alexametrics
25.4 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Kali ini Pasar, Sebulan Terakhir 16 Kali Kebakaran

BALEN – Suhu panas terjadi kemarau ini rawan memicu korsleting listrik. Kewaspadaan ini harus diantisipasi. Sebab, kebakaran belum berhenti.

Kemarin pagi (9/9) salah satu toko di kompleks Pasar Bongkal Desa Mayangkawis, Kecamatan Balen dilalap si jago merah.

Kebakaran melahap kios pertokoan milik Darmin, 63, itu tidak mengakibatkan korban jiwa. Namun, kerugian ditaksir mencapai Rp 150 juta. Kejadian ini menambah deretan panjang kebakaran.

Dalam sebulan terakhir, sudah terjadi 16 kejadian kebakaran. Kasi Operasi Dinas Pemadam Kebakaran Bojonegoro Sukirno mengatakan, kebakaran sekitar pukul 06.30 saat sebagian masyarakat belum mulai beraktivitas.

Sepuluh menit kemudian, tepatnya damkar mendapat laporan. Api merambat cepat karena si jago merah melahap barang-barang toko yang menjual peralatan listrik.

Baca Juga :  Bisnis Travel Bidik Konsumen Perusahaan

Api baru bisa dipadamkan setelah dua armada damkar tiba di lokasi. “Kita tiba pukul 07.00 dan api bisa dipadamkan pukul 07.45,” kata Sukirno. 

Berdasar data di lapangan, kata Sukirno, kebakaran terjadi disebabkan korsleting listrik. Karena terjadi di kawasan pertokoan dan banyak barang-barang kering dan mudah terbakar, api mudah merambat dan membesar. 

Adanya kebakaran tersebut, menurut dia, harus menjadi pelajaran bagi masyarakat. Sebab, dalam sebulan terakhir kebakaran hampir terjadi sebanyak 16 kali di Bojonegoro.

Karena itu, dia mengimbau agar masyarakat berhati-hati terhadap api. Sekecil apapun api, di bulan kemarau sangat berbahaya. 

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Bojonegoro Andik Sudjarwo menambahkan, suhu di Bojonegoro tergolong panas, apalagi di musim kemarau seperti saat ini.

Baca Juga :  Taksi Online Enggan Mendaftar

Sehingga, percikan api sangat berbahaya dan harus menjadi fokus waspada. Baik dari korsleting listrik, gas elpiji, ataupun proses pembakaran sampah.

Seiring dengan peningkatan suhu di musim kemarau, terutama siang, masyarakat juga harus mewaspadai tempat penyimpanan material mudah terbakar.

Sebab, kebakaran bisa terjadi akibat meletakkan material mudah terbakar di tempat yang salah. 

‘’Kehati-hatiannya ditambah menyimpan barang mudah terbakar,” imbuhnya.

BALEN – Suhu panas terjadi kemarau ini rawan memicu korsleting listrik. Kewaspadaan ini harus diantisipasi. Sebab, kebakaran belum berhenti.

Kemarin pagi (9/9) salah satu toko di kompleks Pasar Bongkal Desa Mayangkawis, Kecamatan Balen dilalap si jago merah.

Kebakaran melahap kios pertokoan milik Darmin, 63, itu tidak mengakibatkan korban jiwa. Namun, kerugian ditaksir mencapai Rp 150 juta. Kejadian ini menambah deretan panjang kebakaran.

Dalam sebulan terakhir, sudah terjadi 16 kejadian kebakaran. Kasi Operasi Dinas Pemadam Kebakaran Bojonegoro Sukirno mengatakan, kebakaran sekitar pukul 06.30 saat sebagian masyarakat belum mulai beraktivitas.

Sepuluh menit kemudian, tepatnya damkar mendapat laporan. Api merambat cepat karena si jago merah melahap barang-barang toko yang menjual peralatan listrik.

Baca Juga :  Waspada! Tiga Bulan, 223 Orang Menderita Tuberkolusis

Api baru bisa dipadamkan setelah dua armada damkar tiba di lokasi. “Kita tiba pukul 07.00 dan api bisa dipadamkan pukul 07.45,” kata Sukirno. 

Berdasar data di lapangan, kata Sukirno, kebakaran terjadi disebabkan korsleting listrik. Karena terjadi di kawasan pertokoan dan banyak barang-barang kering dan mudah terbakar, api mudah merambat dan membesar. 

Adanya kebakaran tersebut, menurut dia, harus menjadi pelajaran bagi masyarakat. Sebab, dalam sebulan terakhir kebakaran hampir terjadi sebanyak 16 kali di Bojonegoro.

Karena itu, dia mengimbau agar masyarakat berhati-hati terhadap api. Sekecil apapun api, di bulan kemarau sangat berbahaya. 

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Bojonegoro Andik Sudjarwo menambahkan, suhu di Bojonegoro tergolong panas, apalagi di musim kemarau seperti saat ini.

Baca Juga :  PSHT v Bonek Sepakat Damai : Jangan Terprovokasi Medsos

Sehingga, percikan api sangat berbahaya dan harus menjadi fokus waspada. Baik dari korsleting listrik, gas elpiji, ataupun proses pembakaran sampah.

Seiring dengan peningkatan suhu di musim kemarau, terutama siang, masyarakat juga harus mewaspadai tempat penyimpanan material mudah terbakar.

Sebab, kebakaran bisa terjadi akibat meletakkan material mudah terbakar di tempat yang salah. 

‘’Kehati-hatiannya ditambah menyimpan barang mudah terbakar,” imbuhnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/