alexametrics
29.8 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Desak Perbaiki Pelayanan RSUD Padangan 

- Advertisement -

BOJONEGORO – Usai sudah pembangunan RSUD Padangan. Rumah sakit yang menghabiskan dana APBD senilai Rp 2 miliar itu memiliki 300 kamar yang lokasinya menjadi enam lantai. Direktur Idfos Joko Hadi Purnomo mengungkapkan dengan adanya perbaikan infrastruktur di sebuah rumah sakit harus diiringi dengan sebuah pelayanan yang baik. Sebab, bila hanya infrastruktur saja yang baik tapi pelayanan buruk pun akan menjadi tidak hanya dinikmati masyarakat. 

Dia menjelaskan, untuk memperbaiki sebuah pelayanan di rumah sakit setidaknya perlu ada penyusunan sebuah standar operasional pelayanan yang melibatkan masyarakat.

Sebab, masyarakat adalah objek yang menerima layanan dari sebuah instansi rumah sakit tersebut. 

‘’Jadi ditanyakan ke masyarakat. Kebutuhannya bagaimana,’’ terang dia. 

Joko melanjutkan, dari hasi riset yang pernah dilakukan oleh lembaganya.

- Advertisement -

Secara umum, beberapa rumah sakit dalam pelayanan yang menjadi keluhanan adalah kedisiplinan dokter.

Artinya, yang seharusnya dokter bisa tepat waktu untuk datang ke kantor kadang sering terlambat. 

Baca Juga :  Paket C Jarang Latihan di Lab Komputer

‘’Misalkan seharusnya datang pukul 08.00. Namun, justru ada keterlambatan,’’ ujarnya. 

Menurut dia, kemoloran dokter untuk datang ke rumah sakit itu kadang-kadang karena dokter membuka praktek di rumah.

Selain kedisiplinan, ada sisi layanan yang harus diperbaiki yakni sikap. Sikap ini tidak hanya pada seorang perawat saja.

Melainkan, semua steakholder di rumah sakit tersebut harus bisa menjaga sikap.  ‘’Sebab masyarakat yang datang ke sana itu kan sakit,’’ ujar dia. 

Jadi, perlu ada keramahan saat melayani masyarakat yang dalam keadaaan sakit tersebut.

Dia mengakui, jika sumber daya manusia di rumah sakit memang capek bekerja seharian sehingga bisa terpancing emosi saat melayani.

Menurutnya, itu bisa dimaklumi, tetapi seharusnya bisa diminimalisir dalam menyikapi masyarakat. ‘’Misalkan petugas loket memang harus bersabar,’’ terang dia. 

Joko menambahkan, persoalan yang sering dikeluhkan masyarakat yakni saat masyarakat belum memiliki kartu BPJS Kesehatan.

Saat harus ke rumah sakit masyarakat harus mengurus terlebih dahulu.

Baca Juga :  Klaim Investor Jepang Ingin Investasi

Nah, dia mendorong agar rumah sakit bisa melakukan penanganan terlebih dahulu bagi pasien yang belum memiliki BPJS Kesehatan. 

‘’Baru persyaratan bisa disusul kemudian,’’ terang dia. 

Menurut Joko, sebuah kritikan pada rumah sakit itu bukan berarti menunjukkan sebua keburukan.

Namun, itu adalah bentuk kepedulian masyarakat agar pelayanan bisa lebih baik.

Dikatakan dia, seharusnya rumah sakit juga bisa memberikan ruang bagi masyarakat yang ingin memberikan masukan. 

‘’Kotak saran saja tidak cukup. Rumah sakit harus bisa melakukan inovasi. Buat masyarakat bisa terbuka memberikan saran pada pelayanan rumah sakit,’’ terang dia. 

Kadang, kata Joko, bila ada masyarakat yang takut untuk memberikan kritik.

Sebab, kritikkan akan menjadi boomerang bagi masyarakat itu sendiri.  ‘’Kadang-kadang masyarakat takut karena nanti khawatir di-iting-iting,’’ tegasnya. 

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padangan dr. Sunhadi belum bisa dikonfirmasi.

Saat dihubungi melalui ponselnya terdengar nada aktif tapi tidak diangkat.

BOJONEGORO – Usai sudah pembangunan RSUD Padangan. Rumah sakit yang menghabiskan dana APBD senilai Rp 2 miliar itu memiliki 300 kamar yang lokasinya menjadi enam lantai. Direktur Idfos Joko Hadi Purnomo mengungkapkan dengan adanya perbaikan infrastruktur di sebuah rumah sakit harus diiringi dengan sebuah pelayanan yang baik. Sebab, bila hanya infrastruktur saja yang baik tapi pelayanan buruk pun akan menjadi tidak hanya dinikmati masyarakat. 

Dia menjelaskan, untuk memperbaiki sebuah pelayanan di rumah sakit setidaknya perlu ada penyusunan sebuah standar operasional pelayanan yang melibatkan masyarakat.

Sebab, masyarakat adalah objek yang menerima layanan dari sebuah instansi rumah sakit tersebut. 

‘’Jadi ditanyakan ke masyarakat. Kebutuhannya bagaimana,’’ terang dia. 

Joko melanjutkan, dari hasi riset yang pernah dilakukan oleh lembaganya.

- Advertisement -

Secara umum, beberapa rumah sakit dalam pelayanan yang menjadi keluhanan adalah kedisiplinan dokter.

Artinya, yang seharusnya dokter bisa tepat waktu untuk datang ke kantor kadang sering terlambat. 

Baca Juga :  Nur Sujito Jadi Kadisdik sekaligus Plt Kepala Dinas Kominfo

‘’Misalkan seharusnya datang pukul 08.00. Namun, justru ada keterlambatan,’’ ujarnya. 

Menurut dia, kemoloran dokter untuk datang ke rumah sakit itu kadang-kadang karena dokter membuka praktek di rumah.

Selain kedisiplinan, ada sisi layanan yang harus diperbaiki yakni sikap. Sikap ini tidak hanya pada seorang perawat saja.

Melainkan, semua steakholder di rumah sakit tersebut harus bisa menjaga sikap.  ‘’Sebab masyarakat yang datang ke sana itu kan sakit,’’ ujar dia. 

Jadi, perlu ada keramahan saat melayani masyarakat yang dalam keadaaan sakit tersebut.

Dia mengakui, jika sumber daya manusia di rumah sakit memang capek bekerja seharian sehingga bisa terpancing emosi saat melayani.

Menurutnya, itu bisa dimaklumi, tetapi seharusnya bisa diminimalisir dalam menyikapi masyarakat. ‘’Misalkan petugas loket memang harus bersabar,’’ terang dia. 

Joko menambahkan, persoalan yang sering dikeluhkan masyarakat yakni saat masyarakat belum memiliki kartu BPJS Kesehatan.

Saat harus ke rumah sakit masyarakat harus mengurus terlebih dahulu.

Baca Juga :  Suka Permainan Ekstrim

Nah, dia mendorong agar rumah sakit bisa melakukan penanganan terlebih dahulu bagi pasien yang belum memiliki BPJS Kesehatan. 

‘’Baru persyaratan bisa disusul kemudian,’’ terang dia. 

Menurut Joko, sebuah kritikan pada rumah sakit itu bukan berarti menunjukkan sebua keburukan.

Namun, itu adalah bentuk kepedulian masyarakat agar pelayanan bisa lebih baik.

Dikatakan dia, seharusnya rumah sakit juga bisa memberikan ruang bagi masyarakat yang ingin memberikan masukan. 

‘’Kotak saran saja tidak cukup. Rumah sakit harus bisa melakukan inovasi. Buat masyarakat bisa terbuka memberikan saran pada pelayanan rumah sakit,’’ terang dia. 

Kadang, kata Joko, bila ada masyarakat yang takut untuk memberikan kritik.

Sebab, kritikkan akan menjadi boomerang bagi masyarakat itu sendiri.  ‘’Kadang-kadang masyarakat takut karena nanti khawatir di-iting-iting,’’ tegasnya. 

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padangan dr. Sunhadi belum bisa dikonfirmasi.

Saat dihubungi melalui ponselnya terdengar nada aktif tapi tidak diangkat.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/