alexametrics
29.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Hati-Hati Saat Transaksi, Uang Palsu Terus Beredar

BOJONEGORO – Pengungkapan kasus peredaran uang palsu di wilayah Bojonegoro masih terus dikembangkan oleh Polres Bojonegoro. Saat ini baru diketahui pengedar uang palsu tersebut sebanyak empat tersangka di lokasi yang berbeda. Satu tersangka diringkus di Kota dan tiga tersangka dicokok di Sumberrejo.

Kasatreskrim Polres Bojonegoro, AKP Daky Dzulqarnain mengatakan, saat ini kasus tersebut masih terus dikembangkan.

Karena di wilayah Jawa Timur yang mengungkap kasus peredaran uang palsu baru Bojonegoro dan Banyuwangi.

“Kami sama-sama mengembangkan kasus tersebut, kalau perlu bisa temukan pabriknya, karena uang palsunya sama,” ujarnya. 

Pengembangan kasus tersebut diketahui berdasarkan laporan polisi (LP) dari Polsek Sumberrejo uang palsu tersebut berasal dari Kecamatan Solokuro Lamongan. 

Sementara, Kapolres Bojonegoro, AKBP Wahyu Sri Bintoro menyampaikan,  modus operandi para tersangka menggunakan lembaran uang palsu itu untuk membeli barang. Saat ini kasus tersebut masih terus dikembangkan.

“Masih dikembangkan lagi, ” jelasnya. Dia pun menampik bahwa pengungkapan peredaran uang palsu di wilayah hukumnya tidak ada kaitannya dengan masa tahapan Pilkada. Sebab, peredaran uang palsu biasanya digunakan oknum sebagai alat politik. 

Baca Juga :  Tertipu Beli Minyak Goreng Rp 1,7 Juta, Tetapi Isinya Air

Dia menegaskan bahwa peredaran uang palsu ini murni tindakan kriminal penjualan lembar uang palsu, bukan untuk kepentingan pilkada.

Kemungkinan besar, para pelaku memanfaatkan mata uang yang baru.

“Dimungkinkan masyarakat belum paham dengan mata uang yang baru, sehingga dimanfaatkan para pelaku kejahatan,” ujarnya.

Sehingga ketika menerima uang pecahan besar seperti Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu lebih baik lebih diperhatikan dan dicek.

“Tetap harus dilihat, diraba, dan diterawang. Apabila mengetahui ada kejanggalan, segera dilaporan,” terangnya. 

Adapun total empat tersangka pengedar uang palsu di antaranya pria berinisial MK, 20, warga Jalan Kapten Sidik, Gang Lawak, Desa Pacul, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro.

Dia diamankan polisi setelah melakukan aksinya di dua tempat dan dua korban di Kota Bojonegoro.

Baca Juga :  Harus Jeli, Sebelum Berinvestasi

“Modus tersangka ialah membeli handphone milik kedua korban melalui grup Facebook,” tuturnya.

Barang bukti yang berhasil diamankan petugas yaitu uang palsu pecahan Rp 50 ribu sebanyak 44 lembar yang disita dari korban Wahyu Wicaksono dan uang palsu pecahan Rp 50 ribu sebanyak 24 lembar yang disita dari korban Sohibul Ibad dan 1 buah HP Merk NTC warna silver milik pelaku yang digunakan untuk berkomunikasi dengan para korban.

“Saat ini tersangka dititipkan di sel tahanan Mapolsek Bojonegoro Kota”, imbuh Kapolres.

Tiga tersangka lainnya berinisial SNJ, 54, warga Dusun Gumeno, Desa Sambong, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro; AMW, 17, warga Desa Lowayu, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik; dan MSA, 21, warga Desa Petiyen Tunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik.

“Mereka memanfaatkan mata uang baru pecahan Rp 50 ribuan. Karena belum banyak dikenali masyarakat, uang palsu tersebut digunakan untuk membeli sepeda motor,” jelasnya.

BOJONEGORO – Pengungkapan kasus peredaran uang palsu di wilayah Bojonegoro masih terus dikembangkan oleh Polres Bojonegoro. Saat ini baru diketahui pengedar uang palsu tersebut sebanyak empat tersangka di lokasi yang berbeda. Satu tersangka diringkus di Kota dan tiga tersangka dicokok di Sumberrejo.

Kasatreskrim Polres Bojonegoro, AKP Daky Dzulqarnain mengatakan, saat ini kasus tersebut masih terus dikembangkan.

Karena di wilayah Jawa Timur yang mengungkap kasus peredaran uang palsu baru Bojonegoro dan Banyuwangi.

“Kami sama-sama mengembangkan kasus tersebut, kalau perlu bisa temukan pabriknya, karena uang palsunya sama,” ujarnya. 

Pengembangan kasus tersebut diketahui berdasarkan laporan polisi (LP) dari Polsek Sumberrejo uang palsu tersebut berasal dari Kecamatan Solokuro Lamongan. 

Sementara, Kapolres Bojonegoro, AKBP Wahyu Sri Bintoro menyampaikan,  modus operandi para tersangka menggunakan lembaran uang palsu itu untuk membeli barang. Saat ini kasus tersebut masih terus dikembangkan.

“Masih dikembangkan lagi, ” jelasnya. Dia pun menampik bahwa pengungkapan peredaran uang palsu di wilayah hukumnya tidak ada kaitannya dengan masa tahapan Pilkada. Sebab, peredaran uang palsu biasanya digunakan oknum sebagai alat politik. 

Baca Juga :  Peserta UNBK Masih Terus Berubah

Dia menegaskan bahwa peredaran uang palsu ini murni tindakan kriminal penjualan lembar uang palsu, bukan untuk kepentingan pilkada.

Kemungkinan besar, para pelaku memanfaatkan mata uang yang baru.

“Dimungkinkan masyarakat belum paham dengan mata uang yang baru, sehingga dimanfaatkan para pelaku kejahatan,” ujarnya.

Sehingga ketika menerima uang pecahan besar seperti Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu lebih baik lebih diperhatikan dan dicek.

“Tetap harus dilihat, diraba, dan diterawang. Apabila mengetahui ada kejanggalan, segera dilaporan,” terangnya. 

Adapun total empat tersangka pengedar uang palsu di antaranya pria berinisial MK, 20, warga Jalan Kapten Sidik, Gang Lawak, Desa Pacul, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro.

Dia diamankan polisi setelah melakukan aksinya di dua tempat dan dua korban di Kota Bojonegoro.

Baca Juga :  Kawasan Selatan Bojonegoro Berpotensi Gempa, Pasang Alat Deteksi Dini

“Modus tersangka ialah membeli handphone milik kedua korban melalui grup Facebook,” tuturnya.

Barang bukti yang berhasil diamankan petugas yaitu uang palsu pecahan Rp 50 ribu sebanyak 44 lembar yang disita dari korban Wahyu Wicaksono dan uang palsu pecahan Rp 50 ribu sebanyak 24 lembar yang disita dari korban Sohibul Ibad dan 1 buah HP Merk NTC warna silver milik pelaku yang digunakan untuk berkomunikasi dengan para korban.

“Saat ini tersangka dititipkan di sel tahanan Mapolsek Bojonegoro Kota”, imbuh Kapolres.

Tiga tersangka lainnya berinisial SNJ, 54, warga Dusun Gumeno, Desa Sambong, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro; AMW, 17, warga Desa Lowayu, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik; dan MSA, 21, warga Desa Petiyen Tunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik.

“Mereka memanfaatkan mata uang baru pecahan Rp 50 ribuan. Karena belum banyak dikenali masyarakat, uang palsu tersebut digunakan untuk membeli sepeda motor,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/