alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Penemuan Benda Purbakala di Desa Sambongrejo Kecamatan Gondang

Benda bersejarah selalu menarik perhatian sebagian orang. Keberadaannya bisa menyingkap misteri peradaban manusia. Sayangnya, sebagian disimpan untuk kepentingan pribadi. Sisanya terabaikan dan tak terawat.   

————————————-

FIRDIA FIDAYANTI, Bojonegoro

————————————-

Cuaca terasa terik sekali ketika memasuki Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang. Ditambah jalanan yang sebagian aspalnya banyak mengelupas, membuat setiap pengendara yang melintas harus hati-hati. 

Meski kiri kanan jalan berupa hutan jati, jangan dibayangkan kawasan tersebut tepi hutan belantara. Sebab, hutan di kawasan tersebut sebagian besar sudah gundul, sama seperti kebanyakan wilayah hutan di Bojonegoro. Tak mampu meredam teriknya mentari. Namun, suasana kiri dan kanan jalan yang berkelok tersebut sayang untuk dilewatkan.

Meski demikian, kawasan tersebut menyimpan cerita tentang sejarah peradaban manusia. Tepatnya di kawasan hutan Dusun Kenongrejo, Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang, pernah ditemukan banyak tulang belulang, pecahan genting dan gerabah seperti kendi, wajan tanah, kuali, dan sebagainya. 

Di setiap lokasi yang banyak ditemukan pecahan gerabah ini saat digali lebih dalam lagi pasti menemukan monte atau manik-manik dan juga uang logam. ”Iya, pernah ditemukan tulang belulang manusia dan perhiasan seperti kalung dan gelang monte,” tutur Kepala Desa Sambongrejo Eko Prasetio. 

Dia mengatakan, penemuan perhiasan kuno seperti kalung mutiara, gelang, dan perhiasan lainnya ini memang cukup lama, sekitar 1997/1998. Ketika ditemukan, perhiasan itu sebagian dalam keadaan utuh. Bahkan, ada yang masih di dalam tempatnya. Penemuan perhiasan purba memantik rasa penasaran warga lain untuk beramai-ramai ke hutan mencari “harta karun”.

Baca Juga :  Dirawat RS Lima Hari, Satu Jamaah Haji Meninggal

Saat itu memang sempat terjadi perburuan perhiasan kuno besar-besaran. Bahkan, sekitar 1988 pernah ada yang menemukan perhiasan lengkap beserta kotak kuningan. Saat itu, penemuan tersebut diamankan oleh Polsek Rejoso, Nganjuk. Sebab, lokasi hutan, tempat ditemukannya perhiasan itu, masuk wilayah Kabupaten Nganjuk. Namun, hingga kini belum diketahui pasti keberadaan temuan tersebut. Entah disimpan di museum di Nganjuk atau jatuh ke tangan ke kolektor. 

Eko menceritakan, berdasarkan beberapa referensi yang dia baca, diduga penemuan gerabah, monte, dan koin di sekitar tulang belulang itu adalah “bekal kubur”. Dari referensi tersebut dijelaskan bahwa pada tradisi penguburan jenazah zaman dulu, selain jenazah, juga ikut dikuburkan benda-benda berharga, dengan tujuan sebagai “bekal” untuk meneruskan perjalanan di kehidupan berikutnya. Sedangkan banyak atau sedikitnya barang yang ikut dikuburkan menunjukkan strata sosial dari orang yang dikubur. 

Ketika ditanya kira-kira benda-benda yang ditemukan itu ada zaman apa, dia tidak bisa menjawab dengan pasti. ”Perlu dilakukan penelitian lebih dalam lagi bersama para ahli,” kata kades yang tahun ini mendapat penghargaan sebagai penggiat budaya dan wisata dari Bupati Suyoto. 

Selain perhiasan dan gerabah yang ditemukan, yang menarik perhatian adalah penemuan koin di sekitar tulang belulang tersebut. Koin tersebut berbentuk bulat, namun tengahnya ada lubang berbentuk persegi. Pada koin dia tunjukkan itu terlihat ada ukiran gambar wayang. Dari beberapa referensi, koin tersebut lazim disebut koin gobok wayang. 

Baca Juga :  Perlu Museum Purbakala di Temayang

Keberadaan koin ini pernah disinggung Thomas Stammford Raffless, gubernur jenderal Inggris di Jawa saat itu, dalam bukunya  History of Java. Koin ini banyak ditemukan di zaman Kerajaan Majapahit akhir, sekitar abad 17-18 Masehi. Konon, koin ini biasa digunakan sebagai pelengkap dalam sesaji upacara persembahan, bukan merupakan koin yang lazim digunakan sebagai alat tukar atau tidak bernominal.  

Eko juga menceritakan, kurang lebih 2 kilometer di timur Watu Karang, lokasi ditemukan tulang belulang, monte, koin, dan gerabah, ada pekuburan kuno yang menurut warga sekitar adalah makam Suro Sentono. 

Suro Sentono adalah prajurit dari Mataram yang bersembunyi di hutan sekitar Gunung Pandan dan Kecamatan Gondang. Tapi, pekuburan ini sudah membujur ke utara. Artinya, makam tersebut merupakan makam Islam. Namun, dia tidak bisa memastikan apakah pekuburan yang diduga makam Suro Sentono ini dari zaman yang sama dengan penemuan tulang belulang di lokasi pertama. Sebab, tulang belulang yang ditemukan pada lokasi pertama tersebut posisinya berserakan.  

Namun, sebagian penemuan yang bisa dijadikan penanda sejarah tersebut tak tersimpan dengan baik. Benda-benda seperti perhiasan dan monte-monte kuno banyak yang jatuh ke tangan kolektor. 

Eko mengatakan, mungkin sebagian warga ada yang masih menyimpan, itu pun merupakan koleksi pribadi atau yang tidak laku dijual. Tak ada yang tersimpan di balai desa setempat atau disimpan di Museum Rajekwesi. Sedangkan tulang belulang yang temukan kembali dikuburkan.

Benda bersejarah selalu menarik perhatian sebagian orang. Keberadaannya bisa menyingkap misteri peradaban manusia. Sayangnya, sebagian disimpan untuk kepentingan pribadi. Sisanya terabaikan dan tak terawat.   

————————————-

FIRDIA FIDAYANTI, Bojonegoro

————————————-

Cuaca terasa terik sekali ketika memasuki Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang. Ditambah jalanan yang sebagian aspalnya banyak mengelupas, membuat setiap pengendara yang melintas harus hati-hati. 

Meski kiri kanan jalan berupa hutan jati, jangan dibayangkan kawasan tersebut tepi hutan belantara. Sebab, hutan di kawasan tersebut sebagian besar sudah gundul, sama seperti kebanyakan wilayah hutan di Bojonegoro. Tak mampu meredam teriknya mentari. Namun, suasana kiri dan kanan jalan yang berkelok tersebut sayang untuk dilewatkan.

Meski demikian, kawasan tersebut menyimpan cerita tentang sejarah peradaban manusia. Tepatnya di kawasan hutan Dusun Kenongrejo, Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang, pernah ditemukan banyak tulang belulang, pecahan genting dan gerabah seperti kendi, wajan tanah, kuali, dan sebagainya. 

Di setiap lokasi yang banyak ditemukan pecahan gerabah ini saat digali lebih dalam lagi pasti menemukan monte atau manik-manik dan juga uang logam. ”Iya, pernah ditemukan tulang belulang manusia dan perhiasan seperti kalung dan gelang monte,” tutur Kepala Desa Sambongrejo Eko Prasetio. 

Dia mengatakan, penemuan perhiasan kuno seperti kalung mutiara, gelang, dan perhiasan lainnya ini memang cukup lama, sekitar 1997/1998. Ketika ditemukan, perhiasan itu sebagian dalam keadaan utuh. Bahkan, ada yang masih di dalam tempatnya. Penemuan perhiasan purba memantik rasa penasaran warga lain untuk beramai-ramai ke hutan mencari “harta karun”.

Baca Juga :  Dirawat RS Lima Hari, Satu Jamaah Haji Meninggal

Saat itu memang sempat terjadi perburuan perhiasan kuno besar-besaran. Bahkan, sekitar 1988 pernah ada yang menemukan perhiasan lengkap beserta kotak kuningan. Saat itu, penemuan tersebut diamankan oleh Polsek Rejoso, Nganjuk. Sebab, lokasi hutan, tempat ditemukannya perhiasan itu, masuk wilayah Kabupaten Nganjuk. Namun, hingga kini belum diketahui pasti keberadaan temuan tersebut. Entah disimpan di museum di Nganjuk atau jatuh ke tangan ke kolektor. 

Eko menceritakan, berdasarkan beberapa referensi yang dia baca, diduga penemuan gerabah, monte, dan koin di sekitar tulang belulang itu adalah “bekal kubur”. Dari referensi tersebut dijelaskan bahwa pada tradisi penguburan jenazah zaman dulu, selain jenazah, juga ikut dikuburkan benda-benda berharga, dengan tujuan sebagai “bekal” untuk meneruskan perjalanan di kehidupan berikutnya. Sedangkan banyak atau sedikitnya barang yang ikut dikuburkan menunjukkan strata sosial dari orang yang dikubur. 

Ketika ditanya kira-kira benda-benda yang ditemukan itu ada zaman apa, dia tidak bisa menjawab dengan pasti. ”Perlu dilakukan penelitian lebih dalam lagi bersama para ahli,” kata kades yang tahun ini mendapat penghargaan sebagai penggiat budaya dan wisata dari Bupati Suyoto. 

Selain perhiasan dan gerabah yang ditemukan, yang menarik perhatian adalah penemuan koin di sekitar tulang belulang tersebut. Koin tersebut berbentuk bulat, namun tengahnya ada lubang berbentuk persegi. Pada koin dia tunjukkan itu terlihat ada ukiran gambar wayang. Dari beberapa referensi, koin tersebut lazim disebut koin gobok wayang. 

Baca Juga :  Ditutup Total, Sayap Jembatan Ambles Ngasem 1,5 Meter

Keberadaan koin ini pernah disinggung Thomas Stammford Raffless, gubernur jenderal Inggris di Jawa saat itu, dalam bukunya  History of Java. Koin ini banyak ditemukan di zaman Kerajaan Majapahit akhir, sekitar abad 17-18 Masehi. Konon, koin ini biasa digunakan sebagai pelengkap dalam sesaji upacara persembahan, bukan merupakan koin yang lazim digunakan sebagai alat tukar atau tidak bernominal.  

Eko juga menceritakan, kurang lebih 2 kilometer di timur Watu Karang, lokasi ditemukan tulang belulang, monte, koin, dan gerabah, ada pekuburan kuno yang menurut warga sekitar adalah makam Suro Sentono. 

Suro Sentono adalah prajurit dari Mataram yang bersembunyi di hutan sekitar Gunung Pandan dan Kecamatan Gondang. Tapi, pekuburan ini sudah membujur ke utara. Artinya, makam tersebut merupakan makam Islam. Namun, dia tidak bisa memastikan apakah pekuburan yang diduga makam Suro Sentono ini dari zaman yang sama dengan penemuan tulang belulang di lokasi pertama. Sebab, tulang belulang yang ditemukan pada lokasi pertama tersebut posisinya berserakan.  

Namun, sebagian penemuan yang bisa dijadikan penanda sejarah tersebut tak tersimpan dengan baik. Benda-benda seperti perhiasan dan monte-monte kuno banyak yang jatuh ke tangan kolektor. 

Eko mengatakan, mungkin sebagian warga ada yang masih menyimpan, itu pun merupakan koleksi pribadi atau yang tidak laku dijual. Tak ada yang tersimpan di balai desa setempat atau disimpan di Museum Rajekwesi. Sedangkan tulang belulang yang temukan kembali dikuburkan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/