alexametrics
22.5 C
Bojonegoro
Wednesday, June 29, 2022

Menengok Mahasiswa Undip KKN Mandiri di Bojonegoro

BOJONEGORO – Pandemi Covid-19 mengubah tata cara KKN (kuliah kerja nyata). Dari yang semula bersifat masal atau kelompok, kini dapat dilakukan mandiri. Seperti yang dilakukan salah satu mahasiswi Fakultas Kedokteran Jurusan Gizi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Ainan Viha Tusamma Salsabila, ini.

Dari yang semula sudah tercatat masuk kelompok KKN di wilayah Semarang, akhirnya harus KKN Mandiri di Bojonegoro. ‘’Iya, ini kebijakan dari kampus karena pandemi. Boleh KKN tetap berkelompok, atau mandiri. Saya pun memilih mandiri,’’ kata mahasiswi itu.

Pilihan mandiri di Bojonegoro, katanya, selain Kota itu adalah tempat tinggalnya, juga hampir setahun menjalani kuliah daring. ‘’Yang juga penting, karena beberapa wilayah di Semarang menerapkan prosedur protokol kesehatan yang ketat karena masuk wilayah daerah merah Covid-19. Di antaranya, mengurangi lalu lintas orang dari daerah lain,’’ ungkapnya.

Walau, katanya, sejatinya Bojonegoro juga termasuk yang tercarat daerah Covid-19. Kendari demikian, tak menyurutkan semangatnya untuk memberdayakan masyarakat di tengah pandemi yang berbasis pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/SDGs. ‘’Ini sesuai tema KKN,’’ katanya.  

Lantas apa yang dilakukan Ainun – panggilan akrabnya—selama KKN mandiri di Bojonegoro? Dia mengungkapkan ada banyak hal. Antara lain: Pertama, fokus pada pencegahan penyebaran terkait Covid-19. Kedua, advokasi dan kesehatan gizi terkait anemia.

Pelaksanaan kegiatan KKN dilakukan pada 4 Januari hingga 16 Februari 2021 di Kelurahan Mojokampung, Kota Bojonegoro. Selama kurun waktu itu banyak kegiatan yang harus ditempuh. Mulai dari kulonuwun (pemberitahuan dan mohon izin) kepada pejabat pemerintah setempat, hingga terjun langsung ke instansi dan masyarakat.

Baca Juga :  Kades Cilibang Terkesan Andong Perpus Keliling Kodim 0703 Cilacap

‘’Ketika ketemu pejabat, saya sowan, merumuskan kegiatan, hingga pertanyaaan apakah ada dana dari kampus untuk kegiatan KKN ini. Saya jawab, karena sifatnya mandiri, maka semua kegiatan ditanggung mandiri mahasiswa,’’ jelasnya.

Di Puskesmas Kota Bojonegoro juga begitu. Berkoordinasi dengan petugas kesehatan tentang advokasi dan distribusi TTD (tablet tambah darah) bagi remaja putri saat masa pandemi. Petugas pun menyambut baik tentang program advokasi dan distribusi TTD.

Advokasi kepada pihak Puskesmas Bojonegoro untuk mensosialisasikan tentang anemia dan pembaruan sistem distribusi TTD secara daring kepada remaja-remaja putri di setiap sekolah. 

Hal ini, dikarenakan pengambilan TTD di Puskesmas terdekat (sistem baru), kurang tersosialisasikan. Pada kegiatan kali ini, mahasiswa juga melakukan edukasi dan menyalurkan TTD pada remaja putri secara door to door. 

‘’Saya pun melakukan advokasi hingga edukasi door to door kepada Puskesmas Bojonegoro dan remaja putri,’’ katanya.

Setelah diberikan edukasi, didapatkan hasil adanya peningkatan pengetahuan pada remaja putri terkait anemia dan TTD. Selain itu, TTD yang diberikan pada remaja putri juga dikonsumsi. ‘’Hal ini diharapkan dapat membantu mencegah kejadian anemia,’’ katanya. 

Kegiatan berikutnya selama KKN adalah memberikan edukasi/penyuluhan kepada masyarakat setempat bagaimana langkah dan waktu cuci tangan yang tepat. ‘’Salah satunya adalah menyebarkan brosur tentang hal itu,’’ katanya.

Tak hanya itu, kata Ainun, memberikan tutorial handsanitizer yang mudah namun tepat. Penyuluhan ini dibantu dengan penggunaan selebaran, pembuatan video dan peraga bahan yang terdiri atas campuran alcohol dan gel lidah buaya.

Baca Juga :  Permintaan Pigura Mahar Naik 20 Persen

Selama kegiatan, ungkapnya, ibu-ibu PKK antusias dan interaktif. Banyak pertanyaan yang muncul, seperti ‘’Apa boleh menggunakan lidah buaya asli?’’ katanya. 

Ada juga ibu-ibu yang bertanaya apakah bisa dicampur dengan pengharum atau pewarna? 

Ibu yang lain juga bertanya apa bertanya, apa bedanya handsanitizer gel dan spray? Bahkan, ada yang jeli soal harga ekonomisnya. Apakah membuat sendiri dan beli langsung jadi harganya sama atau jauh lebih mahal? 

Dijelaskan oleh Ainun, bahwa bisa saja memakai daun lidah buaya asli, tapi kurang praktis karena harus diproses dahulu. Soal dicampur dengan bahwan pengharum dan pewarna juga bisa bahkan bisa lebih harum. 

‘’Sedangkan soal harga ekonomisnya, tentu membuat sendiri lebih hemat, apalagi dalam jumlah yang banyak,’’ katanya.

Kegiatan KKN manidiri ini berlangsung dengan tetap mematuhi protocol kesehatan. Di antaranya memakai masker, mencuci tangan sebelum memasuki ruangan, dan menjaga jarak (social distancing). Para ibu PKK sangat gembiran dengan adanya KKN Mandiri. Selain mendapat advokasi atau penyuluhan, juga pulangnya membawa buah tangan.

‘’Para ibu PKK membawa buah tangan kegiatan ini, tidak lain adalah handsanitizer yang dibuat mandiri oleh mahasiswa dan selebaran langkah cuci tangan yang bisa ditempel di dekat tempat cuci tangan,’’ katanya. (zh)

BOJONEGORO – Pandemi Covid-19 mengubah tata cara KKN (kuliah kerja nyata). Dari yang semula bersifat masal atau kelompok, kini dapat dilakukan mandiri. Seperti yang dilakukan salah satu mahasiswi Fakultas Kedokteran Jurusan Gizi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Ainan Viha Tusamma Salsabila, ini.

Dari yang semula sudah tercatat masuk kelompok KKN di wilayah Semarang, akhirnya harus KKN Mandiri di Bojonegoro. ‘’Iya, ini kebijakan dari kampus karena pandemi. Boleh KKN tetap berkelompok, atau mandiri. Saya pun memilih mandiri,’’ kata mahasiswi itu.

Pilihan mandiri di Bojonegoro, katanya, selain Kota itu adalah tempat tinggalnya, juga hampir setahun menjalani kuliah daring. ‘’Yang juga penting, karena beberapa wilayah di Semarang menerapkan prosedur protokol kesehatan yang ketat karena masuk wilayah daerah merah Covid-19. Di antaranya, mengurangi lalu lintas orang dari daerah lain,’’ ungkapnya.

Walau, katanya, sejatinya Bojonegoro juga termasuk yang tercarat daerah Covid-19. Kendari demikian, tak menyurutkan semangatnya untuk memberdayakan masyarakat di tengah pandemi yang berbasis pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/SDGs. ‘’Ini sesuai tema KKN,’’ katanya.  

Lantas apa yang dilakukan Ainun – panggilan akrabnya—selama KKN mandiri di Bojonegoro? Dia mengungkapkan ada banyak hal. Antara lain: Pertama, fokus pada pencegahan penyebaran terkait Covid-19. Kedua, advokasi dan kesehatan gizi terkait anemia.

Pelaksanaan kegiatan KKN dilakukan pada 4 Januari hingga 16 Februari 2021 di Kelurahan Mojokampung, Kota Bojonegoro. Selama kurun waktu itu banyak kegiatan yang harus ditempuh. Mulai dari kulonuwun (pemberitahuan dan mohon izin) kepada pejabat pemerintah setempat, hingga terjun langsung ke instansi dan masyarakat.

Baca Juga :  SMI Membuka Vokasi Setara Diploma 2

‘’Ketika ketemu pejabat, saya sowan, merumuskan kegiatan, hingga pertanyaaan apakah ada dana dari kampus untuk kegiatan KKN ini. Saya jawab, karena sifatnya mandiri, maka semua kegiatan ditanggung mandiri mahasiswa,’’ jelasnya.

Di Puskesmas Kota Bojonegoro juga begitu. Berkoordinasi dengan petugas kesehatan tentang advokasi dan distribusi TTD (tablet tambah darah) bagi remaja putri saat masa pandemi. Petugas pun menyambut baik tentang program advokasi dan distribusi TTD.

Advokasi kepada pihak Puskesmas Bojonegoro untuk mensosialisasikan tentang anemia dan pembaruan sistem distribusi TTD secara daring kepada remaja-remaja putri di setiap sekolah. 

Hal ini, dikarenakan pengambilan TTD di Puskesmas terdekat (sistem baru), kurang tersosialisasikan. Pada kegiatan kali ini, mahasiswa juga melakukan edukasi dan menyalurkan TTD pada remaja putri secara door to door. 

‘’Saya pun melakukan advokasi hingga edukasi door to door kepada Puskesmas Bojonegoro dan remaja putri,’’ katanya.

Setelah diberikan edukasi, didapatkan hasil adanya peningkatan pengetahuan pada remaja putri terkait anemia dan TTD. Selain itu, TTD yang diberikan pada remaja putri juga dikonsumsi. ‘’Hal ini diharapkan dapat membantu mencegah kejadian anemia,’’ katanya. 

Kegiatan berikutnya selama KKN adalah memberikan edukasi/penyuluhan kepada masyarakat setempat bagaimana langkah dan waktu cuci tangan yang tepat. ‘’Salah satunya adalah menyebarkan brosur tentang hal itu,’’ katanya.

Tak hanya itu, kata Ainun, memberikan tutorial handsanitizer yang mudah namun tepat. Penyuluhan ini dibantu dengan penggunaan selebaran, pembuatan video dan peraga bahan yang terdiri atas campuran alcohol dan gel lidah buaya.

Baca Juga :  Unik dan Lucu, Konsumen Bakery Kini Rambah Warga Pedesaan

Selama kegiatan, ungkapnya, ibu-ibu PKK antusias dan interaktif. Banyak pertanyaan yang muncul, seperti ‘’Apa boleh menggunakan lidah buaya asli?’’ katanya. 

Ada juga ibu-ibu yang bertanaya apakah bisa dicampur dengan pengharum atau pewarna? 

Ibu yang lain juga bertanya apa bertanya, apa bedanya handsanitizer gel dan spray? Bahkan, ada yang jeli soal harga ekonomisnya. Apakah membuat sendiri dan beli langsung jadi harganya sama atau jauh lebih mahal? 

Dijelaskan oleh Ainun, bahwa bisa saja memakai daun lidah buaya asli, tapi kurang praktis karena harus diproses dahulu. Soal dicampur dengan bahwan pengharum dan pewarna juga bisa bahkan bisa lebih harum. 

‘’Sedangkan soal harga ekonomisnya, tentu membuat sendiri lebih hemat, apalagi dalam jumlah yang banyak,’’ katanya.

Kegiatan KKN manidiri ini berlangsung dengan tetap mematuhi protocol kesehatan. Di antaranya memakai masker, mencuci tangan sebelum memasuki ruangan, dan menjaga jarak (social distancing). Para ibu PKK sangat gembiran dengan adanya KKN Mandiri. Selain mendapat advokasi atau penyuluhan, juga pulangnya membawa buah tangan.

‘’Para ibu PKK membawa buah tangan kegiatan ini, tidak lain adalah handsanitizer yang dibuat mandiri oleh mahasiswa dan selebaran langkah cuci tangan yang bisa ditempel di dekat tempat cuci tangan,’’ katanya. (zh)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/