alexametrics
32.2 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Tak Terdeteksi atau Dianggap Kelaziman?

Praktik jasa pembuatan skripsi sudah menjalar ke mana-mana dan dianggap hal yang lumrah. Sehingga, fenomena tentu sangat disayangkan oleh banyak pihak. Pasalnya, bisnis skripsi hanya akan menurunkan kualitas pendidikan perguruan tinggi, lantaran titik berat bisnis skripsi adalah pada seberapa besar keuntungan materi yang diperoleh penyedia jasa dan bukan pada pendidikan itu sendiri.

Bisa jadi, bisnis jasa skripsi ini tak mungkin dihilangkan, lantaran sama sekali tidak aturan hukum yang jelas mengaturnya. Sebab, sebagian besar bisnis skripsi berkedok membantu menyelesaikan skripsi, bukan jual-beli skripsi. 

Praktik yang dianggap rahasia umum oleh para mahasiswa di Bojonegoro itu menurut seorang akademisi asal Bojonegoro, Mochamad Nizar Palefi Ma’ady, sangat mencederai citra pendidikan kampus dan tanggung jawab moral sebagai seorang mahasiswa. Karena biar bagaimanapun proses pembuatan skripsi, tesis, maupun disertasi merupakan salah satu hal di dalam tri dharma perguruan tinggi. “Di dalamnya tri dharma itu kan ada pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat, jadi idealnya harus ditempuh tuntas oleh seluruh mahasiswa,” ujar pria yang sedang menempuh studi S3 industrial management di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). 

Baca Juga :  Pemkab Bojonegoro Bakal Bangun Dua Flyover

Menurut dia, fenomena tersebut memang tidak bisa ditepis. Karena memang masih banyak mahasiswa yang orientasinya bukan kepada keilmuan yang akan mereka peroleh. Namun orientasinya hanyalah uang dengan cara agar cepat memeroleh ijazah sarjana. Begitu pun tak menutup kemungkinan para mahasiswa S2 dan S3 yang menggarapkan jurnal atau bahkan tesis dan disertasi kepada orang lain. “Karena permintaan ada, jadi pelakunya tentu akan selalu ada,” ujar pria yang juga menjadi dosen Unugiri jurusan teknik informatika.

Pria yang akrab disapa Nizar itu pun sering mendengar di kalangan teman-temanya yang juga menggeluti ilmu-ilmu seputar informatika biasanya buka jasa untuk menggarap coding para mahasiswa S1. Karena memang banyak mahasiswa informatika yang kesulitan, sehingga ambil jalan pintas. Padahal tugas akhir atau skripsi merupakan produk besar para mahasiswa yang seharusnya bisa memberikan manfaat kepada sekitarnya.

Sementara itu, Dosen Fakultas Hukum Univertas Bojonegoro M. Yasir mengatakan, tak pernah mengetahui maupun menemukan praktik-praktik jasa pembuatan skripsi. Dia pun menjamin bahwa mahasiswa bimbingannya dipastikan membuat skripsi secara mandiri, tidak digarapkan oleh orang lain. “Kalau mahasiswa yang saya bimbing dijamin tidak ada yang pakai jasa orang lain mas, karena saya pasti tahu kalau memang skripsi tersebut buatan orang lain,” tuturnya. Menurut dia, skripsi itu tanggung jawab moral yang tinggi, karena setiap pembuatan skripsi, mahasiswa menyertakan pernyataan orisinalitas atas skripsi yang dibuat. 

Baca Juga :  Eks Kades Pragelan Terancam Hukuman Berat

Kalau memang terbukti plagiarisme, tentunya bisa dipolisikan dan masuk ranah pidana karena menyangkut UU hak cipta. Namun, hingga sekarang, memang belum ada temuan tersebut. Sebab, secara kode etik akademik tentu sangat melanggar praktik-praktik tersebut. 

Ketua Pusat Belajar dan Informasi Universitas Terbuka (PBI-UT) Bojonegoro Sukarni mengungkapkan, tidak ada skripsi di UT. Jadi para calon S1 hanya diwajibkan ambil mata kuliah tugas akhir program (TAP) dengan jumlah 4 SKS. Sistemnya membuat makalah sekaligus karya ilmiah sesuai dengan topik yang akan diujikan TAP. “Sudah lama UT tidak menerapkan skripsi sebagai tolok ukur kelulusan S1, tetapi TAP itu bobotnya hampir sama dengan skripsi,” pungkasnya.

Praktik jasa pembuatan skripsi sudah menjalar ke mana-mana dan dianggap hal yang lumrah. Sehingga, fenomena tentu sangat disayangkan oleh banyak pihak. Pasalnya, bisnis skripsi hanya akan menurunkan kualitas pendidikan perguruan tinggi, lantaran titik berat bisnis skripsi adalah pada seberapa besar keuntungan materi yang diperoleh penyedia jasa dan bukan pada pendidikan itu sendiri.

Bisa jadi, bisnis jasa skripsi ini tak mungkin dihilangkan, lantaran sama sekali tidak aturan hukum yang jelas mengaturnya. Sebab, sebagian besar bisnis skripsi berkedok membantu menyelesaikan skripsi, bukan jual-beli skripsi. 

Praktik yang dianggap rahasia umum oleh para mahasiswa di Bojonegoro itu menurut seorang akademisi asal Bojonegoro, Mochamad Nizar Palefi Ma’ady, sangat mencederai citra pendidikan kampus dan tanggung jawab moral sebagai seorang mahasiswa. Karena biar bagaimanapun proses pembuatan skripsi, tesis, maupun disertasi merupakan salah satu hal di dalam tri dharma perguruan tinggi. “Di dalamnya tri dharma itu kan ada pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat, jadi idealnya harus ditempuh tuntas oleh seluruh mahasiswa,” ujar pria yang sedang menempuh studi S3 industrial management di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). 

Baca Juga :  Belajar di Rumah, Siswa Tetap Beli Seragam

Menurut dia, fenomena tersebut memang tidak bisa ditepis. Karena memang masih banyak mahasiswa yang orientasinya bukan kepada keilmuan yang akan mereka peroleh. Namun orientasinya hanyalah uang dengan cara agar cepat memeroleh ijazah sarjana. Begitu pun tak menutup kemungkinan para mahasiswa S2 dan S3 yang menggarapkan jurnal atau bahkan tesis dan disertasi kepada orang lain. “Karena permintaan ada, jadi pelakunya tentu akan selalu ada,” ujar pria yang juga menjadi dosen Unugiri jurusan teknik informatika.

Pria yang akrab disapa Nizar itu pun sering mendengar di kalangan teman-temanya yang juga menggeluti ilmu-ilmu seputar informatika biasanya buka jasa untuk menggarap coding para mahasiswa S1. Karena memang banyak mahasiswa informatika yang kesulitan, sehingga ambil jalan pintas. Padahal tugas akhir atau skripsi merupakan produk besar para mahasiswa yang seharusnya bisa memberikan manfaat kepada sekitarnya.

Sementara itu, Dosen Fakultas Hukum Univertas Bojonegoro M. Yasir mengatakan, tak pernah mengetahui maupun menemukan praktik-praktik jasa pembuatan skripsi. Dia pun menjamin bahwa mahasiswa bimbingannya dipastikan membuat skripsi secara mandiri, tidak digarapkan oleh orang lain. “Kalau mahasiswa yang saya bimbing dijamin tidak ada yang pakai jasa orang lain mas, karena saya pasti tahu kalau memang skripsi tersebut buatan orang lain,” tuturnya. Menurut dia, skripsi itu tanggung jawab moral yang tinggi, karena setiap pembuatan skripsi, mahasiswa menyertakan pernyataan orisinalitas atas skripsi yang dibuat. 

Baca Juga :  Ungkap Kasus Curanmor, Amankan Tujuh Tersangka

Kalau memang terbukti plagiarisme, tentunya bisa dipolisikan dan masuk ranah pidana karena menyangkut UU hak cipta. Namun, hingga sekarang, memang belum ada temuan tersebut. Sebab, secara kode etik akademik tentu sangat melanggar praktik-praktik tersebut. 

Ketua Pusat Belajar dan Informasi Universitas Terbuka (PBI-UT) Bojonegoro Sukarni mengungkapkan, tidak ada skripsi di UT. Jadi para calon S1 hanya diwajibkan ambil mata kuliah tugas akhir program (TAP) dengan jumlah 4 SKS. Sistemnya membuat makalah sekaligus karya ilmiah sesuai dengan topik yang akan diujikan TAP. “Sudah lama UT tidak menerapkan skripsi sebagai tolok ukur kelulusan S1, tetapi TAP itu bobotnya hampir sama dengan skripsi,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/