alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Pasangan Suami Istri Kompak Curi 25 Unit Motor Sejak 2019

Radar Lamongan – Ainul Hanif, 43, dan istrinya Nurul Aini, 40, berboncengan motor. Saat melihat motor parkir yang kuncinya masih menempel, maka Ainul menghentikan kendaraannya. Sang istri diminta membawa motor, sementara dia mendekati kendaraan yang ditinggal pemiliknya itu. Selanjutnya, keduanya meninggalkan lokasi kejadian. Begitulah modus pencurian yang dilakukan pasangan suami istri (pasutri) asal Desa Brengkok, Kecamatan Brondong ini.

Keduanya diamankan di rumahnya setelah melakukan total pencurian 25 unit motor di Kecamatan Paciran, Brondong, dan Solokuro. Serta, wilayah Kabupaten Tuban. ‘’Sebanyak 25 TKP. Mulai dari Paciran 7 TKP, Brondong sebanyak 10 TKP, Solokuro 7 TKP, dan Tuban 1 TKP,’’ jelas Kapolres Lamongan AKBP Harun.

Pasutri itu melakukan pencurian motor sejak 2019. ‘’Kedua tersangka ini adalah pasangan suami istri,’’ imbuhnya. Menurut dia, sasarannya lebih banyak motor yang diparkir di depan rumah dan kuncinya masih menempel. Tersangka berusaha menghilangkan jejak motor curian itu dengan cara mengganti pelat nomor, warna veleg, maupun menambahi variasi motor.

Baca Juga :  Parade Merah Putih, dari Lamongan untuk Indonesia Damai

‘’Penjualannya sendiri tak di luar kota. Hanya di wilayah pantura. Karena banyak yang diganti, pastinya lama terendus,’’ kata Kapolres. Sebagian pembeli motor curian itu tetangga dan teman dekat tersangka. Harga jual motor itu Rp 2 juta hingga Rp 4 juta, tergantung kondisi dan tahun mesinnya.

Motor yang dijual tanpa ada surat – surat kendaraannya. Ainul Hanif di hadapan petugas mengatakan, kali pertama mengajak istri untuk mencuri motor dengan berkeliling di kampung. Setelah mendapatkan sasaran, dia turun dan membawa lari motor tersebut. Setelah itu, pelat nomor motor diganti.

‘’Biasanya saya dipesan orang – orang mencari sepeda yang murah – murah,’’ kata bapak empat anak ini. Menurut dia, pembelinya mengetahui bahwa motor yang dijual tak memiliki surat – surat. Namun, mereka tak mengetahui kalau motor yang dijualnya hasil pencurian.

Baca Juga :  Tingkatkan Pemberdayaan Masyarakat, Tumbuhkan Wirausaha Baru

Sementara Nurul Aini di hadapan petugas beralasan dirinya mau diajak mencuri karena terlilit utang bank titil setiap hari. Hasil kerjanya tak mencukupi dibandingkan besarnya tagihan bank. ‘’Saya nekad itu karena terlilit utang bank titil. Setiap hari dan mingguan ada,’’ alasannya. Kapolres meminta masyarakat yang merasa kehilangan agar ke polres untuk melakukan pengecekan kendaraan.

Radar Lamongan – Ainul Hanif, 43, dan istrinya Nurul Aini, 40, berboncengan motor. Saat melihat motor parkir yang kuncinya masih menempel, maka Ainul menghentikan kendaraannya. Sang istri diminta membawa motor, sementara dia mendekati kendaraan yang ditinggal pemiliknya itu. Selanjutnya, keduanya meninggalkan lokasi kejadian. Begitulah modus pencurian yang dilakukan pasangan suami istri (pasutri) asal Desa Brengkok, Kecamatan Brondong ini.

Keduanya diamankan di rumahnya setelah melakukan total pencurian 25 unit motor di Kecamatan Paciran, Brondong, dan Solokuro. Serta, wilayah Kabupaten Tuban. ‘’Sebanyak 25 TKP. Mulai dari Paciran 7 TKP, Brondong sebanyak 10 TKP, Solokuro 7 TKP, dan Tuban 1 TKP,’’ jelas Kapolres Lamongan AKBP Harun.

Pasutri itu melakukan pencurian motor sejak 2019. ‘’Kedua tersangka ini adalah pasangan suami istri,’’ imbuhnya. Menurut dia, sasarannya lebih banyak motor yang diparkir di depan rumah dan kuncinya masih menempel. Tersangka berusaha menghilangkan jejak motor curian itu dengan cara mengganti pelat nomor, warna veleg, maupun menambahi variasi motor.

Baca Juga :  Penjual Miras Oplosan Bakal Ditindak Tegas

‘’Penjualannya sendiri tak di luar kota. Hanya di wilayah pantura. Karena banyak yang diganti, pastinya lama terendus,’’ kata Kapolres. Sebagian pembeli motor curian itu tetangga dan teman dekat tersangka. Harga jual motor itu Rp 2 juta hingga Rp 4 juta, tergantung kondisi dan tahun mesinnya.

Motor yang dijual tanpa ada surat – surat kendaraannya. Ainul Hanif di hadapan petugas mengatakan, kali pertama mengajak istri untuk mencuri motor dengan berkeliling di kampung. Setelah mendapatkan sasaran, dia turun dan membawa lari motor tersebut. Setelah itu, pelat nomor motor diganti.

‘’Biasanya saya dipesan orang – orang mencari sepeda yang murah – murah,’’ kata bapak empat anak ini. Menurut dia, pembelinya mengetahui bahwa motor yang dijual tak memiliki surat – surat. Namun, mereka tak mengetahui kalau motor yang dijualnya hasil pencurian.

Baca Juga :  Dalam Aksi May Day, Demonstran Usung Isu Kesejahteraan GTT

Sementara Nurul Aini di hadapan petugas beralasan dirinya mau diajak mencuri karena terlilit utang bank titil setiap hari. Hasil kerjanya tak mencukupi dibandingkan besarnya tagihan bank. ‘’Saya nekad itu karena terlilit utang bank titil. Setiap hari dan mingguan ada,’’ alasannya. Kapolres meminta masyarakat yang merasa kehilangan agar ke polres untuk melakukan pengecekan kendaraan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/