alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Per Tahun Kekurangan 8.304 Ton Telur

BOJONEGORO – Konsumsi komoditas telur di Bojonegoro cukup tinggi. Namun, tidak diimbangi dengan produksi telur. Sehingga, selama ini pasokan telur masih didatangkan dari luar daerah, seperti Blitar dan Nganjuk. Kekurangan pasokan telur sebanyak 8.304 ton per tahun. Seharusnya, peluang menjadi peternak ayam petelur prospektif, tetapi kenyataannya peminatnya masih sepi.

Tak berimbangnya konsumsi dan produksi memicu harga telur rentan naik. Kasi Ketersediaan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Bojonegoro Revi Puspitasari mengatakan, pada 2018 ini kebutuhan telur tiap bulan sekitar 967 ton. Dari proyeksi disusun, jumlah konsumsi tahun ini mencapai 9.217 ton, namun ketersediannya hanya 913 ton. “Kita kekurangan pasokan telur sebanyak 8.304 ton,” jelasnya.

Baca Juga :  Belum Berani Menjual, Karena Belum Mampu Mengurus Izin

Hal tersebut menjadi atensi Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro. Sehingga, setiap ada pertemuan dengan para peternak, kerap memotivasi membudidayakan ayam petelur. Alasan utama peternak enggan budidaya karena suhu dan kelembapan kandang harus benar-benar terjaga. “Ayam petelur suhunya sekitar 28 derajat Celsius, salah satu solusinya tentu dibuatkan kandang di tempat teduh, karena suhu Bojonegoro bisa mencapai 30 derajat lebih,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Budidaya dan Pengembangan Ternak Elvia Nuraini.

Perempuan akrab disapa Elvi ternyata sudah membudidayakan ayam petelur di rumah bersama suaminya. Dia membeli bibit ayam petelur di wilayah Blitar seharga Rp 40 ribuan per ekornya. Lalu membuat kandang sederhana di rumah. “Awal 2018, saya dan suami beli 100 ekor ayam petelur dan bangun kandang, perkiraan modal awal sekitar Rp 10 juta,” jelasnya. Kemudian hasil panennya diproyeksi 2.000 butir per bulan.

Baca Juga :  Paska Lebaran, Harga Barang Justru Naik

Harga jualnya per butir sekitar Rp 1.000, jadi per bulan bisa meraup omzet Rp 2 juta. “Hitungan itu kalau semuanya berhasil bertelur 20 butir per ekor per bulan,” tuturnya. “Ayam petelur ketika sudah berusia 72 hingga 80 minggu sudah afkir atau tidak bisa produksi lagi. Ayamnya bisa dipotong dijual,” pungkasnya.

BOJONEGORO – Konsumsi komoditas telur di Bojonegoro cukup tinggi. Namun, tidak diimbangi dengan produksi telur. Sehingga, selama ini pasokan telur masih didatangkan dari luar daerah, seperti Blitar dan Nganjuk. Kekurangan pasokan telur sebanyak 8.304 ton per tahun. Seharusnya, peluang menjadi peternak ayam petelur prospektif, tetapi kenyataannya peminatnya masih sepi.

Tak berimbangnya konsumsi dan produksi memicu harga telur rentan naik. Kasi Ketersediaan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Bojonegoro Revi Puspitasari mengatakan, pada 2018 ini kebutuhan telur tiap bulan sekitar 967 ton. Dari proyeksi disusun, jumlah konsumsi tahun ini mencapai 9.217 ton, namun ketersediannya hanya 913 ton. “Kita kekurangan pasokan telur sebanyak 8.304 ton,” jelasnya.

Baca Juga :  Mobil Tertabrak Kereta Api di Perlintasan Tanpa Palang

Hal tersebut menjadi atensi Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro. Sehingga, setiap ada pertemuan dengan para peternak, kerap memotivasi membudidayakan ayam petelur. Alasan utama peternak enggan budidaya karena suhu dan kelembapan kandang harus benar-benar terjaga. “Ayam petelur suhunya sekitar 28 derajat Celsius, salah satu solusinya tentu dibuatkan kandang di tempat teduh, karena suhu Bojonegoro bisa mencapai 30 derajat lebih,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Budidaya dan Pengembangan Ternak Elvia Nuraini.

Perempuan akrab disapa Elvi ternyata sudah membudidayakan ayam petelur di rumah bersama suaminya. Dia membeli bibit ayam petelur di wilayah Blitar seharga Rp 40 ribuan per ekornya. Lalu membuat kandang sederhana di rumah. “Awal 2018, saya dan suami beli 100 ekor ayam petelur dan bangun kandang, perkiraan modal awal sekitar Rp 10 juta,” jelasnya. Kemudian hasil panennya diproyeksi 2.000 butir per bulan.

Baca Juga :  Harga Telur Rp 2.000 Per Butir

Harga jualnya per butir sekitar Rp 1.000, jadi per bulan bisa meraup omzet Rp 2 juta. “Hitungan itu kalau semuanya berhasil bertelur 20 butir per ekor per bulan,” tuturnya. “Ayam petelur ketika sudah berusia 72 hingga 80 minggu sudah afkir atau tidak bisa produksi lagi. Ayamnya bisa dipotong dijual,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Setor dan Tarik PDAM

Klaim Buah Impor Dongkrak Penjualan

Komitmen Memperkuat Kerja Sama Global

Artikel Terbaru


/