alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Jadi Kebutuhan, Harga Springbed Terus Mengalami Kenaikan

- Advertisement -

LAMONGAN – Beban biaya masuk pengiriman bahan baku impor berpengaruh terhadap harga springbed. Tahun lalu, harga springbed naik dua kali pada pertengahan dan akhir tahun. Sehingga diprediksi kenaikan akan terus terjadi karena regulasi pemerintah terus dibenahi. 

“Naiknya cukup tinggi 10 persen dari harga semula,” ujar  Maulida pemilik toko springbed Lamongan kemarin (9/1). 

Menurut dia, kebutuhan akan springbed sebenarnya cukup tinggi.

Karena konsumennya bukan hanya kalangan pribadi saja tapi banyak mengarah ke hotel dan pemilik kos.

Namun, jika harga springbed terus dinaikkan akan berpengaruh terhadap  permintaan. 

- Advertisement -

Jika sebelumnya, awal tahun kebutuhan pengadaan barang dari berbagai perusahaan maupun hotel cukup banyak.

Tapi dengan banyaknya kompetitor dan harga yang terus berubah mengakibatkan kebutuhan menurun.

Baca Juga :  Izin Pasar Tak Keluar, Warga Ngampel Demo

Meski tidak signifikan tapi berpengaruh terhadap penjualan, sehingga harapannya ada regulasi ketetapan harga.

“Supaya konsumen dan penjual bisa saling menguntungkan,” terangnya.  

Maulida menjelaskan, pasar springbed sebenarnya cukup baik di kota soto ini.

Karena masyarakatnya semakin terbuka dengan perlengkapan rumah tangga modern.

Sehingga menghadapi pasar 2018, dia lebih optimistis bisa terjadi kenaikan. 

Anis, salah satu pembeli mengatakan sempat kaget saat membeli springbed.

Karena harganya naik, padahal dua bulan lalu dia beli masih sekitar Rp 1,6 juta sekarang  naik hampir Rp 1,8 juta. 

Jika bahan baku dan biaya kirim terus dinaikkan, imbasnya pada konsumen.

Padahal bujet untuk membeli kebutuhan seperti springbed sudah disisihkan sebelumnya. “Bisa tambah nanti,” tukaasnya.

Baca Juga :  Selalu ingin Perbaiki Kualitas Diri

LAMONGAN – Beban biaya masuk pengiriman bahan baku impor berpengaruh terhadap harga springbed. Tahun lalu, harga springbed naik dua kali pada pertengahan dan akhir tahun. Sehingga diprediksi kenaikan akan terus terjadi karena regulasi pemerintah terus dibenahi. 

“Naiknya cukup tinggi 10 persen dari harga semula,” ujar  Maulida pemilik toko springbed Lamongan kemarin (9/1). 

Menurut dia, kebutuhan akan springbed sebenarnya cukup tinggi.

Karena konsumennya bukan hanya kalangan pribadi saja tapi banyak mengarah ke hotel dan pemilik kos.

Namun, jika harga springbed terus dinaikkan akan berpengaruh terhadap  permintaan. 

- Advertisement -

Jika sebelumnya, awal tahun kebutuhan pengadaan barang dari berbagai perusahaan maupun hotel cukup banyak.

Tapi dengan banyaknya kompetitor dan harga yang terus berubah mengakibatkan kebutuhan menurun.

Baca Juga :  Menjamur Bisnis Rumah Kos, Permintaan Springbed Bertambah

Meski tidak signifikan tapi berpengaruh terhadap penjualan, sehingga harapannya ada regulasi ketetapan harga.

“Supaya konsumen dan penjual bisa saling menguntungkan,” terangnya.  

Maulida menjelaskan, pasar springbed sebenarnya cukup baik di kota soto ini.

Karena masyarakatnya semakin terbuka dengan perlengkapan rumah tangga modern.

Sehingga menghadapi pasar 2018, dia lebih optimistis bisa terjadi kenaikan. 

Anis, salah satu pembeli mengatakan sempat kaget saat membeli springbed.

Karena harganya naik, padahal dua bulan lalu dia beli masih sekitar Rp 1,6 juta sekarang  naik hampir Rp 1,8 juta. 

Jika bahan baku dan biaya kirim terus dinaikkan, imbasnya pada konsumen.

Padahal bujet untuk membeli kebutuhan seperti springbed sudah disisihkan sebelumnya. “Bisa tambah nanti,” tukaasnya.

Baca Juga :  Kemenag Gelontorkan Rp 3 Triliun Untuk Bantuan Operasional Pendidikan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/