alexametrics
29.9 C
Bojonegoro
Thursday, May 19, 2022

Tanamkan Karakter Mandiri Anak dengan Lagu dan Cerita

Guru pendidikan anak usia dini (PAUD) dituntut kreatif mengajar, mendorong Lilik Mahfudhoh membuat lagu dan menulis buku cerita bergambar hewan (Fabel), sebagai media pembentuk karekter anak didik.

SUDUT kedai warung kopi di Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro menjadi destinasi pertemuan dengan Lilik Mahfudhoh, salah satu wisudawati Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri)Bojonegoro.
Peraih penghargaan di kancah nasional sebagai pengarang lagu anak, dan juara buku cerita bergambar tingkat lokal.
Lilik sapaan akrabnya, berusaha menciptakan lagu sebagai media pembentuk karakter anak usia dini berjudul Aku Anak Mandiri.
“Lihatlah temanku, aku anak mandiri, bisa melakukan semua sendiri,” tutur Lilik menyanyikan lagu ciptaannya saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Salah satu lirik lagu karya wisudawan program studi (Prodi) pendidikan islam anak usia dini (PIAUD) Unugiri diunggah di Youtube.
Pemilihan diksi di lagu, Lilik mengambil yang sederhana agar mudah dimengerti anak. “Pengambilan kata dalam lagu saya sesuaikan dengan umur anak PAUD,” ujar peraih juara pertama lomba lagu anak tingkat nasional tersebut.
Selain membuat lirik, Perempuan kelahiran Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas juga mengaransemen lagunya sendiri. Sedangkan untuk permainan alat musik piano dibantu dosennya.
Keseriusan menanamkan karakter mandiri dalam lantunan lagu, tercetus saat melihat anak selalu diantarkan dan tidak mau ditinggal saat di sekolahan. “Keseharian mengajar menjadi alasan saya mengambil tema mandiri. “   ujar alumni SMKN 1 Bonegoro itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, proses penciptaan lagu hingga siap dilombakan hanya membutuhkan waktu seminggu. Lilik terlihat lihai dalam mengarang kata, sebelum mendapatkan gelar juara, sudah sering membuat lagu anak. “Sebelumnya sering membuat lagu anak, tapi tidak dilombakan, untuk saya gunakan sebagai bahan ajar,” ungkapnya.
Selain cipta lagu sebagai media penumbuhan karakter anak. Lilik juga menulis buku cerita bergambar, juga mendapat juara harapan satu tingkat kabupaten. Bukunya mengangkat Monyet sebagai tokoh utama, menceritakan penyesalan karena tidak mau berbagi. Bukunya berjudul Penyesalan si Mogu (Monyet Gundul).
Pilihan gundul untuk membuat penasaran anak. “Biasanya monyet ada rambutnya, tapi ini gundul,” tutur perempuan yang suka masakan pedas ini.
Dalam proses kreatif penulisan cerita, Lilik juga berangkat dari pengalaman ketika mengajar anak PAUD, meraskan banyak anak kecil bertengkar karena tidak mau berbagi dengan teman lain. Buku tersebut hadir untuk menanamkan karakter memberi pada anak.
Kepeduliannya kepada dunia anak-anak juga dituangkan dalam buku antologi, dengan mengambil tema parenting. Sasaran bacanya adalah orang tua anak, buku itu spesial.
Karena tulisan yang masuk dari PIAUD se Indonesia hanya 25 mahasiswa. “Senang, tulisan saya bisa menyumbang manfaat untuk pembaca, khusunya untuk orang tua,” kata perempuan gemar menulis cerita.
Menjadi guru untuk anak-anak tidak sesulit yang dibayangkan dahulu, setelah terjun di dunia pendidikan PAUD merasa lebih senang. Selalu memunculkan hal-hal baru ketika mengajar menjadi strategi untuk mendidik anak. “Lebih kepada memahami situasi anak didik,” terangnya.

Baca Juga :  Persela Terancam Krisis Pemain

Guru pendidikan anak usia dini (PAUD) dituntut kreatif mengajar, mendorong Lilik Mahfudhoh membuat lagu dan menulis buku cerita bergambar hewan (Fabel), sebagai media pembentuk karekter anak didik.

SUDUT kedai warung kopi di Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro menjadi destinasi pertemuan dengan Lilik Mahfudhoh, salah satu wisudawati Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri)Bojonegoro.
Peraih penghargaan di kancah nasional sebagai pengarang lagu anak, dan juara buku cerita bergambar tingkat lokal.
Lilik sapaan akrabnya, berusaha menciptakan lagu sebagai media pembentuk karakter anak usia dini berjudul Aku Anak Mandiri.
“Lihatlah temanku, aku anak mandiri, bisa melakukan semua sendiri,” tutur Lilik menyanyikan lagu ciptaannya saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Salah satu lirik lagu karya wisudawan program studi (Prodi) pendidikan islam anak usia dini (PIAUD) Unugiri diunggah di Youtube.
Pemilihan diksi di lagu, Lilik mengambil yang sederhana agar mudah dimengerti anak. “Pengambilan kata dalam lagu saya sesuaikan dengan umur anak PAUD,” ujar peraih juara pertama lomba lagu anak tingkat nasional tersebut.
Selain membuat lirik, Perempuan kelahiran Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas juga mengaransemen lagunya sendiri. Sedangkan untuk permainan alat musik piano dibantu dosennya.
Keseriusan menanamkan karakter mandiri dalam lantunan lagu, tercetus saat melihat anak selalu diantarkan dan tidak mau ditinggal saat di sekolahan. “Keseharian mengajar menjadi alasan saya mengambil tema mandiri. “   ujar alumni SMKN 1 Bonegoro itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, proses penciptaan lagu hingga siap dilombakan hanya membutuhkan waktu seminggu. Lilik terlihat lihai dalam mengarang kata, sebelum mendapatkan gelar juara, sudah sering membuat lagu anak. “Sebelumnya sering membuat lagu anak, tapi tidak dilombakan, untuk saya gunakan sebagai bahan ajar,” ungkapnya.
Selain cipta lagu sebagai media penumbuhan karakter anak. Lilik juga menulis buku cerita bergambar, juga mendapat juara harapan satu tingkat kabupaten. Bukunya mengangkat Monyet sebagai tokoh utama, menceritakan penyesalan karena tidak mau berbagi. Bukunya berjudul Penyesalan si Mogu (Monyet Gundul).
Pilihan gundul untuk membuat penasaran anak. “Biasanya monyet ada rambutnya, tapi ini gundul,” tutur perempuan yang suka masakan pedas ini.
Dalam proses kreatif penulisan cerita, Lilik juga berangkat dari pengalaman ketika mengajar anak PAUD, meraskan banyak anak kecil bertengkar karena tidak mau berbagi dengan teman lain. Buku tersebut hadir untuk menanamkan karakter memberi pada anak.
Kepeduliannya kepada dunia anak-anak juga dituangkan dalam buku antologi, dengan mengambil tema parenting. Sasaran bacanya adalah orang tua anak, buku itu spesial.
Karena tulisan yang masuk dari PIAUD se Indonesia hanya 25 mahasiswa. “Senang, tulisan saya bisa menyumbang manfaat untuk pembaca, khusunya untuk orang tua,” kata perempuan gemar menulis cerita.
Menjadi guru untuk anak-anak tidak sesulit yang dibayangkan dahulu, setelah terjun di dunia pendidikan PAUD merasa lebih senang. Selalu memunculkan hal-hal baru ketika mengajar menjadi strategi untuk mendidik anak. “Lebih kepada memahami situasi anak didik,” terangnya.

Baca Juga :  Edy Sutrisno, Merasa Rumah Sendiri, Tak Pikirkan Nilai Kontrak

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/