alexametrics
26.8 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Tidak Sarankan Daun Direbus Dulu

Mutmainah lebih banyak memroduksi camilan berbahan dasar daun kelor dan daun pepaya. Dia punya trik untuk menghilangkan rasa pahit dari dedaunan.

SEHARI-hari, Mutmainah menjaga dan melayani pelanggan di toko miliknya. Saat ada pesanan camilan, ibu rumah tangga ini akan banyak menghabiskan waktunya di dapur.
‘’Sudah habis produksinya. Hari ini (kemarin) libur dulu,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (8/11).
Mutmainah hobi membuat camilan. Dia selalu menambahkan bahan-bahan yang jarang dimanfaatkan untuk membuat camilan. Seperti talas, waluh, dan jahe. Camilan tersebut awalnya hanya dinikmati oleh anggota keluarganya.
‘’Saya itu kalau bikin camilan tapi nggak ada bahan-bahan herbalnya kok rasanya kurang mantap,’’ tuturnya.
Sejak dua tahun terakhir, Mutmainah bereksplorasi dengan daun kelor dan daun pepaya sebagai bahan dasar camilan. Kedua daun tersebut diyakini memiliki kandungan gizi untuk menjaga stamina dan menjadi obat bagi penyakit-penyakit tertentu.
Jika daun kelor dan daun pepaya hanya dikonsumsi dengan cara direbus, maka banyak orang yang tidak tertarik. ‘’Intinya bagaimana caranya agar orang mau makan daun kelor dan daun pepaya tanpa terasa aneh. Apalagi bahan-bahannya banyak didapatkan di sekitar rumah,’’ jelasnya.
Awalnya, perempuan 42 tahun ini mengolah dedaunan tersebut menjadi camilan stik. Mutmainah menitipkan camilannya di koperasi-koperasi sekolah wilayah Kecamatan Sambeng. Setelah pandemi Covid-19 merebak, dia kesulitan memasarkan camilannya. Mutmainah mencoba membuat camilan jenis lain seperti kue semprit, peyek, dan donat berbahan dasar dedaunan itu.
‘’Pokoknya dicoba buat dulu. Walaupun kelemahannya kalau bikin kue basah itu nggak bisa tahan lama. Makanya sekarang lebih banyak bikin camilan-camilan kering,’’ terangnya.
Takaran daun kelor maupun daun pepaya yang akan diolah menjadi camilan sama. Yakni 2 ons daun untuk campuran tepung sebanyak 0,5 kilogram. Daun kelor dan daun pepaya yang masih segar diblender sampai halus. Sari-sari dan ampas daun dimasukkan sekaligus ke dalam adonan tepung. Dia tidak menyarankan daun-daun tersebut direbus terlebih dahulu atau menggunakan daun yang dikeringkan supaya tidak langu.
‘’Harus pakai daun segar yang baru dipetik. Karena kalau pakai daun kering malah ada bau-bau yang nggak enak. Sedangkan jika pakai daun segar rasanya beda dan warna hijau yang dihasilkan lebih bagus,’’ paparnya.
Mutmainah memiliki trik tersendiri menghilangkan rasa pahit dan gatal dari dedauan. Namun, dia enggan membeberkan cara untuk menetralisir rasa daunnya. Selain itu, Mutmainah menyarankan agar memanfaatkan daun yang sudah tua.
‘’Lebih enak  pakai daun yang tua. Soalnya kalau pakai yang muda, dari segi rasa dan warna sudah beda,’’ imbuhnya.
Meskipun ada komposisi daun-daunan, Mutmainah mengklaim camilan buatannya tidak terasa pahit ataupun gatal di lidah. Menurut dia, efek daun kelor dan daun pepaya hanya memberikan aroma sedap sekaligus sebagai pewarna alami.
‘’Orang-orang yang nggak suka sayur bisa punya alternatif dengan cara makan camilan seperti ini,’’ tuturnya.
Karena mengandung unsur tumbuh-tumbuhan, camilan berbahan dasar daun kelor dan daun pepaya hanya bertahan selama tiga bulan. Mutmainah menerangkan, bahan-bahan tumbuhan jika ingin dikreasikan lebih disarankan untuk dibuat sebagai camilan kering.
‘’Kalau dibuat dalam bentuk minuman nggak bisa tahan lama. Sebelumnya juga pernah bikin minuman jahe merah, tapi nggak tahan lama. Walaupun disimpan di kulkas dua hari saja rasanya sudah beda. Saya nggak mau kalau harus pakai bahan pengawet. Takutnya malah kenapa-kenapa,’’ tuturnya.
Ke depan, Mutmainah tertantang membuat makanan berbahan dasar tanaman rimpang seperti temulawak, kunyit, dan kencur.
‘’Pinginnya tetap bikin sesuatu pakai bahan dasar tanaman herbal, tapi bukan jamu,’’ ujar perempuan yang tinggal di Kecamatan Sambeng ini.

Baca Juga :  Banjir Bandang Juga Melanda

Mutmainah lebih banyak memroduksi camilan berbahan dasar daun kelor dan daun pepaya. Dia punya trik untuk menghilangkan rasa pahit dari dedaunan.

SEHARI-hari, Mutmainah menjaga dan melayani pelanggan di toko miliknya. Saat ada pesanan camilan, ibu rumah tangga ini akan banyak menghabiskan waktunya di dapur.
‘’Sudah habis produksinya. Hari ini (kemarin) libur dulu,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (8/11).
Mutmainah hobi membuat camilan. Dia selalu menambahkan bahan-bahan yang jarang dimanfaatkan untuk membuat camilan. Seperti talas, waluh, dan jahe. Camilan tersebut awalnya hanya dinikmati oleh anggota keluarganya.
‘’Saya itu kalau bikin camilan tapi nggak ada bahan-bahan herbalnya kok rasanya kurang mantap,’’ tuturnya.
Sejak dua tahun terakhir, Mutmainah bereksplorasi dengan daun kelor dan daun pepaya sebagai bahan dasar camilan. Kedua daun tersebut diyakini memiliki kandungan gizi untuk menjaga stamina dan menjadi obat bagi penyakit-penyakit tertentu.
Jika daun kelor dan daun pepaya hanya dikonsumsi dengan cara direbus, maka banyak orang yang tidak tertarik. ‘’Intinya bagaimana caranya agar orang mau makan daun kelor dan daun pepaya tanpa terasa aneh. Apalagi bahan-bahannya banyak didapatkan di sekitar rumah,’’ jelasnya.
Awalnya, perempuan 42 tahun ini mengolah dedaunan tersebut menjadi camilan stik. Mutmainah menitipkan camilannya di koperasi-koperasi sekolah wilayah Kecamatan Sambeng. Setelah pandemi Covid-19 merebak, dia kesulitan memasarkan camilannya. Mutmainah mencoba membuat camilan jenis lain seperti kue semprit, peyek, dan donat berbahan dasar dedaunan itu.
‘’Pokoknya dicoba buat dulu. Walaupun kelemahannya kalau bikin kue basah itu nggak bisa tahan lama. Makanya sekarang lebih banyak bikin camilan-camilan kering,’’ terangnya.
Takaran daun kelor maupun daun pepaya yang akan diolah menjadi camilan sama. Yakni 2 ons daun untuk campuran tepung sebanyak 0,5 kilogram. Daun kelor dan daun pepaya yang masih segar diblender sampai halus. Sari-sari dan ampas daun dimasukkan sekaligus ke dalam adonan tepung. Dia tidak menyarankan daun-daun tersebut direbus terlebih dahulu atau menggunakan daun yang dikeringkan supaya tidak langu.
‘’Harus pakai daun segar yang baru dipetik. Karena kalau pakai daun kering malah ada bau-bau yang nggak enak. Sedangkan jika pakai daun segar rasanya beda dan warna hijau yang dihasilkan lebih bagus,’’ paparnya.
Mutmainah memiliki trik tersendiri menghilangkan rasa pahit dan gatal dari dedauan. Namun, dia enggan membeberkan cara untuk menetralisir rasa daunnya. Selain itu, Mutmainah menyarankan agar memanfaatkan daun yang sudah tua.
‘’Lebih enak  pakai daun yang tua. Soalnya kalau pakai yang muda, dari segi rasa dan warna sudah beda,’’ imbuhnya.
Meskipun ada komposisi daun-daunan, Mutmainah mengklaim camilan buatannya tidak terasa pahit ataupun gatal di lidah. Menurut dia, efek daun kelor dan daun pepaya hanya memberikan aroma sedap sekaligus sebagai pewarna alami.
‘’Orang-orang yang nggak suka sayur bisa punya alternatif dengan cara makan camilan seperti ini,’’ tuturnya.
Karena mengandung unsur tumbuh-tumbuhan, camilan berbahan dasar daun kelor dan daun pepaya hanya bertahan selama tiga bulan. Mutmainah menerangkan, bahan-bahan tumbuhan jika ingin dikreasikan lebih disarankan untuk dibuat sebagai camilan kering.
‘’Kalau dibuat dalam bentuk minuman nggak bisa tahan lama. Sebelumnya juga pernah bikin minuman jahe merah, tapi nggak tahan lama. Walaupun disimpan di kulkas dua hari saja rasanya sudah beda. Saya nggak mau kalau harus pakai bahan pengawet. Takutnya malah kenapa-kenapa,’’ tuturnya.
Ke depan, Mutmainah tertantang membuat makanan berbahan dasar tanaman rimpang seperti temulawak, kunyit, dan kencur.
‘’Pinginnya tetap bikin sesuatu pakai bahan dasar tanaman herbal, tapi bukan jamu,’’ ujar perempuan yang tinggal di Kecamatan Sambeng ini.

Baca Juga :  Pendonor Minim, Sempat Kekurangan Stok Darah di PMI Lamongan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/