alexametrics
22.5 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Lagi, Berkas Pelecehan Seksual Dikembalikan

Radar Lamongan – Polres Lamongan kembali gagal melengkapi berkas perkara pelecehan seksual yang dilakukan M Satrya Nur Rochman, 26, pemilik distro asal Desa/Kecamatan Sukodadi. Kekurangannya masih sama, tidak ada keterangan saksi ahli.

Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Lamongan Irwan Syafari mengatakan, berkas perkara dengan korban dewasa tersebut sudah dikembalikan ke polres. ‘’Dikembalikan ke penyidik lebih dulu,’’ katanya.

Menurut dia, jika penyidik polres ingin meneruskan kasus ini, maka waktunya masih ada waktu sebulan. Syaratnya, polres harus membawa saksi ahli. Jika sebulan tidak ada perkembangan, maka akan dilayangkan surat P-20 dengan pemberitauan waktu pe nyidikan habis.

‘’Pastinya sampai saat ini masih menunggu hingga batasan waktu,’’ tuturnya. Dia menjelaskan, berkas pernah dinyatakan P-19 dan dikembalikan kepada penyidik untuk diperbaiki selama 14 hari.

Baca Juga :  Kades Meninggal, Dua Desa Gelar Pilkades PAW

Namun, berkas belum lengkap juga. Polres diberi waktu lagi 30 hari. Kini, sudah memasuki P-20. Waktunya, tersisa sebulan lagi. Seperti diberitakan, M Satrya Nur Rochman harus menghadapi dua berkas perkara karena perbuatannya. Sidang untuk kasusnya dengan berkas korban anak di bawah umur sudah diselesaikan di PN Lamongan (10/2).

Dalam sidang yang digelar secara virtual, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) yang terdiri atas M Aunur Rofiq, Agusty Hadi Widarto, dan Jantiani Longli Naetasi itu memvonis Satrya dengan pidana penjara selama enam tahun. Selain itu, dia diminta membayar denda Rp 100 juta subsider kurungan tiga bulan.

Vonis tersebut lebih ringan dibandingkan tuntutan JPU yang meminta terdakwa dipenjara selama delapan tahun dan denda Rp 100 juta subsider kurungan tiga bulan.

Baca Juga :  Desain Trotoar Sama, Sisa Lelang Tiga Titik

Kasus pelecehan seksual itu bermotif mengajak calon korbannya memromosikan (endorse) koleksi store. Satrya meminta bantuan temannya untuk dicarikan model. Mereka tidak dibayar. Hanya diberi baju yang dipromosikan. Korban diminta memakai baju yang sudah disediakan untuk sesi pemotretan.

Saat berganti baju itulah, diduga Satrya beraksi. Dia berpura – pura mengambil baju lain dan melakukan pengukuran tubuh korban, sambil (maaf) memegang bagian sensitif tubuh korban. Satrya hanya diduga melakukan pelecehan seksual. Tidak melakukan persetubuhan terhadap korban.

Dikonfirmasi terpisah, KBO Satreskrim Polres Lamongan Iptu Turkhan mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya segera memenuhi kekurangan berkas. Dia juga tetap menjalankan rencana awal dengan mencari saksi ahli dari Surabaya. ‘’Nanti pasti saya penuhi, kalau tidak tentunya menjadikan tunggakan bagi kami,’’ katanya.

Radar Lamongan – Polres Lamongan kembali gagal melengkapi berkas perkara pelecehan seksual yang dilakukan M Satrya Nur Rochman, 26, pemilik distro asal Desa/Kecamatan Sukodadi. Kekurangannya masih sama, tidak ada keterangan saksi ahli.

Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Lamongan Irwan Syafari mengatakan, berkas perkara dengan korban dewasa tersebut sudah dikembalikan ke polres. ‘’Dikembalikan ke penyidik lebih dulu,’’ katanya.

Menurut dia, jika penyidik polres ingin meneruskan kasus ini, maka waktunya masih ada waktu sebulan. Syaratnya, polres harus membawa saksi ahli. Jika sebulan tidak ada perkembangan, maka akan dilayangkan surat P-20 dengan pemberitauan waktu pe nyidikan habis.

‘’Pastinya sampai saat ini masih menunggu hingga batasan waktu,’’ tuturnya. Dia menjelaskan, berkas pernah dinyatakan P-19 dan dikembalikan kepada penyidik untuk diperbaiki selama 14 hari.

Baca Juga :  Desain Trotoar Sama, Sisa Lelang Tiga Titik

Namun, berkas belum lengkap juga. Polres diberi waktu lagi 30 hari. Kini, sudah memasuki P-20. Waktunya, tersisa sebulan lagi. Seperti diberitakan, M Satrya Nur Rochman harus menghadapi dua berkas perkara karena perbuatannya. Sidang untuk kasusnya dengan berkas korban anak di bawah umur sudah diselesaikan di PN Lamongan (10/2).

Dalam sidang yang digelar secara virtual, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) yang terdiri atas M Aunur Rofiq, Agusty Hadi Widarto, dan Jantiani Longli Naetasi itu memvonis Satrya dengan pidana penjara selama enam tahun. Selain itu, dia diminta membayar denda Rp 100 juta subsider kurungan tiga bulan.

Vonis tersebut lebih ringan dibandingkan tuntutan JPU yang meminta terdakwa dipenjara selama delapan tahun dan denda Rp 100 juta subsider kurungan tiga bulan.

Baca Juga :  Koruptor Tak Diusulkan Remisi

Kasus pelecehan seksual itu bermotif mengajak calon korbannya memromosikan (endorse) koleksi store. Satrya meminta bantuan temannya untuk dicarikan model. Mereka tidak dibayar. Hanya diberi baju yang dipromosikan. Korban diminta memakai baju yang sudah disediakan untuk sesi pemotretan.

Saat berganti baju itulah, diduga Satrya beraksi. Dia berpura – pura mengambil baju lain dan melakukan pengukuran tubuh korban, sambil (maaf) memegang bagian sensitif tubuh korban. Satrya hanya diduga melakukan pelecehan seksual. Tidak melakukan persetubuhan terhadap korban.

Dikonfirmasi terpisah, KBO Satreskrim Polres Lamongan Iptu Turkhan mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya segera memenuhi kekurangan berkas. Dia juga tetap menjalankan rencana awal dengan mencari saksi ahli dari Surabaya. ‘’Nanti pasti saya penuhi, kalau tidak tentunya menjadikan tunggakan bagi kami,’’ katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/