alexametrics
23.3 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

UNBK Masih Dianggap Sakral

TUBAN – Kendati ujian nasional tak lagi menjadi penentu kelulusan, namun bagi sebagian sekolah di Tuban, ujian nasional berbasis komputer (UNBK) masih menjadi hal yang sakral. Sehingga, selain belajar juga dibutuhkan persiapan spiritual.

Madrasah Aliyah (MA) Ash Shomadiyah Tuban, misalnya. Sebelumnya menghadapi ujian berbasis informasi teknologi di hari pertama Senin (9/4), para siswa diwajibkan untuk minum air yang sebelumnya sudah ‘’diisi’’ doa, salawat nabi, kalimah hauqolah, dan Al Fatihah.

Kepala MA Ash Shomadiyah Riza Shalahuddin Habibie mengatakan, meminum air asma’ sebelum pelaksanaan ujian sudah menjadi tradisi di sekolahnya. Sehingga, meski kini ujian nasional tak lagi menjadi penentu kelulusan, tradisi tersebut tetap dipertahankan.

‘’Ini merupakan air wudu dari masjid. Filosofinya, dengan dibacakan doa tertentu, anak-anak diberikan kejernihan dalam berpikir saat mengerjakan soal seperti air yang diminum,’’ kata dia.

Baca Juga :  Kawasan Industri Bojonegoro Bakal Ditempatkan di 16 Kecamatan

Dengen begitu, lanjut Riza, seluruh siswanya bisa lulus dengan nilai memuaskan. ‘’Kita selalu berdoa untuk meraih nilai yang terbaik, meski saat ini ujian nasional tak lagi menjadi penentu kelulusan,’’ tandasnya.

Di bagian lain, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Tuban Edy Sukarno mengatakan, hari pertama UNBK SMA/MA kemarin berjalan lancar. Tidak ada kendala. ‘’Alhamdulillah, secara umum berjalan lancar,’’ kata dia. Lancarnya UNBK juga berlangsung di MA swasta yang sebelumnya menjadi atensi karena merupakan tahun pertama menggelar UNBK.

Sekadar diketahui, jumlah siswa yang mengikuti UNBK sebanyak 6.835 siswa dari 37 SMA dan 40 MA se-Kabupaten Tuban. Dari total 77 SMA/MA se-Tuban, enam di antaranya menggabung ke sekolah lain. Yakni, SMA Islam Toriqul Huda Soko bergabung dengan SMAN 1 Rengel, kemudian SMA Islamiyah Senori bergabung SMAN 1 Singgahan, SMA Al Huda Tuban ke SMAN 2 Tuban, SMA Al Uswah Tuban ke SMAN 4 Tuban, SMA Insan Kamil Bancar ke SMAN 1 Tambakboyo, dan SMA Katolik Santo Yusuf Tuban nebeng ke SMA PGRI 1 Tuban.

Baca Juga :  Billboard Mangkrak Kian Berkarat

Selain karena faktor sarana-prasarana (sarpras) yang belum memadai, sebagian sekolah yang menggabung juga disebabkan karena faktor akreditasi dan jumlah murid yang belum memenuhi syarat untuk menggelar UNBK secara mandiri. Yakni, kurang dari 20 siswa.

TUBAN – Kendati ujian nasional tak lagi menjadi penentu kelulusan, namun bagi sebagian sekolah di Tuban, ujian nasional berbasis komputer (UNBK) masih menjadi hal yang sakral. Sehingga, selain belajar juga dibutuhkan persiapan spiritual.

Madrasah Aliyah (MA) Ash Shomadiyah Tuban, misalnya. Sebelumnya menghadapi ujian berbasis informasi teknologi di hari pertama Senin (9/4), para siswa diwajibkan untuk minum air yang sebelumnya sudah ‘’diisi’’ doa, salawat nabi, kalimah hauqolah, dan Al Fatihah.

Kepala MA Ash Shomadiyah Riza Shalahuddin Habibie mengatakan, meminum air asma’ sebelum pelaksanaan ujian sudah menjadi tradisi di sekolahnya. Sehingga, meski kini ujian nasional tak lagi menjadi penentu kelulusan, tradisi tersebut tetap dipertahankan.

‘’Ini merupakan air wudu dari masjid. Filosofinya, dengan dibacakan doa tertentu, anak-anak diberikan kejernihan dalam berpikir saat mengerjakan soal seperti air yang diminum,’’ kata dia.

Baca Juga :  Inventarisasi Aset PD Pasar

Dengen begitu, lanjut Riza, seluruh siswanya bisa lulus dengan nilai memuaskan. ‘’Kita selalu berdoa untuk meraih nilai yang terbaik, meski saat ini ujian nasional tak lagi menjadi penentu kelulusan,’’ tandasnya.

Di bagian lain, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Tuban Edy Sukarno mengatakan, hari pertama UNBK SMA/MA kemarin berjalan lancar. Tidak ada kendala. ‘’Alhamdulillah, secara umum berjalan lancar,’’ kata dia. Lancarnya UNBK juga berlangsung di MA swasta yang sebelumnya menjadi atensi karena merupakan tahun pertama menggelar UNBK.

Sekadar diketahui, jumlah siswa yang mengikuti UNBK sebanyak 6.835 siswa dari 37 SMA dan 40 MA se-Kabupaten Tuban. Dari total 77 SMA/MA se-Tuban, enam di antaranya menggabung ke sekolah lain. Yakni, SMA Islam Toriqul Huda Soko bergabung dengan SMAN 1 Rengel, kemudian SMA Islamiyah Senori bergabung SMAN 1 Singgahan, SMA Al Huda Tuban ke SMAN 2 Tuban, SMA Al Uswah Tuban ke SMAN 4 Tuban, SMA Insan Kamil Bancar ke SMAN 1 Tambakboyo, dan SMA Katolik Santo Yusuf Tuban nebeng ke SMA PGRI 1 Tuban.

Baca Juga :  Kawasan Industri Bojonegoro Bakal Ditempatkan di 16 Kecamatan

Selain karena faktor sarana-prasarana (sarpras) yang belum memadai, sebagian sekolah yang menggabung juga disebabkan karena faktor akreditasi dan jumlah murid yang belum memenuhi syarat untuk menggelar UNBK secara mandiri. Yakni, kurang dari 20 siswa.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/