alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Hipertensi Teratas, 4.326 Penderita

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Hipertensi menjadi penyakit tertinggi yang diderita warga Bojonegoro, tahun ini. Sebanyak 38,1 persen atau setara 4.326 orang menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi mulai dari Januari hingga Juli.

Angka tersebut menunjukkan penyakit tidak menular (PTM) ini penderitanya melesat. Padahal, tahun lalu hipertensi menjadi urutan kelima penyakit yang diderita masyarakat Kota Ledre.

Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Imam Wahyudi mengatakan, kewaspadaan terhadap hipertensi dengan mengendalikan tekanan darah. Setidaknya, mengubah gaya hidup menjadi sehat dan minum obat secara teratur sesuai rekomendasi dokter. Serta, penderita diminta kontrol secara teratur.

Baca Juga :  Demokrat dan Golkar Belum Fix

’’Penyakit tidak menular tertinggi di Bojonegoro sampai Juli, yaitu hipertensi,’’ ujarnya kemarin (8/9).

Sementara tahun lalu, hipertensi menjadi urutan kelima pada data penyakit terbanyak dalam setahun. Sebanyak 7,21 persen atau setara 75.952 orang. Berdasar data dinkes, pada 2018 urutan pertama penyakit infeksi akut saluran pernapasan sebanyak 115.140 penderita. Gastritis dan duodenitis sebanyak 94.000 penderita, badan capek dan pegal-pegal 78.907 penderita, dan penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat sebanyak 76.348 penderita.

Dia menjelaskan, faktor risiko penderita hipertensi yang tidak dapat diubah, yaitu umur, jenis kelamin, dan riwayat keluarga. Sementara faktor risiko yang dapat diubah, yaitu kebiasaan merokok. Juga, kurangnya makan buah dan sayur, konsumsi garam berlebih, kurang aktivitas fisik, berat badan berlebih, dislipidemia atau kolesterol dan stres.

Baca Juga :  KA Diperketat, Penumpang Bus Harus Miliki Surat Kepentingan dari Desa

Karena umumnya, kata Imam, hipertensi tidak disertai gejala atau keluhan tertentu. Jika terus dibiarkan akan terjadi komplikasi seperti gangguan jantung, saraf, selebral atau otak, gangguan fungsi ginjal, atau gangguan penglihatan.

Kepala Dinkes Bojonegoro Achmad Hernowo menambahkan, untuk mencegah dan mengurangi populasi penderita hipertensi masyarakat harus melakukan pola hidup sehat. ’’Yang penting itu cek kesehatan secara berkala. Enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres,’’ jelasnya.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Hipertensi menjadi penyakit tertinggi yang diderita warga Bojonegoro, tahun ini. Sebanyak 38,1 persen atau setara 4.326 orang menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi mulai dari Januari hingga Juli.

Angka tersebut menunjukkan penyakit tidak menular (PTM) ini penderitanya melesat. Padahal, tahun lalu hipertensi menjadi urutan kelima penyakit yang diderita masyarakat Kota Ledre.

Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Imam Wahyudi mengatakan, kewaspadaan terhadap hipertensi dengan mengendalikan tekanan darah. Setidaknya, mengubah gaya hidup menjadi sehat dan minum obat secara teratur sesuai rekomendasi dokter. Serta, penderita diminta kontrol secara teratur.

Baca Juga :  Demam Dua Hari ketika Tulis Kematian Ranggalawe

’’Penyakit tidak menular tertinggi di Bojonegoro sampai Juli, yaitu hipertensi,’’ ujarnya kemarin (8/9).

Sementara tahun lalu, hipertensi menjadi urutan kelima pada data penyakit terbanyak dalam setahun. Sebanyak 7,21 persen atau setara 75.952 orang. Berdasar data dinkes, pada 2018 urutan pertama penyakit infeksi akut saluran pernapasan sebanyak 115.140 penderita. Gastritis dan duodenitis sebanyak 94.000 penderita, badan capek dan pegal-pegal 78.907 penderita, dan penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat sebanyak 76.348 penderita.

Dia menjelaskan, faktor risiko penderita hipertensi yang tidak dapat diubah, yaitu umur, jenis kelamin, dan riwayat keluarga. Sementara faktor risiko yang dapat diubah, yaitu kebiasaan merokok. Juga, kurangnya makan buah dan sayur, konsumsi garam berlebih, kurang aktivitas fisik, berat badan berlebih, dislipidemia atau kolesterol dan stres.

Baca Juga :  BNI Cabang Bojonegoro Tebar Sembako Warga Sekitar Kantor

Karena umumnya, kata Imam, hipertensi tidak disertai gejala atau keluhan tertentu. Jika terus dibiarkan akan terjadi komplikasi seperti gangguan jantung, saraf, selebral atau otak, gangguan fungsi ginjal, atau gangguan penglihatan.

Kepala Dinkes Bojonegoro Achmad Hernowo menambahkan, untuk mencegah dan mengurangi populasi penderita hipertensi masyarakat harus melakukan pola hidup sehat. ’’Yang penting itu cek kesehatan secara berkala. Enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres,’’ jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Masih Siaga Merah

Terancam Realokasi Dana Desa

Ingin Ciptakan Lapangan Kerja

Siang Ini Bertolak ke Madiun

Artikel Terbaru


/