melainkan juga harus ada pembinaan berkelanjutan agar regenerasi atlet masa depan terus ada. ‘’Sambil menunggu solusi dari pusat (Kemenpora, Red), setelah ini mau bagaimana  (untuk pengembangan atlet bulu tangkis,’’ ungkap pebulutangkis senior ini.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/