alexametrics
26.8 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Sensasi Salat di Tempat Imam

Di manakah tempat terasa nikmat bersalat? Tentu di saf nomor satu. Dekat dengan Kakbah yang hanya sejengkalan. Baik di sudut Rukun Yamani, Iraqi, Syami, atau belakang Hijir Ismail.  Tentu  yang terasa paling nikmat adalah di belakang imam. Lurus dengan Multazam. Atau pintu Kakbah.

Namun, perjuangan menempati saf ini luar biasa. Berat, keras, dan penuh tenaga. Berjuang mendapat saf awal benar-benar luar biasa. Kita harus sejam menunggunya. Untuk membentuk barisan. Membuat barikade. Dan siap didorong-dorong. Ditendang-tendang. 

Oleh jamaah lain yang berebut serupa. Oleh gelombang jamaah yang sedang bertawaf.  Oleh jamaah yang berebut mencium Hajar Aswad. Berdesak-desak. Digoyang-goyang. Berombak-ombak. Bertubi-tubi.  Ada yang kuat. Kokoh. Bak rantai baja. Namun, tak sedikit terputus saf. Terpental. Dan, buyar.

Terus mengulang lagi. Membentuk barisan lagi. Dan, terulang lagi. Berulang-ulang. Selama hampir sejam. Tangan terasa pegal. Kadang terkilir. Badan seperti remuk. Deras berkeringat. Mulut terasa kering. Seperti dehidrasi. Dan, kerap gagal lagi. Terpental. Tak berhasil membentuk saf. 

Sudah begitu dapat gertakan dan teriakan mereka yang tawaf. Mengingatkan bahkan tak seharusnya membentuk saf awal. Ini waktunya jamaah tawaf. 

Tapi, jangan harap dapat saf awal saat azan berkumandang. Mereka yang mendapat saf depan hanya yang berjuang tadi. Berjuang hampir sejam. Digoyang. Dihimpit. Didorong. Diterjang. Ditendang. Bertubi-tubi. 

Baru saat azan berkumandang. Askar ikut turun tangan. Pertama membersihkan areal Hijir Ismail. Kemudian depan pintu Kakbah dan Multazam. Terus mengosongkan para pemburu pencium Hajar Aswad. Berkeliling ke Rukun Yamani dan berakhir di Rukun Syami.

Itulah saat para pemburu saf awal disilakan duduk. Rapi. Bersaf. Lurus garis. Satu-satu. Kalau ada jamaah yang terlihat double. Maka salah satunya diusir ke belakang. Atau mencari saf lain.  Saf satu sampai kelima. Menjadi buruan jamaah umrah maupun haji bersalat. Ada perasaan luar biasa. Bersyukur dan nikmat. Salat berdekat-dekat dengan Kakbah. Di belakang imam. Lurus Multazam. Atau pintu Kakbah.

Baca Juga :  Gagal Paham Harga Cabai

Tempat nikmat berikutnya, ya, di pelataran Kakbah itu. Dari segala penjurunya. Salat berjamaah langsung bisa memandang Kakbah. Dengan kekuatan soundsystem Masjidilharam yang luar biasa itu. Yang dipasang dari berbagai penjuru. Mendengar ayat-ayat Alquran bak turun dari langit.

Untuk dapat masuk ke pelataran juga butuh sedikit perjuangan. Yakni, sejam sebelum azan. Jangan harap masuk di saf pelataran Kakbah kalau datang pas azan. Kecuali jamaah tahu pintu-pintu tikus menuju ke sana. 

Baru kemudian di lapis dalam masjid. Baik di basement dan lantai paling atas. Baik yang ber-AC di seputaran pintu King Fahd. Atau cukup puas dengan kipas angin – kipas angin.

Yang kadang terasa kurang nyaman adalah salat di halaman masjid. Ini biasanya buat jamaah yang datang terlambat. Hanya bisa di luar masjid. Rasanya ada sesuatu yang hilang jika salat di halaman Masjidilharam itu. Meski, salat di situ – di bidang putih itu- pahalanya sama. Dilipatgandakan seratus ribu kali.

Nah, ada satu tempat yang punya sensasi tersendiri. Di manakah itu? Salat di tempat imam Masjidilharam. Di manakah letaknya? 

Tempat ini di selatan Kakbah. Lurus dengan tengah-tengahnya antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani. Kalau mau cari amat mudah. Cari tengah-tengah posisi itu menghadap Kakbah. Terus balikkan badan. Nah, dipojok selatan itu ada bangunan dua tingkat setengah jadi. Di bawah antara empat pilar besar itulah tempat imam Masjidilharam.

Cara kedua menuju tempat ini adalah lewat pintu 5, 6, atau 7. Namanya Ajyad Gate dan Ismail Gate. Serong ke kanan sedikit. Di situ ada dua eskalator. Naik dan turun. Ketika turun dan masuk ke pelataran Kakbah, sebelah kanan ada area yang dipagar. Dan, di atasnya ada tingkat yang belum jadi. Di tengah-tengahnya. Antara empat pilar paling depan itulah tempat imam.

Di depan tempat imam itu ada dua blower AC yang sangat besar. Atas tempat imam juga diberi AC sentral yang cukup besar juga. Di sekitar imam ini dilengkapi dengan kamera CCTV sebanyak 10 buah. Satu di depan. Satu di belakang. Empat di sisi kanan. Empat di sisi kiri.

Baca Juga :  Jembatan Bojonegoro - Blora Membuka Koneksi Ekonomi Antarkabupaten

Tempat ini hanya dipakai saat puncak musim haji dan salat lima waktu saat Ramadan. Utamanya untuk mengimami Tarawih. Juga dipakai saat jamaah umrah sangat padat seperti bulan Syaban dan Maulid. Kalau dipakai imam, tempat ini dibarikade dan dijaga askar. Lebih dari 10 askar. Namun, kalau tidak dipakai. Seperti tempat biasa di pelataran Kakbah.

Saat umrah Ramadan, saya sering mengincar sekitar tempat ini. Bisa menyaksikan bagaimana para imam berkumpul dan bergantian mengimami Tarawih. 

Selama Ramadan, biasanya dipilihlah delapan imam pilihan. Seperti Syech Abdurrahman As-Sudais, Suud Suraim, Bandar Baleela, Mahir Almuaqily, Abu Awwad Aljuhany, Khalid Alghamdy, Faisal Al Ghazzawi dan Yasser Al-dosari.

Setiap Tarawih dipimpin dua imam. Sebanyak 23 rakaat. Sepuluh rakaat pertama satu imam. Tiga belas berikutnya satu imam. Setiap malam menghatamkan satu juz. Tarawihnya berlangsung sampai dua jam. Ketika satu imam mengimami, imam lain berbaris di saf belakangnya. 

Saya mencoba salat di tempat ini. Ingin merasakan sensasinya. Mumpung tidak dipakai. Saat itu imam sedang mengimami di depan Kakbah. Persis di depan Multazam. 

Saya kemudian membayangkan bagaimana para imam berada di tempat itu. Seperti saat mereka mengimami dan salat di situ. Di waktu haji. Maupun Tarawih di bulan Ramadan.

Ah, ternyata perasaan jadi tidak enak. Bikin kurang konsentrasi salat berjamaah. Teringat-ingat. Terbayang-bayang. Bahkan, kemudian jadi takut karena disorot 10 kamera CCTV. Dari arah depan, belakang, samping  kanan, dan kiri. Walau mungkin saat itu dimatikan.

Dan, ini yang membuat tidak kuat. Dua AC di depan dan AC sentral di atas kepala, bikin sangat dingin suasana. Sampai kathuken salat di situ. (bersambung) 

Di manakah tempat terasa nikmat bersalat? Tentu di saf nomor satu. Dekat dengan Kakbah yang hanya sejengkalan. Baik di sudut Rukun Yamani, Iraqi, Syami, atau belakang Hijir Ismail.  Tentu  yang terasa paling nikmat adalah di belakang imam. Lurus dengan Multazam. Atau pintu Kakbah.

Namun, perjuangan menempati saf ini luar biasa. Berat, keras, dan penuh tenaga. Berjuang mendapat saf awal benar-benar luar biasa. Kita harus sejam menunggunya. Untuk membentuk barisan. Membuat barikade. Dan siap didorong-dorong. Ditendang-tendang. 

Oleh jamaah lain yang berebut serupa. Oleh gelombang jamaah yang sedang bertawaf.  Oleh jamaah yang berebut mencium Hajar Aswad. Berdesak-desak. Digoyang-goyang. Berombak-ombak. Bertubi-tubi.  Ada yang kuat. Kokoh. Bak rantai baja. Namun, tak sedikit terputus saf. Terpental. Dan, buyar.

Terus mengulang lagi. Membentuk barisan lagi. Dan, terulang lagi. Berulang-ulang. Selama hampir sejam. Tangan terasa pegal. Kadang terkilir. Badan seperti remuk. Deras berkeringat. Mulut terasa kering. Seperti dehidrasi. Dan, kerap gagal lagi. Terpental. Tak berhasil membentuk saf. 

Sudah begitu dapat gertakan dan teriakan mereka yang tawaf. Mengingatkan bahkan tak seharusnya membentuk saf awal. Ini waktunya jamaah tawaf. 

Tapi, jangan harap dapat saf awal saat azan berkumandang. Mereka yang mendapat saf depan hanya yang berjuang tadi. Berjuang hampir sejam. Digoyang. Dihimpit. Didorong. Diterjang. Ditendang. Bertubi-tubi. 

Baru saat azan berkumandang. Askar ikut turun tangan. Pertama membersihkan areal Hijir Ismail. Kemudian depan pintu Kakbah dan Multazam. Terus mengosongkan para pemburu pencium Hajar Aswad. Berkeliling ke Rukun Yamani dan berakhir di Rukun Syami.

Itulah saat para pemburu saf awal disilakan duduk. Rapi. Bersaf. Lurus garis. Satu-satu. Kalau ada jamaah yang terlihat double. Maka salah satunya diusir ke belakang. Atau mencari saf lain.  Saf satu sampai kelima. Menjadi buruan jamaah umrah maupun haji bersalat. Ada perasaan luar biasa. Bersyukur dan nikmat. Salat berdekat-dekat dengan Kakbah. Di belakang imam. Lurus Multazam. Atau pintu Kakbah.

Baca Juga :  Jembatan Bojonegoro - Blora Membuka Koneksi Ekonomi Antarkabupaten

Tempat nikmat berikutnya, ya, di pelataran Kakbah itu. Dari segala penjurunya. Salat berjamaah langsung bisa memandang Kakbah. Dengan kekuatan soundsystem Masjidilharam yang luar biasa itu. Yang dipasang dari berbagai penjuru. Mendengar ayat-ayat Alquran bak turun dari langit.

Untuk dapat masuk ke pelataran juga butuh sedikit perjuangan. Yakni, sejam sebelum azan. Jangan harap masuk di saf pelataran Kakbah kalau datang pas azan. Kecuali jamaah tahu pintu-pintu tikus menuju ke sana. 

Baru kemudian di lapis dalam masjid. Baik di basement dan lantai paling atas. Baik yang ber-AC di seputaran pintu King Fahd. Atau cukup puas dengan kipas angin – kipas angin.

Yang kadang terasa kurang nyaman adalah salat di halaman masjid. Ini biasanya buat jamaah yang datang terlambat. Hanya bisa di luar masjid. Rasanya ada sesuatu yang hilang jika salat di halaman Masjidilharam itu. Meski, salat di situ – di bidang putih itu- pahalanya sama. Dilipatgandakan seratus ribu kali.

Nah, ada satu tempat yang punya sensasi tersendiri. Di manakah itu? Salat di tempat imam Masjidilharam. Di manakah letaknya? 

Tempat ini di selatan Kakbah. Lurus dengan tengah-tengahnya antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani. Kalau mau cari amat mudah. Cari tengah-tengah posisi itu menghadap Kakbah. Terus balikkan badan. Nah, dipojok selatan itu ada bangunan dua tingkat setengah jadi. Di bawah antara empat pilar besar itulah tempat imam Masjidilharam.

Cara kedua menuju tempat ini adalah lewat pintu 5, 6, atau 7. Namanya Ajyad Gate dan Ismail Gate. Serong ke kanan sedikit. Di situ ada dua eskalator. Naik dan turun. Ketika turun dan masuk ke pelataran Kakbah, sebelah kanan ada area yang dipagar. Dan, di atasnya ada tingkat yang belum jadi. Di tengah-tengahnya. Antara empat pilar paling depan itulah tempat imam.

Di depan tempat imam itu ada dua blower AC yang sangat besar. Atas tempat imam juga diberi AC sentral yang cukup besar juga. Di sekitar imam ini dilengkapi dengan kamera CCTV sebanyak 10 buah. Satu di depan. Satu di belakang. Empat di sisi kanan. Empat di sisi kiri.

Baca Juga :  Masuk Kerja Dibatasi, Gaji Tetap Harus Dibayar Penuh

Tempat ini hanya dipakai saat puncak musim haji dan salat lima waktu saat Ramadan. Utamanya untuk mengimami Tarawih. Juga dipakai saat jamaah umrah sangat padat seperti bulan Syaban dan Maulid. Kalau dipakai imam, tempat ini dibarikade dan dijaga askar. Lebih dari 10 askar. Namun, kalau tidak dipakai. Seperti tempat biasa di pelataran Kakbah.

Saat umrah Ramadan, saya sering mengincar sekitar tempat ini. Bisa menyaksikan bagaimana para imam berkumpul dan bergantian mengimami Tarawih. 

Selama Ramadan, biasanya dipilihlah delapan imam pilihan. Seperti Syech Abdurrahman As-Sudais, Suud Suraim, Bandar Baleela, Mahir Almuaqily, Abu Awwad Aljuhany, Khalid Alghamdy, Faisal Al Ghazzawi dan Yasser Al-dosari.

Setiap Tarawih dipimpin dua imam. Sebanyak 23 rakaat. Sepuluh rakaat pertama satu imam. Tiga belas berikutnya satu imam. Setiap malam menghatamkan satu juz. Tarawihnya berlangsung sampai dua jam. Ketika satu imam mengimami, imam lain berbaris di saf belakangnya. 

Saya mencoba salat di tempat ini. Ingin merasakan sensasinya. Mumpung tidak dipakai. Saat itu imam sedang mengimami di depan Kakbah. Persis di depan Multazam. 

Saya kemudian membayangkan bagaimana para imam berada di tempat itu. Seperti saat mereka mengimami dan salat di situ. Di waktu haji. Maupun Tarawih di bulan Ramadan.

Ah, ternyata perasaan jadi tidak enak. Bikin kurang konsentrasi salat berjamaah. Teringat-ingat. Terbayang-bayang. Bahkan, kemudian jadi takut karena disorot 10 kamera CCTV. Dari arah depan, belakang, samping  kanan, dan kiri. Walau mungkin saat itu dimatikan.

Dan, ini yang membuat tidak kuat. Dua AC di depan dan AC sentral di atas kepala, bikin sangat dingin suasana. Sampai kathuken salat di situ. (bersambung) 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/