alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Sudah Tak Butuh RS Baru

LAMONGAN, Radar Lamongan – Jumlah instalasi kesehatan (rumah sakit (RS), puskesmas, dan klinik kesehatan) di Lamongan sudah melebihi kapasitas. Namun masih perlu peningkatan fasilitas dan kualitas sarana layanan kesehatan. 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Lamongan, instalasi kesehatan di Kota Soto tersebut telah memiliki 1.600 unit tempat tidur (TT) lebih. Sesuai standar Word Health Organization (WHO)/Organisasi Kesehatan Dunia, dengan jumlah penduduk Lamongan sekitar 1,3 Juta jiwa, minimal kebutuhan TT layanan kesehatan sebanyak 1.300 Unit. “Arinya, jumlah lembaga kesehatan di Lamongan saat ini sudah cukup ideal dengan pertumbuhan penduduk sekitar 1,3 juta jiwa,” kata Kepala Dinas Kesehatan Lamongan, Taufik Hidayat kemarin (8/9).

Menurut dia, jumlah instalasi kesehatan itu yakni sebanyak 11 RS memiliki 1.280 TT dan 33 puskesmas memiliki 340 TT. Totalnya mencapai 1.600 TT lebih. ‘’Itu belum termasuk fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) nonpemerintah (klinik kesehatan),’’ ungkapnya.

Baca Juga :  PAN Semakin Solid, Semakin Dicintai Rakyat

Dengan rasio pertumbuhan penduduk dan jumlah instalasi kesehatan tersebut, menurut Taufik sebenarnya tidak ada overload pasien di instalasi kesehatan. Karena jumlah ruang pelayanan sudah cukup apabila bisa dimanfaatkan semua.

Kalau ternyata terjadi overload pasien, menurut dia, biasanya untuk jenis penyakit tertentu yang melonjak dan tidak bisa dicampur pasien lain. Apalagi pelayanan untuk anak, dewasa dan lansia juga harus dibedakan. Sehingga perlu dilakukan kerjasama antar instalasi kesehatan untuk memperbaiki pelayanan. “Semua bisa diantisipasi dengan kerjasama baik layanan kesehatan pemerintah ataupun nonpemerintah. Dan sekarang juga ada penambahan fasilitas di puskesmas,” ujarnya.

Meski kapasitas layanan kesehatan sudah cukup, lanjut mantan Direktur RSUD Ngimbang, namun tidak semua layanan kesehatan memiliki fasilitas lengkap. Sehingga masih ada warga Lamongan yang melakukan pengobatan di luar daerah. Misalnya, untuk HD (cuci darah) dan kemoterapi terpaksa harus ke RS di luar daerah, karena RS di Lamongan belum ada yang memiliki fasilitas itu. “Sekarang semua dalam proses penambahan fasilitas tersebut dan peningkatan akreditasi,” terangnya.

Baca Juga :  Kemenag Tak Berani Musnahkan Buku Nikah Lama

Bagaimana bila ada yang mengajukan pendirian instalasi kesehatan baru ? Menurut Taufik, sesuai regulasi yang ada, tidak boleh ada pembatasan pendirian instalasi kesehatan. Namun yang paling mendesak saat ini adalah peningkatan layanan, baik fasilitas maupun kualitasnya. ‘’Progress ke depan bukan menambah tempat tidur (instalasi kesehatan), namun peningkatan fasilitas dan kualitas layanan serta sisi sosialnya,’’ terang dia.

LAMONGAN, Radar Lamongan – Jumlah instalasi kesehatan (rumah sakit (RS), puskesmas, dan klinik kesehatan) di Lamongan sudah melebihi kapasitas. Namun masih perlu peningkatan fasilitas dan kualitas sarana layanan kesehatan. 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Lamongan, instalasi kesehatan di Kota Soto tersebut telah memiliki 1.600 unit tempat tidur (TT) lebih. Sesuai standar Word Health Organization (WHO)/Organisasi Kesehatan Dunia, dengan jumlah penduduk Lamongan sekitar 1,3 Juta jiwa, minimal kebutuhan TT layanan kesehatan sebanyak 1.300 Unit. “Arinya, jumlah lembaga kesehatan di Lamongan saat ini sudah cukup ideal dengan pertumbuhan penduduk sekitar 1,3 juta jiwa,” kata Kepala Dinas Kesehatan Lamongan, Taufik Hidayat kemarin (8/9).

Menurut dia, jumlah instalasi kesehatan itu yakni sebanyak 11 RS memiliki 1.280 TT dan 33 puskesmas memiliki 340 TT. Totalnya mencapai 1.600 TT lebih. ‘’Itu belum termasuk fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) nonpemerintah (klinik kesehatan),’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Serapan Minim, Desak Pengisian Kepala OPD

Dengan rasio pertumbuhan penduduk dan jumlah instalasi kesehatan tersebut, menurut Taufik sebenarnya tidak ada overload pasien di instalasi kesehatan. Karena jumlah ruang pelayanan sudah cukup apabila bisa dimanfaatkan semua.

Kalau ternyata terjadi overload pasien, menurut dia, biasanya untuk jenis penyakit tertentu yang melonjak dan tidak bisa dicampur pasien lain. Apalagi pelayanan untuk anak, dewasa dan lansia juga harus dibedakan. Sehingga perlu dilakukan kerjasama antar instalasi kesehatan untuk memperbaiki pelayanan. “Semua bisa diantisipasi dengan kerjasama baik layanan kesehatan pemerintah ataupun nonpemerintah. Dan sekarang juga ada penambahan fasilitas di puskesmas,” ujarnya.

Meski kapasitas layanan kesehatan sudah cukup, lanjut mantan Direktur RSUD Ngimbang, namun tidak semua layanan kesehatan memiliki fasilitas lengkap. Sehingga masih ada warga Lamongan yang melakukan pengobatan di luar daerah. Misalnya, untuk HD (cuci darah) dan kemoterapi terpaksa harus ke RS di luar daerah, karena RS di Lamongan belum ada yang memiliki fasilitas itu. “Sekarang semua dalam proses penambahan fasilitas tersebut dan peningkatan akreditasi,” terangnya.

Baca Juga :  Ditangani DPW Jatim

Bagaimana bila ada yang mengajukan pendirian instalasi kesehatan baru ? Menurut Taufik, sesuai regulasi yang ada, tidak boleh ada pembatasan pendirian instalasi kesehatan. Namun yang paling mendesak saat ini adalah peningkatan layanan, baik fasilitas maupun kualitasnya. ‘’Progress ke depan bukan menambah tempat tidur (instalasi kesehatan), namun peningkatan fasilitas dan kualitas layanan serta sisi sosialnya,’’ terang dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/