alexametrics
22.7 C
Bojonegoro
Friday, July 1, 2022

Gadis Ini Makin Mengerti Tentang Bojonegoro

SHE – Banyak pengalaman ketika Diah Arinatus Safifah mengikuti seleksi Kange Yune Bojonegoro 2017. Menurut dia, banyak pengalaman yang tak bisa dilupakan ketika  proses karantina. Karena seleksi Kange Yune 2017 sangat berbeda dengan seleksi tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu karantinanya hanya di hotel, sedangkan tahun lalu indoor dan outdoor,” kata gadis Desa Lebaksari Kecamatan Baureno itu.

Saat karantina outdoor, Arin, sapaan akrabnya, bersama-sama dengan peserta Kange Yune lainnya disuruh tinggal bersama warga Desa Krondonan Kecamatan Gondang.

Di sana, Diah harus tidur bersama warga dan berinteraksi dengan warga sekitar desa tersebut. Banyak hal yang membuatnya miris ketika mengetahui kondisi warga di perbatasan Bojonegoro bagian selatan.

Kata dia, di sana masih ada masalah kekeringan. “Masyarakat sekitar mengandalkan mata air banyu bleng untuk mengairi pertanian mereka, sehingga kalau jauh dari banyu bleng otomatis tidak bisa menanam apapun,” terangnya.

Baca Juga :  Berkas BAP Pengeroyokan Kedungadem Dilimpahkan

Selain itu, ketika Arin menceritakan beberapa destinasi pariwisata kepada warga setempat, ternyata banyak sekali yang tidak tahu dengan kondisi di Bojonegoro.

Warga sekitar hanya mengetahui wisata yang ada di desanya saja, sedangkan wisata seperti GoFun, kebun belimbing, jambu kristal sentra batik, dan sebagainya tidak tahu.

“Pengalaman itu jadi sinyal bagi saya dan kawan-kawan peserta Kange Yune lainnya, bahwa tugas kita sangat berat, sebab menjadi seorang duta wisata perlu memberikan wawasan dan pengetahuan kepada seluruh masyarakat Bojonegoro,” jelas gadis kelahiran 11 Juni 1997 itu.

Mahasiswi Stikosa- AWS Surabaya itu merasa bahwa perlunya memerhatikan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Aneh rasanya, ketika warga Bojonegoro asli ternyata tidak mengenal pariwisata Bojonegoro.

Baca Juga :  Liburan Dimajukan, Vaksinasi Anak Tetap Lanjut

Sehingga, apabila akarnya sudah kuat, ketika mengenalkan pariwisata Bojonegoro ke luar daerah mampu lebih maksimal.

“Pengalaman itu mengajarkanku menghargai banyak hal bahwa masih ada saudara-saudara kita di Bojonegoro yang kurang beruntung, sehingga alangkah baiknya kita bisa mengulurkan tangan bagi mereka,” ucapnya.

Arin yang sedang menikmati liburan semester, dia menyibukkan diri mempersiapkan untuk maju Raka Raki Jawa Timur mewakili Bojonegoro.

Jadi, sehari-hari biasanya di Disbudpar Bojonegoro  latihan menari, public speaking, presentasi, belajar materi wisata dan budaya.

“Tetapi, selain kuliah dan sibuk seputar Raka Raki, saya juga freelance model, MC, EO, menyanyi, reporter,” pungkasnya. 

SHE – Banyak pengalaman ketika Diah Arinatus Safifah mengikuti seleksi Kange Yune Bojonegoro 2017. Menurut dia, banyak pengalaman yang tak bisa dilupakan ketika  proses karantina. Karena seleksi Kange Yune 2017 sangat berbeda dengan seleksi tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu karantinanya hanya di hotel, sedangkan tahun lalu indoor dan outdoor,” kata gadis Desa Lebaksari Kecamatan Baureno itu.

Saat karantina outdoor, Arin, sapaan akrabnya, bersama-sama dengan peserta Kange Yune lainnya disuruh tinggal bersama warga Desa Krondonan Kecamatan Gondang.

Di sana, Diah harus tidur bersama warga dan berinteraksi dengan warga sekitar desa tersebut. Banyak hal yang membuatnya miris ketika mengetahui kondisi warga di perbatasan Bojonegoro bagian selatan.

Kata dia, di sana masih ada masalah kekeringan. “Masyarakat sekitar mengandalkan mata air banyu bleng untuk mengairi pertanian mereka, sehingga kalau jauh dari banyu bleng otomatis tidak bisa menanam apapun,” terangnya.

Baca Juga :  Parpol Bisa Ganti Bacaleg

Selain itu, ketika Arin menceritakan beberapa destinasi pariwisata kepada warga setempat, ternyata banyak sekali yang tidak tahu dengan kondisi di Bojonegoro.

Warga sekitar hanya mengetahui wisata yang ada di desanya saja, sedangkan wisata seperti GoFun, kebun belimbing, jambu kristal sentra batik, dan sebagainya tidak tahu.

“Pengalaman itu jadi sinyal bagi saya dan kawan-kawan peserta Kange Yune lainnya, bahwa tugas kita sangat berat, sebab menjadi seorang duta wisata perlu memberikan wawasan dan pengetahuan kepada seluruh masyarakat Bojonegoro,” jelas gadis kelahiran 11 Juni 1997 itu.

Mahasiswi Stikosa- AWS Surabaya itu merasa bahwa perlunya memerhatikan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Aneh rasanya, ketika warga Bojonegoro asli ternyata tidak mengenal pariwisata Bojonegoro.

Baca Juga :  Semangat Menjaring Atlet Lari

Sehingga, apabila akarnya sudah kuat, ketika mengenalkan pariwisata Bojonegoro ke luar daerah mampu lebih maksimal.

“Pengalaman itu mengajarkanku menghargai banyak hal bahwa masih ada saudara-saudara kita di Bojonegoro yang kurang beruntung, sehingga alangkah baiknya kita bisa mengulurkan tangan bagi mereka,” ucapnya.

Arin yang sedang menikmati liburan semester, dia menyibukkan diri mempersiapkan untuk maju Raka Raki Jawa Timur mewakili Bojonegoro.

Jadi, sehari-hari biasanya di Disbudpar Bojonegoro  latihan menari, public speaking, presentasi, belajar materi wisata dan budaya.

“Tetapi, selain kuliah dan sibuk seputar Raka Raki, saya juga freelance model, MC, EO, menyanyi, reporter,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/