alexametrics
26.8 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Sumpah Sarmini

Buah bibir membiru. Tikaman peluru tajam Belanda. Menembus dada hingga telinga. Tersungkur di bawah meja menjadi tumbal penguasa.

“PERMISI, selamat malam.”

Terdengar ketukan dan sapaan bersumber salah satu rumah perkampungan sebelah tempatku memancing malam kemarin. Keheningan membawaku semakin bertanya-tanya kepada pohon besar sebelah embung sudut desa.

Ketukan pintu terdengar lagi hingga mengganggu konsentrasi memancing. Gagap dan penasaran mengalihkan pendengaran telinga sekaligus pandangan mata mencari titik sumbernya. Aku memanjat pelan sembari memegang ranting hingga ujung lubang bunga yang mekar.

Ternyata ada dua orang lelaki gagah berpakaian rapi membawa seberkas surat di tangan kanannya. Ingin bertamu di rumah itu. “Kira-kira ada apa, ya?” pikirku sembari mengintip dari atas menembus gelangga daun pohon jambu besar.

Pintu dibuka seorang ibu berusia sekitar 56 tahun membawa lentera api dalam keadaan rumah sepi menjemput mentari. “Siapa, ya?” tanya Ibu itu santun kepada dua lelaki berdiri tegak di depan pintu.

“Mohon maaf mengganggu waktunya sebentar. Kami dari aparat penegak hukum padepokan, Bu,” kata lelaki berbadan besar dan berkumis tebal bertopi hitam sambil menengok kanan-kiri halaman rumah.

“Ada keperluan apa ya, Pak?” tanya ibu itu dengan gemetar usai mendengarkan kata ‘aparat’ mendengung pada kedua telinganya.

“Bu, kami diperintahkan memohon kepadamu agar segera menandatangi surat ini. Tentang satu hektare lahan belakang rumah akan dibangun menjadi ruas jalan tol antar kabupaten dan kota,” jawab lelaki itu sambil membuka stopmap folio berisi surat lelang seketika memberikan pena, sambil memaksa.

Bruk!

Tiba-tiba wajah ibu tadi marah dan cemas. Seketika menutup pintu rumah dengan kencang. Lentera mulai redup menghapus cahaya-cahaya dari kedua wajah lelaki besar itu. Jalan menuju gang sepi saat malam. Aku tidak melihat satu pun warga bersenda-gurau mewarnai heningnya malam di tengah keramaian. Hanya ada satu mobil hitam milik dua lelaki besar parkir di kanan jalan sebelah Pos Kampling depan rumah kepala dusun (Kasun) 

Dua lelaki gagah itu kembali dengan kertas utuh. Tanpa ada sentuhan tanda tangan. Tidak ingin menjual lahan kepada perusahaan maupun negara. Meski berdalih pembangunan dan memperlancar akses ekonomi sekaligus kesejahteraan rakyat. “Untunglah,” ujarku sambil turun dari pohon besar. Bulan berpendar di antara bintang menyemai perjalanan mancing penuh misteri kejadian mengerikan di gang rumah tua kemarin lusa.

“Kok sepi, ya, malam ini? Biasanya orang-orang memancing,” gumamku menoleh kanan-kiri. Berpikir ulang antara lanjut memancing atau pulang. Kian malam tidak ada satu pun orang datang, akhirnya pulang.

Ratusan pohon pisang memperindah lingkungan pekarangan rumah warga. Ada singkong, jahe, kunyit, bawang merah, kemangi, dan cabai bisa tumbuh subur di lahan membungkus dua musim kemarau dan hujan. Daun-daun hijau memperlihatkan diri, memantik dari segala mata dan pendengaran menjadikannya lebih asyik. Lampu senter memberi jalan melangkah di batas lahan-lahan subur.

“Loh, Le, habis dari mana?” tanya seorang kakek duduk di batas ladang tanaman singkong, semangka, timun, bayam, dan cabai. “Habis mancing di embung, Kek,” jawabku.

Kakek tersebut sedang menunggu tanaman. Sesekali mengeluarkan asap rokok dari mulut hingga menembus dua lubang hidung seperti loko buatan Belanda membawa ratusan kayu jati dari Jawa menuju Batavia tempo itu.

“Sini, Le! Kalau kamu lapar, ambil saja semangka itu. Atau cabut saja tanaman singkong itu,” tawar kakek agar aku istirahat menemaninya berbincang.

Kejadian tadi masih saja menjadi pertanyaan di dalam pikiran. Memang danyang begitu tepat memberikan jalan menjawab teka-teki atas apa terjadi dari gang rumah tua itu. 

Baca Juga :  Ajak Guru Budayakan Membaca dan Menulis

***

Pendar cahaya bulan kian mendekap dekat. Ratusan daun tumbuhan terlihat bahagia menari-nari diiringi angin malam membungkus kesuyian. Sebatang buah singkong berhasil dicabut oleh kakek dengan gancu besi. Selanjutnya membakar singkong bersama.

Suasana hening menyelimuti gubuk kecil terangkai dari bambu dan beratap ilalang kering. Gubuk ini tempat istirahat sementara. Selesai menanam, kiranya panas menjadikannya dingin, hujan menjadikannya hangat, serasa dalam Istana Negara Penguasa, astaga.

“Kakek kenal dengan Ibu rumahnya dekat embung desa itu?” tanyaku spontan. Kakek tersebut memastikan mengenalnya karena masih keluarga dari bapaknya.

“Tadi saat memancing, aku melihat dua orang lelaki gagah besar memaksa Ibu itu untuk menandatangi surat. Tetapi ia menolak dan marah besar hingga menutup pintu dengan kasar. Sebenarnya ada apa, Kek?” tuturku.

Raut wajah Kakek seketika sedih dan murung. Dia mengalihkan pandangan dari tempat duduk di depan bakaran api singkong menyala. “Maaf jika pertanyaanku tadi menyinggung Kakek,” sambungku lagi tergesa-gesa karena merasa tidak enak pada Kakek.

“Tidak apa-apa. Mungkin sudah waktunya kamu mendengarkan sebuah peristiwa mengerikan di masa lalu. Lagi pula kamu sudah dewasa tentu sudah mampu memilah dan memilih dengan bijak antara hal baik dan buruk,” terang Kakek.

Kakek ramah itu pun bercerita. Bahwa dulu pernah terjadi sebuah peristiwa mengenaskan di gang rumah tua itu. Sejarah tidak pernah hilang di dalam ingatan masyarakat setempat. Sampai di jalan masuk gang terdapat gapura besar bertuliskan ‘Peristiwa Gang Rumah Tua (Garuta) 1965’.

Pada 1965, Suparmin merupakan suami Sarmini dituduh sebagai anggota partisipan partai terlarang. Surat perintah dari negara waktu itu, demi menjaga stabilitas keamanan kondisi sosial masyarakat tentang Pancasila ingin diubah, seluruh anggota partisipan maupun kader aktif partai harus dibunuh sampai ke akar-akarnya. Bahkan tanpa melalui peradilan terlebih dahulu. Itu pun dilakukan keji dan tidak berkemanusiaan. 

Ada yang ditembak, dicambuk, diperkosa, diarak, dan dipenggal kepalanya. Jasadnya dibuang ke sungai maupun sumur setempat. Padahal, Suparmin seorang muslim taat beribadah. Aktivitas sebagai petani ulung dari terbitnya matahari hingga terbenamnya senja. Ia jalani pekerjaan selama puluhan tahun. Hidup bersama tanah. Entah nasib apa diperolehnya hingga lelaki itu dipenggal di suatu malam ketika menunggu tanaman semangka ingin dipanen dini hari.

“Dan aku menjadi saksi, Le,” sambung Kakek.

Ia kembali melanjutkan ceritanya. Bahwa puluhan suara tembakan terngiang dari desa. Tangis memilukan anak-anak kecil kehilangan orang tua terdengar pilu memekakkan telinga. Rumah-rumah di bakar dan tidak ada satu pun orang menyelamatkan nyawa anggota keluarganya karena sibuk berlari mencari persembunyian.

Kebetulan nasib baik bagi Sarmini malam itu. Dia bertepatan masih di rumah ibunya di Kabupaten B tidak begitu banyak simpatisan masyarakat menjadi bagian partai terlarang yang mengakibatkan ribuan orang-orang pribumi terbunuh mengenaskan ditangan bangsanya sendiri. Sembilan minggu kemudian, Sarmini mendengarkan informasi terbaru dari radio bahwa kondisi negara sudah pulih kembali.

Dia pun pulang ke rumah membawa baju ganti dibungkus jarik khas Jawa dengan raut bingung dan gelisah. Aku segera menuju rumahnya lewat pintu belakang dan menceritakan semua kejadian menimpa suaminya beberapa minggu silam.

“Begitu kejam bangsa ini, sampai tega membunuh rakyatnya sendiri yang tidak berdosa dan bersalah kepada negara.”

Mata Sarmini tampak penuh kebencian.

“Aku paham, Ni. Betapa sakit dan pedihnya kehilangan orang dicintai. Tetapi juga tidak demikianlah. Sudahlah, mau bagaimana lagi. Siapa pun tidak menginginkan kejadian seperti itu. Cukup doakan saja, Ni. Biar Tuhan mengadili itu semua,” sambung Kakek menasihati Sarmini tidak henti-hentinya meneteskan air mata, dan tidak sanggup lagi berkata apa-apa.

Baca Juga :  423 Siswa SMA Lolos SNMPTN, Masih Banyak Peluang Jalur Lain

“Ya sudah, Ni, aku pamit pulang dulu. Ingin mencari rumput untuk dua ekor sapiku,” pamit Kakek.

Saat baru saja ingin membuka pintu belakang rumah Sarmini, tiba-tiba radio di atas kepala Sarmini dilempar ke tanah hingga hancur. Perempuan itu mengucap sumpah-serapah dengan nada tinggi.

“Cukup suamiku saja darahnya mengalir ke sela-sela tanaman buah semangka di lahan subur kami beli dari jerih-payah keringat hasil penjualan sepeda satu-satunya. Dan aku bersumpah tidak akan menjual dan melelangkan lahan kepada siapa pun. Sampai darah ini menyatu di lahan bekas darah tubuh suamiku dipenggal hidup-hidup!”

***

Aku menandaskan dua buah singkong bakar sembari mendengarkan si kakek bercerita malam kian hening dan sunyi. Ceritanya cukup menyedihkan. Setelah kejadian itu, Sarmini harus bertahan hidup sendirian selama puluhan tahun lamanya. Sudah tidak dikaruniai keturunan seumur hidup, ditinggal suaminya. ‘’Lahan satu-satunya yang dimiliki ingin dirampas juga. Seolah langit memang membuat hidupnya ia selalu menderita,” sahut Kakek sambil memadamkan api dengan sebatang daun singkong muda.

“Kek, sepertinya bulan semakin redup. Beberapa tanaman tidak kelihatan indah lagi batangnya.” Aku memerhatikan bulan di cakrawala sana.

“Itu siapa yang berjalan menuju kemari, Kek?” Aku bertanya penasaran. Kuperhatikan lagi dua sosok yang menuju kemari. 

“Sepertinya mereka adalah dua lelaki gagah yang kulihat di gang rumah tua itu.” Belum sempat Kakek menjawab pertanyaanku, aku sudah lebih dulu mengenali sosok itu. “Mereka beneran ke sini, Kek.” Aku cemas seketika.

“Tenang saja. Kita tidak berbuat salah. Mengapa harus takut? Ini minum dulu. Biar daging singkong tidak berhenti di rongga mulut saja.” Kakek menyodorkan kendi berisi air putih kepadaku. 

“Hei, Kakek Tua, sedang apa kau malam-malam di sini? Sedang bakar-bakar api pula? Coba pikir, jika api ini menjalar ke ilalang-ilalang kering itu, apa tidak membahayakan nyawamu dan seluruh lahan di sekitarnya?” Orang itu bertanya dengan nada membentak.

“Apa bicaranya sudah selesai Pak? Kalau belum, silakan diteruskan sebelum singkong ini habis terbakar melahirkan abu akan mengantarkan jasadmu kembali ke tanah. Seperti pemerintah Belanda dulu memberlakukan kerja rodi pada orang-orang pribumi hanya dibayar siksaan sadis belaka,” bantah Kakek.

“Berani-beraninya membentak kami! Bawa dia ke kantor sekarang juga! Cepat!” Perintah lelaki gagah berbadan besar kepada temannya.

Aku menarik kuat tangan kakek dari tarikan dua lelaki gagah berbadan besar itu.

“Jangan bawa dia! Kakek tidak bersalah. Kakek bukan penjahat. Kakek bukan pemakan uang rakyat,” kataku berapi-api sambil berteriak meminta tolong.

“Ayo, bangun! Bangun! Mimpi apa lagi kamu ini,  Gus Cah Ganteng? Baru saja tidur pulas, sudah mengigau minta tolong.” Ibu membangunkanku dari lelap dan mimpi menyeramkan itu.

Seketika ibu memberikan minum. Dan menasihati agar ketika tidur baca doa, biar setan-setan tidak ikut berbaring di kasurmu, apalagi bercanda di dalam mimpimu. Seketika saya duduk dan baru sadarkan diri dengan napas ngos-ngosan tak teratur. 

* MUHAMMAD ANDREA, penyaji kopi di Warung Sematta Kopi, Perumahan Pandawa Land, Pacul, Bojonegoro. Aktif dalam Forum Kajian Sastra Malam Senin di Komunitas Sematta Sastra.

Buah bibir membiru. Tikaman peluru tajam Belanda. Menembus dada hingga telinga. Tersungkur di bawah meja menjadi tumbal penguasa.

“PERMISI, selamat malam.”

Terdengar ketukan dan sapaan bersumber salah satu rumah perkampungan sebelah tempatku memancing malam kemarin. Keheningan membawaku semakin bertanya-tanya kepada pohon besar sebelah embung sudut desa.

Ketukan pintu terdengar lagi hingga mengganggu konsentrasi memancing. Gagap dan penasaran mengalihkan pendengaran telinga sekaligus pandangan mata mencari titik sumbernya. Aku memanjat pelan sembari memegang ranting hingga ujung lubang bunga yang mekar.

Ternyata ada dua orang lelaki gagah berpakaian rapi membawa seberkas surat di tangan kanannya. Ingin bertamu di rumah itu. “Kira-kira ada apa, ya?” pikirku sembari mengintip dari atas menembus gelangga daun pohon jambu besar.

Pintu dibuka seorang ibu berusia sekitar 56 tahun membawa lentera api dalam keadaan rumah sepi menjemput mentari. “Siapa, ya?” tanya Ibu itu santun kepada dua lelaki berdiri tegak di depan pintu.

“Mohon maaf mengganggu waktunya sebentar. Kami dari aparat penegak hukum padepokan, Bu,” kata lelaki berbadan besar dan berkumis tebal bertopi hitam sambil menengok kanan-kiri halaman rumah.

“Ada keperluan apa ya, Pak?” tanya ibu itu dengan gemetar usai mendengarkan kata ‘aparat’ mendengung pada kedua telinganya.

“Bu, kami diperintahkan memohon kepadamu agar segera menandatangi surat ini. Tentang satu hektare lahan belakang rumah akan dibangun menjadi ruas jalan tol antar kabupaten dan kota,” jawab lelaki itu sambil membuka stopmap folio berisi surat lelang seketika memberikan pena, sambil memaksa.

Bruk!

Tiba-tiba wajah ibu tadi marah dan cemas. Seketika menutup pintu rumah dengan kencang. Lentera mulai redup menghapus cahaya-cahaya dari kedua wajah lelaki besar itu. Jalan menuju gang sepi saat malam. Aku tidak melihat satu pun warga bersenda-gurau mewarnai heningnya malam di tengah keramaian. Hanya ada satu mobil hitam milik dua lelaki besar parkir di kanan jalan sebelah Pos Kampling depan rumah kepala dusun (Kasun) 

Dua lelaki gagah itu kembali dengan kertas utuh. Tanpa ada sentuhan tanda tangan. Tidak ingin menjual lahan kepada perusahaan maupun negara. Meski berdalih pembangunan dan memperlancar akses ekonomi sekaligus kesejahteraan rakyat. “Untunglah,” ujarku sambil turun dari pohon besar. Bulan berpendar di antara bintang menyemai perjalanan mancing penuh misteri kejadian mengerikan di gang rumah tua kemarin lusa.

“Kok sepi, ya, malam ini? Biasanya orang-orang memancing,” gumamku menoleh kanan-kiri. Berpikir ulang antara lanjut memancing atau pulang. Kian malam tidak ada satu pun orang datang, akhirnya pulang.

Ratusan pohon pisang memperindah lingkungan pekarangan rumah warga. Ada singkong, jahe, kunyit, bawang merah, kemangi, dan cabai bisa tumbuh subur di lahan membungkus dua musim kemarau dan hujan. Daun-daun hijau memperlihatkan diri, memantik dari segala mata dan pendengaran menjadikannya lebih asyik. Lampu senter memberi jalan melangkah di batas lahan-lahan subur.

“Loh, Le, habis dari mana?” tanya seorang kakek duduk di batas ladang tanaman singkong, semangka, timun, bayam, dan cabai. “Habis mancing di embung, Kek,” jawabku.

Kakek tersebut sedang menunggu tanaman. Sesekali mengeluarkan asap rokok dari mulut hingga menembus dua lubang hidung seperti loko buatan Belanda membawa ratusan kayu jati dari Jawa menuju Batavia tempo itu.

“Sini, Le! Kalau kamu lapar, ambil saja semangka itu. Atau cabut saja tanaman singkong itu,” tawar kakek agar aku istirahat menemaninya berbincang.

Kejadian tadi masih saja menjadi pertanyaan di dalam pikiran. Memang danyang begitu tepat memberikan jalan menjawab teka-teki atas apa terjadi dari gang rumah tua itu. 

Baca Juga :  423 Siswa SMA Lolos SNMPTN, Masih Banyak Peluang Jalur Lain

***

Pendar cahaya bulan kian mendekap dekat. Ratusan daun tumbuhan terlihat bahagia menari-nari diiringi angin malam membungkus kesuyian. Sebatang buah singkong berhasil dicabut oleh kakek dengan gancu besi. Selanjutnya membakar singkong bersama.

Suasana hening menyelimuti gubuk kecil terangkai dari bambu dan beratap ilalang kering. Gubuk ini tempat istirahat sementara. Selesai menanam, kiranya panas menjadikannya dingin, hujan menjadikannya hangat, serasa dalam Istana Negara Penguasa, astaga.

“Kakek kenal dengan Ibu rumahnya dekat embung desa itu?” tanyaku spontan. Kakek tersebut memastikan mengenalnya karena masih keluarga dari bapaknya.

“Tadi saat memancing, aku melihat dua orang lelaki gagah besar memaksa Ibu itu untuk menandatangi surat. Tetapi ia menolak dan marah besar hingga menutup pintu dengan kasar. Sebenarnya ada apa, Kek?” tuturku.

Raut wajah Kakek seketika sedih dan murung. Dia mengalihkan pandangan dari tempat duduk di depan bakaran api singkong menyala. “Maaf jika pertanyaanku tadi menyinggung Kakek,” sambungku lagi tergesa-gesa karena merasa tidak enak pada Kakek.

“Tidak apa-apa. Mungkin sudah waktunya kamu mendengarkan sebuah peristiwa mengerikan di masa lalu. Lagi pula kamu sudah dewasa tentu sudah mampu memilah dan memilih dengan bijak antara hal baik dan buruk,” terang Kakek.

Kakek ramah itu pun bercerita. Bahwa dulu pernah terjadi sebuah peristiwa mengenaskan di gang rumah tua itu. Sejarah tidak pernah hilang di dalam ingatan masyarakat setempat. Sampai di jalan masuk gang terdapat gapura besar bertuliskan ‘Peristiwa Gang Rumah Tua (Garuta) 1965’.

Pada 1965, Suparmin merupakan suami Sarmini dituduh sebagai anggota partisipan partai terlarang. Surat perintah dari negara waktu itu, demi menjaga stabilitas keamanan kondisi sosial masyarakat tentang Pancasila ingin diubah, seluruh anggota partisipan maupun kader aktif partai harus dibunuh sampai ke akar-akarnya. Bahkan tanpa melalui peradilan terlebih dahulu. Itu pun dilakukan keji dan tidak berkemanusiaan. 

Ada yang ditembak, dicambuk, diperkosa, diarak, dan dipenggal kepalanya. Jasadnya dibuang ke sungai maupun sumur setempat. Padahal, Suparmin seorang muslim taat beribadah. Aktivitas sebagai petani ulung dari terbitnya matahari hingga terbenamnya senja. Ia jalani pekerjaan selama puluhan tahun. Hidup bersama tanah. Entah nasib apa diperolehnya hingga lelaki itu dipenggal di suatu malam ketika menunggu tanaman semangka ingin dipanen dini hari.

“Dan aku menjadi saksi, Le,” sambung Kakek.

Ia kembali melanjutkan ceritanya. Bahwa puluhan suara tembakan terngiang dari desa. Tangis memilukan anak-anak kecil kehilangan orang tua terdengar pilu memekakkan telinga. Rumah-rumah di bakar dan tidak ada satu pun orang menyelamatkan nyawa anggota keluarganya karena sibuk berlari mencari persembunyian.

Kebetulan nasib baik bagi Sarmini malam itu. Dia bertepatan masih di rumah ibunya di Kabupaten B tidak begitu banyak simpatisan masyarakat menjadi bagian partai terlarang yang mengakibatkan ribuan orang-orang pribumi terbunuh mengenaskan ditangan bangsanya sendiri. Sembilan minggu kemudian, Sarmini mendengarkan informasi terbaru dari radio bahwa kondisi negara sudah pulih kembali.

Dia pun pulang ke rumah membawa baju ganti dibungkus jarik khas Jawa dengan raut bingung dan gelisah. Aku segera menuju rumahnya lewat pintu belakang dan menceritakan semua kejadian menimpa suaminya beberapa minggu silam.

“Begitu kejam bangsa ini, sampai tega membunuh rakyatnya sendiri yang tidak berdosa dan bersalah kepada negara.”

Mata Sarmini tampak penuh kebencian.

“Aku paham, Ni. Betapa sakit dan pedihnya kehilangan orang dicintai. Tetapi juga tidak demikianlah. Sudahlah, mau bagaimana lagi. Siapa pun tidak menginginkan kejadian seperti itu. Cukup doakan saja, Ni. Biar Tuhan mengadili itu semua,” sambung Kakek menasihati Sarmini tidak henti-hentinya meneteskan air mata, dan tidak sanggup lagi berkata apa-apa.

Baca Juga :  Bupati Bojonegoro Tinjau Infrastruktur Desa Lewat Safari Ramadan

“Ya sudah, Ni, aku pamit pulang dulu. Ingin mencari rumput untuk dua ekor sapiku,” pamit Kakek.

Saat baru saja ingin membuka pintu belakang rumah Sarmini, tiba-tiba radio di atas kepala Sarmini dilempar ke tanah hingga hancur. Perempuan itu mengucap sumpah-serapah dengan nada tinggi.

“Cukup suamiku saja darahnya mengalir ke sela-sela tanaman buah semangka di lahan subur kami beli dari jerih-payah keringat hasil penjualan sepeda satu-satunya. Dan aku bersumpah tidak akan menjual dan melelangkan lahan kepada siapa pun. Sampai darah ini menyatu di lahan bekas darah tubuh suamiku dipenggal hidup-hidup!”

***

Aku menandaskan dua buah singkong bakar sembari mendengarkan si kakek bercerita malam kian hening dan sunyi. Ceritanya cukup menyedihkan. Setelah kejadian itu, Sarmini harus bertahan hidup sendirian selama puluhan tahun lamanya. Sudah tidak dikaruniai keturunan seumur hidup, ditinggal suaminya. ‘’Lahan satu-satunya yang dimiliki ingin dirampas juga. Seolah langit memang membuat hidupnya ia selalu menderita,” sahut Kakek sambil memadamkan api dengan sebatang daun singkong muda.

“Kek, sepertinya bulan semakin redup. Beberapa tanaman tidak kelihatan indah lagi batangnya.” Aku memerhatikan bulan di cakrawala sana.

“Itu siapa yang berjalan menuju kemari, Kek?” Aku bertanya penasaran. Kuperhatikan lagi dua sosok yang menuju kemari. 

“Sepertinya mereka adalah dua lelaki gagah yang kulihat di gang rumah tua itu.” Belum sempat Kakek menjawab pertanyaanku, aku sudah lebih dulu mengenali sosok itu. “Mereka beneran ke sini, Kek.” Aku cemas seketika.

“Tenang saja. Kita tidak berbuat salah. Mengapa harus takut? Ini minum dulu. Biar daging singkong tidak berhenti di rongga mulut saja.” Kakek menyodorkan kendi berisi air putih kepadaku. 

“Hei, Kakek Tua, sedang apa kau malam-malam di sini? Sedang bakar-bakar api pula? Coba pikir, jika api ini menjalar ke ilalang-ilalang kering itu, apa tidak membahayakan nyawamu dan seluruh lahan di sekitarnya?” Orang itu bertanya dengan nada membentak.

“Apa bicaranya sudah selesai Pak? Kalau belum, silakan diteruskan sebelum singkong ini habis terbakar melahirkan abu akan mengantarkan jasadmu kembali ke tanah. Seperti pemerintah Belanda dulu memberlakukan kerja rodi pada orang-orang pribumi hanya dibayar siksaan sadis belaka,” bantah Kakek.

“Berani-beraninya membentak kami! Bawa dia ke kantor sekarang juga! Cepat!” Perintah lelaki gagah berbadan besar kepada temannya.

Aku menarik kuat tangan kakek dari tarikan dua lelaki gagah berbadan besar itu.

“Jangan bawa dia! Kakek tidak bersalah. Kakek bukan penjahat. Kakek bukan pemakan uang rakyat,” kataku berapi-api sambil berteriak meminta tolong.

“Ayo, bangun! Bangun! Mimpi apa lagi kamu ini,  Gus Cah Ganteng? Baru saja tidur pulas, sudah mengigau minta tolong.” Ibu membangunkanku dari lelap dan mimpi menyeramkan itu.

Seketika ibu memberikan minum. Dan menasihati agar ketika tidur baca doa, biar setan-setan tidak ikut berbaring di kasurmu, apalagi bercanda di dalam mimpimu. Seketika saya duduk dan baru sadarkan diri dengan napas ngos-ngosan tak teratur. 

* MUHAMMAD ANDREA, penyaji kopi di Warung Sematta Kopi, Perumahan Pandawa Land, Pacul, Bojonegoro. Aktif dalam Forum Kajian Sastra Malam Senin di Komunitas Sematta Sastra.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/