alexametrics
32.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Grafiti Artist: Percantik Bangunan Angker dengan Cat Spray

FEATURES – Bangunan Pasar Besar Tuban (PBT) Tuban yang mangkrang lebih dari sepuluh tahun mengundang keprihatinan sejumlah seniman muda Tuban. Agar tidak terkesan angker, mereka memperindah cat tembok bangunannya dengan lukisan graffiti plus acara hiburan. 

Alunan musik ber-genre pop punk mengalun kencang dari dalam bangunan PBT, Sabtu (3/2). Hari itu, mulai pagi hingga malam, ratusan anak muda berkumpul. Sebagian besar sibuk dengan cat spray di tangan.

Selebihnya terlihat menata set panggung untuk acara pada malam harinya. Di tengah kesibukan tersebut, tampak sejumlah muda-mudi bergantian menikmati guratan seni  graffiti. Mereka berswafoto dengan latar lukisan graffiti tersebut.

  Ya, kegiatan para remaja pada pekan lalu itu membuat bangunan pasar yang semula angker itu terlihat lebih indah.  

Kelompok remaja yang mengubah aura pasar di Jalan Letda Sucipto tersebut tergabung dalam Tubgraf, sebuah komunitas pegiat seni graffiti asal Tuban. Ketika action di PBT, mereka tidak sendiri.

Sejumlah seniman graffiti profesional se-Jawa Timur diundang. Mulai dari Surabaya, Malang, Gresik, Jombang, Kediri, dan kota lainnya.

Baca Juga :  Pengelolaan Pasar Tunggu PerbupĀ 

Bayu Hendra, ketua panitia acara bertitel Trust in Your Line (TiYL) kelima tersebut mengatakan, acara tersebut sebagai wadah apresiasi para seniman graffiti untuk berkarya bersama.

Sesuai namanya, acara tersebut dibuat agar para seniman lebih percaya diri menampilkan goresan tangannya untuk dipamerkan di tembok.

‘’Sebelumnya, kami mengadakan acara TiYL hingga empat kali untuk pelatihan para seniman baru. Dan, yang kelima ini wadah mereka untuk tampil,’’ terang Bayu.

Akbar Kusuma Anjasmara, anggota panitia lain menambahkan, dipilihnya tempat yang angker karena membawa misi khusus.

Sebagai orang asli Tuban, pria yang akrab disapa Anjas ini paham betul kalau bangunan pasar tersebut kerap dimanfaatkan untuk hal-hal negatif seperti tindakan asusila.

Karena itu, dia bersama teman-temannya ingin meramaikan tempat tersebut untuk kegiatan positif. ‘’Dengan acara seperti ini, selain menghias bangunan mangkrak juga bisa mencegah hal negatif para remaja,’’ imbuh  dia.

Selain menampilkan karya seni jalanan, para anggota Tubgraf juga mendirikan panggung pertunjukan untuk menampilkan berbagai bakat seni remaja. Mulai modern dance, breakdance, beatbox, hingga musik disk jokey (DJ). 

Baca Juga :  Dukungan Kepada Pasangan Yes-Bro Semakin Lengkap

Dikatakan Anjas, seniman muda Tuban banyak yang sudah bicara di dunia nasional dan internasional. Sayangnya, di Tuban mereka tidak punya panggung. Karena itu, dengan panggung tersebut, mereka memiliki wadah berapresiasi seni. 

Sesuai misinya, lanjut sarjana pendidikan seni rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini, acara tersebut mengusung tema Cultivate the Market atau memberdayakan pasar.

Bagi Anjas, tagline tersebut mempunyai banyak arti. Pertama, memberdayakan bangunan pasar yang belasan tahun kosong. Juga, memberdayakan seni agar mempunyai pasar tersendiri di masyarakat.

‘’Kami ingin memotivasi agar seniman muda Tuban tak takut berkreasi dengan membuat pasarnya sendiri,’’ imbuh dia.Setelah sukses menggelar acara hingga larut malam, Anjas terobsesi menggelar kegiatan lanjutan.

Setelah berhasil mengundang sejumlah seniman Jawa Timur untuk berkarya di Tuban, dia berencana menggelar acara serupa dengan mengundang seniman nasional.

‘’Kalau perlu, acara berikutnya juga mengundang graffiti i dari luar negeri sebagai motivasi,’’ kata dia.

FEATURES – Bangunan Pasar Besar Tuban (PBT) Tuban yang mangkrang lebih dari sepuluh tahun mengundang keprihatinan sejumlah seniman muda Tuban. Agar tidak terkesan angker, mereka memperindah cat tembok bangunannya dengan lukisan graffiti plus acara hiburan. 

Alunan musik ber-genre pop punk mengalun kencang dari dalam bangunan PBT, Sabtu (3/2). Hari itu, mulai pagi hingga malam, ratusan anak muda berkumpul. Sebagian besar sibuk dengan cat spray di tangan.

Selebihnya terlihat menata set panggung untuk acara pada malam harinya. Di tengah kesibukan tersebut, tampak sejumlah muda-mudi bergantian menikmati guratan seni  graffiti. Mereka berswafoto dengan latar lukisan graffiti tersebut.

  Ya, kegiatan para remaja pada pekan lalu itu membuat bangunan pasar yang semula angker itu terlihat lebih indah.  

Kelompok remaja yang mengubah aura pasar di Jalan Letda Sucipto tersebut tergabung dalam Tubgraf, sebuah komunitas pegiat seni graffiti asal Tuban. Ketika action di PBT, mereka tidak sendiri.

Sejumlah seniman graffiti profesional se-Jawa Timur diundang. Mulai dari Surabaya, Malang, Gresik, Jombang, Kediri, dan kota lainnya.

Baca Juga :  Rp 40 Miliar Untuk Perbaiki Jalan

Bayu Hendra, ketua panitia acara bertitel Trust in Your Line (TiYL) kelima tersebut mengatakan, acara tersebut sebagai wadah apresiasi para seniman graffiti untuk berkarya bersama.

Sesuai namanya, acara tersebut dibuat agar para seniman lebih percaya diri menampilkan goresan tangannya untuk dipamerkan di tembok.

‘’Sebelumnya, kami mengadakan acara TiYL hingga empat kali untuk pelatihan para seniman baru. Dan, yang kelima ini wadah mereka untuk tampil,’’ terang Bayu.

Akbar Kusuma Anjasmara, anggota panitia lain menambahkan, dipilihnya tempat yang angker karena membawa misi khusus.

Sebagai orang asli Tuban, pria yang akrab disapa Anjas ini paham betul kalau bangunan pasar tersebut kerap dimanfaatkan untuk hal-hal negatif seperti tindakan asusila.

Karena itu, dia bersama teman-temannya ingin meramaikan tempat tersebut untuk kegiatan positif. ‘’Dengan acara seperti ini, selain menghias bangunan mangkrak juga bisa mencegah hal negatif para remaja,’’ imbuh  dia.

Selain menampilkan karya seni jalanan, para anggota Tubgraf juga mendirikan panggung pertunjukan untuk menampilkan berbagai bakat seni remaja. Mulai modern dance, breakdance, beatbox, hingga musik disk jokey (DJ). 

Baca Juga :  Diprioritaskan untuk Pedagang Pasar kota

Dikatakan Anjas, seniman muda Tuban banyak yang sudah bicara di dunia nasional dan internasional. Sayangnya, di Tuban mereka tidak punya panggung. Karena itu, dengan panggung tersebut, mereka memiliki wadah berapresiasi seni. 

Sesuai misinya, lanjut sarjana pendidikan seni rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini, acara tersebut mengusung tema Cultivate the Market atau memberdayakan pasar.

Bagi Anjas, tagline tersebut mempunyai banyak arti. Pertama, memberdayakan bangunan pasar yang belasan tahun kosong. Juga, memberdayakan seni agar mempunyai pasar tersendiri di masyarakat.

‘’Kami ingin memotivasi agar seniman muda Tuban tak takut berkreasi dengan membuat pasarnya sendiri,’’ imbuh dia.Setelah sukses menggelar acara hingga larut malam, Anjas terobsesi menggelar kegiatan lanjutan.

Setelah berhasil mengundang sejumlah seniman Jawa Timur untuk berkarya di Tuban, dia berencana menggelar acara serupa dengan mengundang seniman nasional.

‘’Kalau perlu, acara berikutnya juga mengundang graffiti i dari luar negeri sebagai motivasi,’’ kata dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/