alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Pahami Karakter Anak

NDUK – Resa, panggilan akrab Ferina Resa Anggraeni, 22, mempunyai dunia baru sejak menjadi guru taman kanak-kanak (TK) pada 2015 atau sekitar tiga tahun lalu. Dunia baru tersebut menjadikan pendidik jebolan S-1 PG/PAUD Unirow Tuban ini lebih akrab dengan dunia anak. Hal itu pula yang menjadikannya lebih banyak tahu dunia dan karakter balita. Terutama permasalahan dalam menangani balita yang hiperaktif. 

Resa mengatakan, pada usia lima tahun, anak memasuki fase membutuhkan kasih sayang paling besar. Karena itu, selain pendidikan formal, kebutuhan kasih sayang juga harus tercukupi.

Dalam banyak kasus, menurut dia, tak sedikit anak yang kekurangan kasih sayang dari keluarga. ‘’Kesibukan orang tua kerap menjadikan anak kurang mendapat perhatian dan itu bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja,’’ tutur dia.

Baca Juga :  Selesaikan Satu Lajur Jalan

Dara yang tinggal di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding itu mengatakan, menjadi guru tidak bisa hanya bertugas menyalurkan ilmu saja. Guru juga berkewajiban memahami  tingkah dan perilaku anak didiknya.

Sebab, jika anak didik mendapat permasalahan, perlu didekati dan diberi solusi. ‘’Guru harus profesional. Kalau punya masalah jangan sampai terlihat di depan murid. Itu bisa berpengaruh pada mental anak didik,’’ terang dia.

Di sisi lain, Resa mengatakan, banyak yang menganggap balita yang bandel perlu dihukum agar tahu kesalahannya. Menurut dia, dalam ilmu pendidikan, tak ada balita yang bandel. Mereka melakukan kesalahan karena dua kemungkinan.

Yakni, belajar hal baru atau ingin diperhatikan. ‘’Sebenarnya, tidak ada anak-anak yang bandel. Mereka hanya ingin diperhatikan orang dewasa,’’ tutur dia.

Baca Juga :  Pembangunan Stadion Bumi Wali Belum Pasti

NDUK – Resa, panggilan akrab Ferina Resa Anggraeni, 22, mempunyai dunia baru sejak menjadi guru taman kanak-kanak (TK) pada 2015 atau sekitar tiga tahun lalu. Dunia baru tersebut menjadikan pendidik jebolan S-1 PG/PAUD Unirow Tuban ini lebih akrab dengan dunia anak. Hal itu pula yang menjadikannya lebih banyak tahu dunia dan karakter balita. Terutama permasalahan dalam menangani balita yang hiperaktif. 

Resa mengatakan, pada usia lima tahun, anak memasuki fase membutuhkan kasih sayang paling besar. Karena itu, selain pendidikan formal, kebutuhan kasih sayang juga harus tercukupi.

Dalam banyak kasus, menurut dia, tak sedikit anak yang kekurangan kasih sayang dari keluarga. ‘’Kesibukan orang tua kerap menjadikan anak kurang mendapat perhatian dan itu bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja,’’ tutur dia.

Baca Juga :  Rapat di Hotel Mewah, Masuk Inefisiensi?

Dara yang tinggal di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding itu mengatakan, menjadi guru tidak bisa hanya bertugas menyalurkan ilmu saja. Guru juga berkewajiban memahami  tingkah dan perilaku anak didiknya.

Sebab, jika anak didik mendapat permasalahan, perlu didekati dan diberi solusi. ‘’Guru harus profesional. Kalau punya masalah jangan sampai terlihat di depan murid. Itu bisa berpengaruh pada mental anak didik,’’ terang dia.

Di sisi lain, Resa mengatakan, banyak yang menganggap balita yang bandel perlu dihukum agar tahu kesalahannya. Menurut dia, dalam ilmu pendidikan, tak ada balita yang bandel. Mereka melakukan kesalahan karena dua kemungkinan.

Yakni, belajar hal baru atau ingin diperhatikan. ‘’Sebenarnya, tidak ada anak-anak yang bandel. Mereka hanya ingin diperhatikan orang dewasa,’’ tutur dia.

Baca Juga :  Pembangunan Stadion Bumi Wali Belum Pasti

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/