alexametrics
23.2 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

Meninggal, Keluarga Pasien Covid-19 Dipidanakan

- Advertisement -

Radar Tuban – Kematian pasien Covid-19 Iin Widyawati, 41, warga Desa Karangagung, Kecamatan Palang pada 5 Mei lalu tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya. Belum sepekan janda satu anak itu dimakamkan dengan protokol kesehatan, tuduhan kasus penipuan muncul.

Untuk penyelidikan perkara tersebut, kini satu per satu keluarga almarhumah dimintai keterangan di Satreskrim Polres Tuban. Dugaannya menyembunyikan uang hasil penipuan Iin sebesar Rp 12 miliar. Pelapornya Hanifah Harun warga sedesanya.

Supriyadi, penasihat hukum keluarga Iin kepada Jawa Pos Radar Tuban mengatakan, tuduhan menipu uang sebesar 12 miliar sangat tidak masuk akal untuk ukuran Iin yang hanya penjual gorengan dengan kehidupan yang sangat sederhana. Rumahnya pun butut dan hanya berukuran 4×16 meter (m).

‘’Sangat tidak masuk akal,’’ tegas dia yang menyilakan wartawan koran ini untuk mengecek kondisinya. Selain hal yang tak masuk akal tersebut, kata Supriyadi, penyelidikan polisi terkesan dipaksakan, karena yang bersangkutan sudah meninggal dunia.

Berdasarkan pasal 77 KUHP, terang dia, hak menuntut hukuman gugur atau tidak berlaku lagi karena yang dituduh sudah meninggal dunia. Diterangkan dia, pasal tersebut meng andung satu prinsip bahwa penuntutan hukuman harus ditujukan kepada diri pribadi orang.

- Advertisement -

Karena itu, apabila orang yang dituduh melakukan perbuatan pidana telah meninggal dunia, maka tuntutan atas peristiwa pidana tersebut selesai sampai di situ. Artinya, tuntutan tidak dapat diarahkan kepada ahli warisnya karena didalam hukum pidana tidak dikenal adanya pengalihan pertanggungjawaban pidana.

Baca Juga :  Mahasiswa Gelar Doa Bersama Untuk ’’Kesembuhan’’ IAINU

Supriyadi lebih lanjut mengatakan, kalau berdasarkan bukti yang cukup Iin benar melakukan penipuan sebagaimana yang dituduhkan, maka setelah meninggalnya yang bersangkutan perbuatan yang dituduhkan tersebut tidak bisa dilimpahkan atau menjadi tanggung jawab ahli warisnya.

‘’Apalagi, ini keluarganya sama sekali tidak tahu,’’ tegas bendahara Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Tuban itu. Untuk menjerat keluarga almarhumah yang tidak tahu menahu, kata Supriyadi, adik kandung Iin yang bernama Wiwin Ufiana dipaksa menandatangani surat pernyataan tanggung jawab mengembalikan uang Rp 8 miliar.

Disampaikan dia, dalam penyelidikan kasus yang dituduhkan, polisi sudah memintai keterangan enam keluarga almarhumah. Mereka adalah Tesa (anak kan dung Iin), Wiwin Ufiana dan Bus tanul Arifin (adik kandung), serta Sunardi (saudara ipar). Juga ikut dimintai keterangan kedua orang tua Iin, Suudi dan Sumarni.

Dari enam keluarga Iin yang dimintai keterangan penyidik, kata dia, hanya Tessa yang tinggal serumah. Sementara lainnya tinggal di rumah sendiri. Praktisi hukum yang juga dosen Fakultas Hukum Universitas Sunan Bonang (Unang) Tuban itu mengungkapkan, kasus pidana tersebut baru diketahui keluarga almarhumah lima hari setelah Iin meninggal dunia atau pada 11 Mei.

Baca Juga :  Imunisasi Rubella Harus Menyenangkan

Pada hari itu, keluarga pelapor Hanifah mendatangi rumah duka. Didampingi aparat keamanan, mereka menggeledah seisi rumah Iin. Dari penggeledahan tersebut, keluarga pelapor mengambil perhiasan, ponsel, dan kuitansi. ‘’Tindakan penggeledahan dan pengambilan barang tersebut juga tidak dibenarkan. Saya akan melaporkan balik,’’ tegas advokat yang berkantor di Jalan Karang Pucang, Tuban itu.

Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono mengatakan seluruh laporan masyarakat akan diterima, namun bisa dihentikan sewaktu-waktu jika tidak memenuhi unsur perkara. Ruruh menjelaskan, penghentian penyidikan kasus sudah diatur dalam pasal 109 ayat 2 KUHAP. Salah satu hal yang bisa membuat penyidikan dihentikan karena terlapor meninggal dunia.

“Keterangan tersangka adalah salah satu barang bukti,” terang dia. Terkait kasus pelaporan terhadap Iin Widyawati, mantan Kapolres Madiun itu masih akan mengecek lebih lanjut. Sebab hingga saat ini kasus tersebut belum masuk ke mejanya. Kemungkinan kasus tersebut baru dilaporkan dan belum diadakan gelar perkara. “Jangankan sudah mati ketika baru dilaporkan. Di tengah proses penyidikan aja kalau tersangka meninggal bisa dihentikan penyidikannya,” tegas lulusan Akpol 2000 itu.

Radar Tuban – Kematian pasien Covid-19 Iin Widyawati, 41, warga Desa Karangagung, Kecamatan Palang pada 5 Mei lalu tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya. Belum sepekan janda satu anak itu dimakamkan dengan protokol kesehatan, tuduhan kasus penipuan muncul.

Untuk penyelidikan perkara tersebut, kini satu per satu keluarga almarhumah dimintai keterangan di Satreskrim Polres Tuban. Dugaannya menyembunyikan uang hasil penipuan Iin sebesar Rp 12 miliar. Pelapornya Hanifah Harun warga sedesanya.

Supriyadi, penasihat hukum keluarga Iin kepada Jawa Pos Radar Tuban mengatakan, tuduhan menipu uang sebesar 12 miliar sangat tidak masuk akal untuk ukuran Iin yang hanya penjual gorengan dengan kehidupan yang sangat sederhana. Rumahnya pun butut dan hanya berukuran 4×16 meter (m).

‘’Sangat tidak masuk akal,’’ tegas dia yang menyilakan wartawan koran ini untuk mengecek kondisinya. Selain hal yang tak masuk akal tersebut, kata Supriyadi, penyelidikan polisi terkesan dipaksakan, karena yang bersangkutan sudah meninggal dunia.

Berdasarkan pasal 77 KUHP, terang dia, hak menuntut hukuman gugur atau tidak berlaku lagi karena yang dituduh sudah meninggal dunia. Diterangkan dia, pasal tersebut meng andung satu prinsip bahwa penuntutan hukuman harus ditujukan kepada diri pribadi orang.

- Advertisement -

Karena itu, apabila orang yang dituduh melakukan perbuatan pidana telah meninggal dunia, maka tuntutan atas peristiwa pidana tersebut selesai sampai di situ. Artinya, tuntutan tidak dapat diarahkan kepada ahli warisnya karena didalam hukum pidana tidak dikenal adanya pengalihan pertanggungjawaban pidana.

Baca Juga :  Indukan Langka, Populasi Kambing dan Domba di Bojonegoro Terancam

Supriyadi lebih lanjut mengatakan, kalau berdasarkan bukti yang cukup Iin benar melakukan penipuan sebagaimana yang dituduhkan, maka setelah meninggalnya yang bersangkutan perbuatan yang dituduhkan tersebut tidak bisa dilimpahkan atau menjadi tanggung jawab ahli warisnya.

‘’Apalagi, ini keluarganya sama sekali tidak tahu,’’ tegas bendahara Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Tuban itu. Untuk menjerat keluarga almarhumah yang tidak tahu menahu, kata Supriyadi, adik kandung Iin yang bernama Wiwin Ufiana dipaksa menandatangani surat pernyataan tanggung jawab mengembalikan uang Rp 8 miliar.

Disampaikan dia, dalam penyelidikan kasus yang dituduhkan, polisi sudah memintai keterangan enam keluarga almarhumah. Mereka adalah Tesa (anak kan dung Iin), Wiwin Ufiana dan Bus tanul Arifin (adik kandung), serta Sunardi (saudara ipar). Juga ikut dimintai keterangan kedua orang tua Iin, Suudi dan Sumarni.

Dari enam keluarga Iin yang dimintai keterangan penyidik, kata dia, hanya Tessa yang tinggal serumah. Sementara lainnya tinggal di rumah sendiri. Praktisi hukum yang juga dosen Fakultas Hukum Universitas Sunan Bonang (Unang) Tuban itu mengungkapkan, kasus pidana tersebut baru diketahui keluarga almarhumah lima hari setelah Iin meninggal dunia atau pada 11 Mei.

Baca Juga :  Kampung Tangguh Lamongan Yang Mengesankan

Pada hari itu, keluarga pelapor Hanifah mendatangi rumah duka. Didampingi aparat keamanan, mereka menggeledah seisi rumah Iin. Dari penggeledahan tersebut, keluarga pelapor mengambil perhiasan, ponsel, dan kuitansi. ‘’Tindakan penggeledahan dan pengambilan barang tersebut juga tidak dibenarkan. Saya akan melaporkan balik,’’ tegas advokat yang berkantor di Jalan Karang Pucang, Tuban itu.

Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono mengatakan seluruh laporan masyarakat akan diterima, namun bisa dihentikan sewaktu-waktu jika tidak memenuhi unsur perkara. Ruruh menjelaskan, penghentian penyidikan kasus sudah diatur dalam pasal 109 ayat 2 KUHAP. Salah satu hal yang bisa membuat penyidikan dihentikan karena terlapor meninggal dunia.

“Keterangan tersangka adalah salah satu barang bukti,” terang dia. Terkait kasus pelaporan terhadap Iin Widyawati, mantan Kapolres Madiun itu masih akan mengecek lebih lanjut. Sebab hingga saat ini kasus tersebut belum masuk ke mejanya. Kemungkinan kasus tersebut baru dilaporkan dan belum diadakan gelar perkara. “Jangankan sudah mati ketika baru dilaporkan. Di tengah proses penyidikan aja kalau tersangka meninggal bisa dihentikan penyidikannya,” tegas lulusan Akpol 2000 itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/