alexametrics
28.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Pengelolaan Sampah Memprihatinkan, DLH Klaim Kekurangan Tenaga Kerja

KOTA – Predikat sebagai Kota Adipura Kencana untuk Kota Lamongan patut dipertanyakan. Sebab kondisi pengelolaan sampahnya memprihatinkan. Terbukti, pencemaran udara berupa bau busuk setiap hari muncul dari tempat pembuangan akhir (TPA) maupun tempat pembuangan sementara (TPS) sampah di Kota Soto tersebut. Tumpukan sampah di TPS tidak tuntas diangkut ke TPA setiap hari. Sehingga warga sering mengeluhkan.  

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lamongan, Puji Nawatiningsih mengklaim, bau busuk tersebut dipicu kondisi TPS tidak layak. Karena lokasinya dinilai tidak tepat. Seharusnya tidak berada di dalam kota. Sehingga mengganggu pemandangan. Tapi keberadaannya dibutuhkan. ‘’Namun permasalahan ini belum bisa dipecahkan, karena terkendala lahan dan tenaga kerja,’’ klaimnya senin (9/4). 

Dia mengaku, volume sampah terus bertambah. Sedangkan jumlah personil pengangkut sampah dan armadanya masih kurang. ‘’Tapi pemerintah melarang pengangkatan tenaga kontrak untuk diperbantukan,’’ ujarnya.  Menurut Puji, TPS di kota masih sangat dibutuhkan untuk menampung sampah yang dihasilkan masyarakat kota. Sebab sampah tersebut tidak mungkin langsung diangkut ke TPA karena volumenya terlalu besar. Sehingga pengangkutannya harus dibagi. Misalnya, TPS di Jalan Kusuma Bangsa terdapat dua jadwal pengangkutan. Yakni pagi hari dua dump truk dan siang hari satu dump truk dengan satu amroll kontainer. 

Baca Juga :  Satgas TMMD Lakukan Finishing Pengecetan Di Rumah Penerima RTLH

Dia melanjutkan, TPS di Kusuma bangsa menampung beberapa sampah warga di wilayah Tumenggungbaru, Bandaran, Tumenggungan, dan Pasar ikan. Bahkan ketika alun-alun ada kegiatan, sampahnya juga dibuang ke TPS itu. Seharusnya ritase (pengangkutan sampah) di TPS dalam kota dilakukan malam hari. Agar tidak mengganggu pengguna jalan. ‘’Tapi jumlah tenaganya kurang. Sehingga terpaksa dilakukan pagi dan siang hari,” tukasnya. Puji mengakui, permasalahan sampah kota ini perlu dicarikan solusi. Karena kondisi TPS kota tidak layak. Selain menimbulkan bau tidak sedap, juga memicu kemacetan ketika volume sampah meluber ke badan jalan. 

Menurut dia, untuk mengatasi masalah itu, pemerintah akan membangun TPA tipe B. Fungsinya untuk menampung hasil sampah dari masyarakat sekitar. Selanjutnya TPS dalam kota akan dihapus. Karena seluruh sampah harus dibuang ke TPA tersebut. Lokasi TPA tipe B tersebut direncanakan di sekitar jalan lingkar utara (JLU) Lamongan, setelah terbangun nanti. “Nanti akan dibuat regulasi yang mengatur punishment (sanksi) bagi masyarakat yang melanggar,” ujarnya.

Baca Juga :  Berinovasi, Rebut Rp 67,5 Juta

KOTA – Predikat sebagai Kota Adipura Kencana untuk Kota Lamongan patut dipertanyakan. Sebab kondisi pengelolaan sampahnya memprihatinkan. Terbukti, pencemaran udara berupa bau busuk setiap hari muncul dari tempat pembuangan akhir (TPA) maupun tempat pembuangan sementara (TPS) sampah di Kota Soto tersebut. Tumpukan sampah di TPS tidak tuntas diangkut ke TPA setiap hari. Sehingga warga sering mengeluhkan.  

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lamongan, Puji Nawatiningsih mengklaim, bau busuk tersebut dipicu kondisi TPS tidak layak. Karena lokasinya dinilai tidak tepat. Seharusnya tidak berada di dalam kota. Sehingga mengganggu pemandangan. Tapi keberadaannya dibutuhkan. ‘’Namun permasalahan ini belum bisa dipecahkan, karena terkendala lahan dan tenaga kerja,’’ klaimnya senin (9/4). 

Dia mengaku, volume sampah terus bertambah. Sedangkan jumlah personil pengangkut sampah dan armadanya masih kurang. ‘’Tapi pemerintah melarang pengangkatan tenaga kontrak untuk diperbantukan,’’ ujarnya.  Menurut Puji, TPS di kota masih sangat dibutuhkan untuk menampung sampah yang dihasilkan masyarakat kota. Sebab sampah tersebut tidak mungkin langsung diangkut ke TPA karena volumenya terlalu besar. Sehingga pengangkutannya harus dibagi. Misalnya, TPS di Jalan Kusuma Bangsa terdapat dua jadwal pengangkutan. Yakni pagi hari dua dump truk dan siang hari satu dump truk dengan satu amroll kontainer. 

Baca Juga :  Berinovasi, Rebut Rp 67,5 Juta

Dia melanjutkan, TPS di Kusuma bangsa menampung beberapa sampah warga di wilayah Tumenggungbaru, Bandaran, Tumenggungan, dan Pasar ikan. Bahkan ketika alun-alun ada kegiatan, sampahnya juga dibuang ke TPS itu. Seharusnya ritase (pengangkutan sampah) di TPS dalam kota dilakukan malam hari. Agar tidak mengganggu pengguna jalan. ‘’Tapi jumlah tenaganya kurang. Sehingga terpaksa dilakukan pagi dan siang hari,” tukasnya. Puji mengakui, permasalahan sampah kota ini perlu dicarikan solusi. Karena kondisi TPS kota tidak layak. Selain menimbulkan bau tidak sedap, juga memicu kemacetan ketika volume sampah meluber ke badan jalan. 

Menurut dia, untuk mengatasi masalah itu, pemerintah akan membangun TPA tipe B. Fungsinya untuk menampung hasil sampah dari masyarakat sekitar. Selanjutnya TPS dalam kota akan dihapus. Karena seluruh sampah harus dibuang ke TPA tersebut. Lokasi TPA tipe B tersebut direncanakan di sekitar jalan lingkar utara (JLU) Lamongan, setelah terbangun nanti. “Nanti akan dibuat regulasi yang mengatur punishment (sanksi) bagi masyarakat yang melanggar,” ujarnya.

Baca Juga :  TPS Bupati-Wabup, Jokowi Menang

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/