alexametrics
23.3 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Langsung Beraksi

Sampah berbahan plastik butuh waktu sangat lama untuk bisa terurai. Sehingga keberadaan sampah plastik kerap menjadi masalah di lingkungan. Seperti bencana banjir terkadang diakibatkan saluran air yang kerap tersumbat sampah. 

Fenita Dwi Mufiana, 23, sadar bahwa mengolah sampah plastik bukan hal yang mudah. Dia memilih untuk mengurangi penggunaan kantong plastik.

‘’Jika masih memungkinkan untuk dibawa dengan tangan atau dimasukkan ke dalam tas, tidak perlu kresek. Walaupun kadang-kadang ada penjual yang memaksa dibungkus pakai kresek, karena itu termasuk dalam bentuk pelayanan,’’ kata Feni, kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (8/8).

Dara asal Kelurahan Banaran, Kecamatan Babat ini setuju dengan kebijakan beberapa minimarket yang menerapkan kantong plastik berbayar. Namun, dia menyayangkan nominalnya yang terlalu kecil. Akibatnya masyarakat tidak keberatan bila harus membayar kantong plastik Rp 200. 

Baca Juga :  Mbah Suedi Bersyukur Jalan Desa Sudah Beraspal Halus

Tak hanya itu, Feni juga menyoroti imbauan dari berbagai pihak untuk melakukan pemilahan sampah organik dan nonorganik. Sebab, praktiknya tidak semua berjalan baik.

‘’Kalau saya amati di tempat umum, meskipun ada tempat sampah dua jenis, tapi masyarakat masih enggan membuang sampah. Jadi seharusnya yang perlu diperbaiki kebiasaan membuang sampah di tempat sampah. Baru nanti bertahap ke pemilahan dan pengolahan sampah,’’ tambah mantan duta kampus ini.

Meskipun memiliki atensi khusus terhadap lingkungan, bukan berarti Feni akan menegur orang-orang di sekelilingnya yang tidak memiliki prinsip yang sama. Mahasiswi jurusan ilmu hukum ini memilih mempraktikkan langsung membuang sampah di tempatnya dan mengurangi penggunaan kantong plastik. 

Baca Juga :  Upload Sirekap Kurang 20 Persen, Yes Bro Tetap Unggul

‘’Bentuk ajakan yang paling efektif ya harus memberi contoh langsung. Langsung beraksi,’’ tandas Feni.

Sampah berbahan plastik butuh waktu sangat lama untuk bisa terurai. Sehingga keberadaan sampah plastik kerap menjadi masalah di lingkungan. Seperti bencana banjir terkadang diakibatkan saluran air yang kerap tersumbat sampah. 

Fenita Dwi Mufiana, 23, sadar bahwa mengolah sampah plastik bukan hal yang mudah. Dia memilih untuk mengurangi penggunaan kantong plastik.

‘’Jika masih memungkinkan untuk dibawa dengan tangan atau dimasukkan ke dalam tas, tidak perlu kresek. Walaupun kadang-kadang ada penjual yang memaksa dibungkus pakai kresek, karena itu termasuk dalam bentuk pelayanan,’’ kata Feni, kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (8/8).

Dara asal Kelurahan Banaran, Kecamatan Babat ini setuju dengan kebijakan beberapa minimarket yang menerapkan kantong plastik berbayar. Namun, dia menyayangkan nominalnya yang terlalu kecil. Akibatnya masyarakat tidak keberatan bila harus membayar kantong plastik Rp 200. 

Baca Juga :  Pasar Sayur Hidroponik Menjanjikan

Tak hanya itu, Feni juga menyoroti imbauan dari berbagai pihak untuk melakukan pemilahan sampah organik dan nonorganik. Sebab, praktiknya tidak semua berjalan baik.

‘’Kalau saya amati di tempat umum, meskipun ada tempat sampah dua jenis, tapi masyarakat masih enggan membuang sampah. Jadi seharusnya yang perlu diperbaiki kebiasaan membuang sampah di tempat sampah. Baru nanti bertahap ke pemilahan dan pengolahan sampah,’’ tambah mantan duta kampus ini.

Meskipun memiliki atensi khusus terhadap lingkungan, bukan berarti Feni akan menegur orang-orang di sekelilingnya yang tidak memiliki prinsip yang sama. Mahasiswi jurusan ilmu hukum ini memilih mempraktikkan langsung membuang sampah di tempatnya dan mengurangi penggunaan kantong plastik. 

Baca Juga :  Persela Lamongan: Operasional Membengkak, Klub Tanpa Pemasukan

‘’Bentuk ajakan yang paling efektif ya harus memberi contoh langsung. Langsung beraksi,’’ tandas Feni.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/