alexametrics
30.9 C
Bojonegoro
Sunday, May 29, 2022

Dipicu Keterbatasan Ekonomi

LAMONGAN, Radar Lamongan – UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang perkawinan mengatur batas usia minimal bagi calon mempelai perempuan 19 tahun. Namun, aturan itu tak membendung pernikahan dini di Lamongan.
Sejak Januari hingga kemarin (8/12), angka permohonan dispensasi nikah di Kota Soto ini tercatat 411 perkara. ‘’Tetap saja ada upaya untuk menyerobot aturan tersebut melalui pengajuan dispensasi nikah. Selain itu, kondisi perekonomian yang pas-pasan juga mendorong orang tua untuk segera menikahkan anaknya. Supaya meringankan beban ekonominya,’’ terang Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Lamongan, Mazir.
Dia menuturkan, orang tua pihak perempuan berharap setelah menikah, sang anak akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Orang tua tidak bisa lagi membiayai pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Selain itu, hubungan anak dan pacarnya yang semakin akrab bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Menurut Mazir, faktor seperti itu seharusnya bisa diatasi bila sang anak memiliki aktivitas lain. Faktor darurat karena pihak perempuan hamil ini juga ada. Mereka harus segera dinikahkan agar sang anak nanti memiliki dokumen administrasi yang legal.
‘’Harus ada aktivitas yang bisa mengalihkan perhatian anak supaya tidak jenuh di rumah saja dan lebih produktif. Misalnya ikut pelatihan-pelatihan kerja atau kegiatan lain di masyarakat. Otomatis dia bisa enjoy dengan aktivitasnya yang baru dan tidak terpikir untuk segera menikah,’’ tuturnya.
Bila perempuan masih menahan diri untuk tidak menikah secepatnya, maka hakim akan meminta untuk dicabut permohonannya.
‘’Tinggal dua sampai tiga bulan lagi usianya sudah genap 19 tahun. Yang perempuan juga masih sanggup menahan diri. Lebih baik dicabut saja permohonannya,’’ imbuh Mazir.
Pemohon dipensasi nikah berasal dari berbagai kecamatan. Namun dalam beberapa waktu terakhir, pemohon didominasi wilayah selatan dan utara.
‘’Umumnya daerah perbatasan Jombang dan Mojokerto. Seperti di Sukorame. Lalu pantura juga banyak. Termasuk di Kecamatan Lamongan sendiri banyak. Karena disebabkan oleh berbagai faktor itu tadi,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Buka Tutup Lagi Pintu Kuro 

LAMONGAN, Radar Lamongan – UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang perkawinan mengatur batas usia minimal bagi calon mempelai perempuan 19 tahun. Namun, aturan itu tak membendung pernikahan dini di Lamongan.
Sejak Januari hingga kemarin (8/12), angka permohonan dispensasi nikah di Kota Soto ini tercatat 411 perkara. ‘’Tetap saja ada upaya untuk menyerobot aturan tersebut melalui pengajuan dispensasi nikah. Selain itu, kondisi perekonomian yang pas-pasan juga mendorong orang tua untuk segera menikahkan anaknya. Supaya meringankan beban ekonominya,’’ terang Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Lamongan, Mazir.
Dia menuturkan, orang tua pihak perempuan berharap setelah menikah, sang anak akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Orang tua tidak bisa lagi membiayai pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Selain itu, hubungan anak dan pacarnya yang semakin akrab bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Menurut Mazir, faktor seperti itu seharusnya bisa diatasi bila sang anak memiliki aktivitas lain. Faktor darurat karena pihak perempuan hamil ini juga ada. Mereka harus segera dinikahkan agar sang anak nanti memiliki dokumen administrasi yang legal.
‘’Harus ada aktivitas yang bisa mengalihkan perhatian anak supaya tidak jenuh di rumah saja dan lebih produktif. Misalnya ikut pelatihan-pelatihan kerja atau kegiatan lain di masyarakat. Otomatis dia bisa enjoy dengan aktivitasnya yang baru dan tidak terpikir untuk segera menikah,’’ tuturnya.
Bila perempuan masih menahan diri untuk tidak menikah secepatnya, maka hakim akan meminta untuk dicabut permohonannya.
‘’Tinggal dua sampai tiga bulan lagi usianya sudah genap 19 tahun. Yang perempuan juga masih sanggup menahan diri. Lebih baik dicabut saja permohonannya,’’ imbuh Mazir.
Pemohon dipensasi nikah berasal dari berbagai kecamatan. Namun dalam beberapa waktu terakhir, pemohon didominasi wilayah selatan dan utara.
‘’Umumnya daerah perbatasan Jombang dan Mojokerto. Seperti di Sukorame. Lalu pantura juga banyak. Termasuk di Kecamatan Lamongan sendiri banyak. Karena disebabkan oleh berbagai faktor itu tadi,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Pendapatan Deposito Tembus Rp 35 Miliar

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/