alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Senang Pemilu Damai

NDUK – Jawa Timur baru selesai menggelar pesta demokrasi. Sebagai warga Jatim, Ambar Tri Ningsih mengaku senang karena pemilihan gubernur dan wakil gubernur di tempat tinggalnya nyaris tanpa kendala berarti. Dan, terpenting berjalan damai tanpa diwarnai protes keras dari masing-masing kubu.

Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini mengatakan, pemilu adalah wajah demokrasi masyarakat. Jika pemilu tanpa konflik, hampir dipastikan masyarakat kian dewasa dalam berdemokrasi. Tentu ini menjadi tolok ukur yang bagus bagi negara demokrasi Indonesia. ‘’Pemilu Jawa Timur nyaris tanpa kampanye hitam, tanda bagus untuk masa depan bangsa,’’ ungkap dara yang akrab disapa Ambar ini.

Alumni SMAN 3 Tuban ini mengatakan, satu-satunya yang perlu dibenahi dalam pemilu di tanah air adalah tingkat partisipasi pemilih yang sangat minim. Tentu, ini tak lepas dari minimnya sosialisasi tentang pentingnya pemilu. Padahal, satu suara yang diberikan sangat penting dan menentukan masa depan bagi Jatim. Sebab, kebijakan pemimpinnya sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat. ‘’Jadi jangan sampai golput atau salah pilih pemimpin,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Agar Sesuai Spek, Sertu Basuki Arahkan Danru Satgas TMMD

Dara asal Desa Boto, Kecamatan Semanding ini mengatakan, minimnya partisipasi pemilih tak lepas dari minimnya edukasi politik. Bagi sebagian masyarakat, politik tidak penting untuk dipelajari. Padahal, politik berperan penting menentukan kebijakan dan peraturan yang kedepannya menguntungkan atau justru merugikan. ‘’Pengetahuan masyarakat tentang politik harus terus ditingkatkan,’’ ungkap aktivis mahasiswa Unesa ini.

NDUK – Jawa Timur baru selesai menggelar pesta demokrasi. Sebagai warga Jatim, Ambar Tri Ningsih mengaku senang karena pemilihan gubernur dan wakil gubernur di tempat tinggalnya nyaris tanpa kendala berarti. Dan, terpenting berjalan damai tanpa diwarnai protes keras dari masing-masing kubu.

Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini mengatakan, pemilu adalah wajah demokrasi masyarakat. Jika pemilu tanpa konflik, hampir dipastikan masyarakat kian dewasa dalam berdemokrasi. Tentu ini menjadi tolok ukur yang bagus bagi negara demokrasi Indonesia. ‘’Pemilu Jawa Timur nyaris tanpa kampanye hitam, tanda bagus untuk masa depan bangsa,’’ ungkap dara yang akrab disapa Ambar ini.

Alumni SMAN 3 Tuban ini mengatakan, satu-satunya yang perlu dibenahi dalam pemilu di tanah air adalah tingkat partisipasi pemilih yang sangat minim. Tentu, ini tak lepas dari minimnya sosialisasi tentang pentingnya pemilu. Padahal, satu suara yang diberikan sangat penting dan menentukan masa depan bagi Jatim. Sebab, kebijakan pemimpinnya sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat. ‘’Jadi jangan sampai golput atau salah pilih pemimpin,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Bagi Gadis ini, Untuk Mencapai Sesuatu Kuncinya adalah Terus Belajar

Dara asal Desa Boto, Kecamatan Semanding ini mengatakan, minimnya partisipasi pemilih tak lepas dari minimnya edukasi politik. Bagi sebagian masyarakat, politik tidak penting untuk dipelajari. Padahal, politik berperan penting menentukan kebijakan dan peraturan yang kedepannya menguntungkan atau justru merugikan. ‘’Pengetahuan masyarakat tentang politik harus terus ditingkatkan,’’ ungkap aktivis mahasiswa Unesa ini.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/